Akhirnya Kamu Memaafkan

Sabian duduk tak tenang di balik kemudi mobilnya yang tengah terparkir rapi di depan satu rumah yang bangunannya tampak sederhana, namun cukup luas. Rumah itu tak lain adalah tempat tinggal Bianca—sebuah rumah sewa di kawasan yang dekat dari kampus mereka, ramai dengan lalu lalang kendaraan dan suara klakson yang sesekali memecah keheningan sore.

Cukup lama Sabian menunggu. Ia melirik jam tangannya; sudah hampir satu jam sejak ia tiba di sini namun, Yayuk—sahabat Bianca yang juga menjadi perantara mereka kali, tak kunjung keluar dan membawa Bianca bersamanya.

Sabian menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan pikirannya yang kini sudah berlarian ke mana-mana. Kekhawatiran mulai merayap dalam benaknya. Bagaimana kalau Bianca lagi-lagi menolak untuk bertemu dengannya? Bagaimana kalau kali ini, ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Perasaan bersalah yang belakangan ini ia pendam mulai bergolak, bercampur dengan penyesalan yang dalam. Ia ingat betapa bodohnya ia malam itu, ketika semuanya berantakan hanya karena satu keputusan impulsif yang ia buat.

Sabian mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya, seolah mencoba menghapus rasa frustasi yang menekannya. Rambutnya yang semula rapi kini sedikit acak-acakan, mencerminkan kekacauan di dalam dirinya.

Entah, harus bagaimana lagi, pikirnya.

Sejauh ini, ia sudah mencoba banyak cara untuk mendekati Bianca kembali. Telepon tetap tak diangkat, pesan pun jarang dibalas. Dan, yang lebih sialnya lagi, Zaid, sahabat karibnya yang selalu memiliki solusi cerdas untuk setiap masalah, kali ini memilih angkat tangan. Kendati begitu, Sabian paham, Zaid juga sempat sama kesalnya seperti Bianca—bisa dimaafkan saja sudah syukur.

Hanya Yayuk harapan terakhir yang Sabian miliki. Tapi sekarang, jika bahkan meminta bantuan Yayuk tak membuahkan hasil, mungkin ia harus pasrah. Mungkin ia harus meratapi nasibnya dan menghormati keputusan Bianca, meski itu berarti kehilangan seseorang yang sempat ingin ia jadikan bagian penting dari hidupnya.

Udara di dalam mobil terasa dingin karena AC yang menyala penuh, tapi itu tak cukup untuk mendinginkan kegelisahan yang menyelimuti diri Sabian. Meski tangannya sedingin es, keningnya basah oleh keringat yang mengalir pelan—seolah tubuhnya tengah berperang dengan dirinya sendiri.

Sambil menunggu, Sabian berkali-kali menatap layar ponselnya dengan harapan, ada pesan dari Yayuk yang memberikan kejelasan. Namun nahas, tak ada notifikasi baru yang ia dapat dari perempuan itu.

Tatkala Sabian masih sibuk dengan ponsel dan kecemasannya, tiba-tiba saja, dari ekor matanya, ia menangkap gerakan di depan rumah itu. Usut punya usut, Yayuk telah keluar, dan tangannya menuntun seseorang yang tak lain adalah Bianca.

Sabian membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin. Ia tak percaya dengan mata sendiri. Dengan apa yang ia lihat dari dalam mobilnya saat ini. Setelah berhari-hari mencoba, akhirnya Bianca bersedia menemuinya. Akhirnya ia bisa melihat Bianca lagi. Wajahnya yang biasanya cerah, kini tampak lesu, langkahnya malas dan penuh paksaan, seolah ia dipaksa untuk keluar. Tak lama kemudian, Yayuk, dengan senyumnya yang khas—campuran antara nakal dan penyayang—membuka pintu penumpang depan mobil Sabian. “Maaf ya lama. Biancanya siap-siap sek, ben ketok ayu,” katanya sambil membantu Bianca duduk di samping Sabian. Sementara itu, Bianca tampak pasrah, tubuhnya menurut saja tanpa protes secara verbal.

Sabian hanya bisa manggut-manggut, sebab kata-kata seolah masih lenyap dari mulutnya. Kendati begitu, tangan kanannya hampir saja meraih sabuk pengaman untuk memasangkannya pada Bianca, namun Yayuk lebih cepat. Gerakannya lembut, seperti seorang ibu yang mengurus anaknya.

“Nah, wes siap, teman-temanku. Tiati yo nggowo mobil e, Sab,” tambah Yayuk dengan senyum culas yang membuat Sabian sedikit rileks. Ia tahu Yayuk sedang berusaha mencairkan suasana.

“Loh, elo gak ikut?” tanya Bianca dengan nada penasaran, ia bahkan menleh sempurna ke arah Yayuk.

Yayuk hanya menggelengkan kepala, cengengesan tanpa kata-kata, lalu menutup pintu mobil dengan pelan. Seolah tak berkenan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Meninggalkan Sabian dan Bianca—hanya mereka berdua di dalam mobil yang tiba-tiba terasa sempit. Suasana menjadi canggung, terlebih setelah eksistensi Yayuk benar-benar lenyap dari pandangan mereka. Seperti ada kabut tebal yang tengah menyelimuti kabin mobil itu. Maklum saja, dua orang yang saling menyukai tapi terjebak dalam konflik batin seperti ini pasti akan merasakan hal serupa.

Sabian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukan tindakan selanjutnya. Tanpa kata, ia menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudikannya pelan, meninggalkan halaman depan rumah Bianca itu dengan keheningan. Namun, Bianca yang tampaknya tak tahan dengan kesunyian yang menyiksa di antara mereka itu, langsung meraih tombol audio di dashboard mobil. Ponselnya langsung terhubung dengan perangkat dalam mobil Sabian, dan hal itu sontak membuat Sabian kembali mengingat saat-saat di mana hubungan mereka sedang baik-baik saja.

I'll probably be a waste of your time, but who knows?

Chances are I'll step out of line, but who knows?

Lately, you've set up in my mind

Yeah girl you, and I like that

Lagu “Who Knows” dari Daniel Caesar mulai mengalun pelan, suaranya lembut dan melankolis, tak terlalu kontras dengan atmosfer di antara mereka saat ini.

“Lo udah makan?” tanya Sabian tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh akan perhatian. Ia tak menoleh, tapi melalui pantulan kaca spion, ia bisa melihat wajah Bianca—wajah yang belakangan ini sangat ia rindukan.

Bianca menggeleng lemah, “Belum.”

Jawaban itu praktis membuat Sabian menarik napas panjang. Ia sudah menduganya. Sejak pertama melihat Bianca di depan rumahnya, ia perhatikan betapa Bianca tampak lebih kurus, massanya hilang, dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. Terlebih lagi, sehari yang lalu Yayuk sempat menceritakan seperti apa keadaan Bianca akhir-akhir ini. Rasa bersalah Sabian kembali menyeruak. Lebih kuat dari sebelumnya. Bukan hanya karena kejadian malam itu, tapi karena ia merasa bertanggung jawab atas kondisi Bianca sekarang.

“Kita makan, ya,” kata Sabian, suaranya tegas tapi tetap lembut. Tangan kirinya, yang kebetulan tak memegang setir, bergerak pelan ingin menyentuh pucuk kepala Bianca. Akan tetapi Bianca menghindar cepat, seolah tak siap.

Alih-alih merasa sedih atau kecewa karena penolakan itu, Sabian justru tersenyum tipis dan mengulangi gerakannya, kali ini lebih cepat. Membuat Bianca tak sempat menghindar untuk kedua kalinya. Tanpa Sabian sadari, detik itu juga air wajah Bianca berubah. Ia tampak melunak, lebih tenang, tatapannya teduh, dan sama sekali tak membuat gestur penolakan.

“Lo mau makan apa?”

Tanpa pikir panjang, Bianca langsung menjawab. “Yang anget, berkuah.”

“Ramen?” tanya Sabian, menebak selera Bianca yang ia kenal betul. Dan, tatkala ia kembali melihat pantulan sosok Bianca pada kaca, perempuan itu mengangguk pelan. Sabian praktis mengusap kepala Bianca lagi, gerakan itu seperti obat penenang bagi dirinya sendiri. “Makasih ya, udah mau keluar dan ikut gue....”

Kemudian, suara decihan terdengar lolos dari bibir Bianca. “Gue dipaksa Yayuk,” timpalnya dengan nada datar.

Mendengar itu, Sabian hanya manggut-manggut, tak terkejut. “Tapi, Bi... soal malam itu...” Sabian berdeham singkat, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur kata-kata. “Gue minta maaf karena pergi gitu aja sama perempuan yang lo gak mau gue sebut namanya,” tutur Sabian hati-hati. Ia takut kalau-kalau Bianca masih belum berkenan membahas perihal masalah ini.

“Iya, si Ajeng,” kata Bianca cepat.

Sabian langsung menoleh. “Kenapa malah lo yang sebut?”

“Ya, emang dia kan yang mau lo bahas sekarang ini?”

Sabian buru-buru menggeleng. “Gue bukan mau bahas dia, tapi mau ngelurusin kesalahpahaman di antara kita, Bi.” Sabian menarik napas panjang lagi, lalu kembali fokus pada jalanan di depan sana. Mobil mereka melaju pelan di tengah lalu lintas sore yang mulai padat. “Malam itu, tujuan gue bukan buat nganter dia pulang, tapi buat nyelesaiin apa yang tadinya belum selesai buat gue. Dulu, sama dia emang gak ada status apapun, tapi perasaan gue gak pernah palsu, dan dia selalu ngerespons itu dengan baik. Terus, tiba-tiba dia pergi.... Jujur, cara dia ninggalin gue waktu itu, cukup bikin gue susah terima kenyataan. Gue susah lupa, bukan karena gue masih suka sama dia. Tapi karena gue selalu bertanya-tanya, salah gue apa, sih? Apa konsekuensinya tulus suka sama orang, emang kayak gitu? Semenjak deket sama lo, gue selalu minta sama Tuhan supaya pemikiran itu ilang. Supaya gue bisa fokus ngejalanin apa yang kita berdua mulai. Dan, ya, malam itu, dia muncul di depan gue, Bi. Di antara banyaknya kebetulan, dan setelah bertahun-tahun lamanya, dia muncul di malam itu. Jadi gue pikir, Tuhan juga maunya gue bener-bener tutup buku lama gue dulu, sebelum mulai baca buku yang baru.”

Sabian tetap fokus mengemudi, tapi pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat betapa Ajeng pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Bertahun-tahun ia berusaha menghapus ingatan tentang perempuan itu, namun bayang-bayangnya selalu ada. Hingga saat Bianca muncul, dengan senyumnya yang hangat dan kepribadiannya yang membuat Sabian merasa hidup lagi.

“Sumpah demi Tuhan, Bi, malam itu gue cuman nganterin dia sambil buat closure di antara kita. Habis itu gue langsung balik ke kafe. Tapi lo sama yang lainnya udah gak ada,” lanjut Sabian, suaranya semakin mantap. Bianca hanya diam, tak merespons. Sabian meraih tangan Bianca dengan hati-hati. Tangan itu terasa dingin dan lemah, membuat hatinya semakin pilu.

“Gue suka, bahkan sayang sama lo. Entah sejak kapan, Bi. Dan, karena perasaan itu, gue jadi takut kalau suatu hari nanti gue nyakitin lo cuman karena bayangan dia masih terus ngikutin gue. Jadi, gue pilih selesaiin semuanya malam itu, sebelum kita jalan lebih jauh.” Di penghujung kalimatnya, Sabian menoleh sekilas ke Bianca. Yang ia lihat justru membuat hatinya teriris; mata Bianca berkaca-kaca, air matanya hampir tumpah. “Eh? Kenapa? Ada kata-kata gue yang salah lagi?” tanya Sabian panik.

Namun, Bianca cepat-cepat menggeleng.

“Terus kenapa?” ulang Sabian.

Detik itu, Bianca membalas genggaman tangannya dengan erat. “Pinggirin mobilnya,” pintanya tanpa basa-basi.

Sabian, yang masih dalam mode membujuk, lantas langsung menurut. Ia menepi ke pinggir jalan, memarkir mobilnya dengan tergesa. Tatkala mobil itu sudah terparkir sempurna, Sabian praktis melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh demi menghadap Bianca sepenuhnya.

Di sisi lain, Bianca juga melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya ia menghambur, memeluk Sabian tanpa kata. Ia hanya menangis di pundak Sabian, melepaskan segala emosi yang ia pendam sejak beberapa hari lalu.

“Sttt... kenapa, Bi?” tanya Sabian lembut, tangannya mengusap kepala dan punggung Bianca berkali-kali.

“Bi... kenapa?” Sabian mengulang pertanyaan.

Bianca semakin menggelamkan wajahnya. “Maaf juga, Mas.... Maaf, karena udah bikin lo keluarin tenaga ekstra buat bujuk gue... walaupun sebenernya lo gak begitu salah....”

Alih-alih terharu, usai mendengar perkataan Bianca itu, Sabian justru terkekeh pelan. “Gak begitu salah? Bilang gue salah banget juga gak apa-apa, Biancaaaa,” katanya gemas. “Dan lo gak seharusnya minta maaf juga. Ngebujuk lo itu pilihan gue, Bi.”

Bianca praktis mengerucutkan bibirnya. “Kalau gitu, gue boleh lanjut marah? Supaya bisa lo bujuk terus?”

Sabian kembali terkekeh. “Boleh, tapi ngambeknya break dulu, ya. Kita makan dulu.”