cakgrays

Bianca tak pernah bisa diam jika berada di dalam mobil Sabian. Ia akan selalu memutar lagu-lagu kesukaannya dan menyanyikan lirik dari agu yang ia putar itu dengan lantang di sebelah Sabian. Suaranya setia mengisi setiap sudut kosong di dalam mobil itu, menyesuaikan adrenalin tiap-tiap genre musik yang ia putar. Namun, ketika algoritma musik membawanya pada melodi piano yang melankolis, Bianca akan terdiam. Menatap ke luar kaca mobil seraya meresapi liriknya, membiarkan matanya berkaca-kaca, seakan-akan ia benar-benar dilanda kesedihan yang sama.

Sementara itu, di balik kemudi, Sabian berperan sebagai saksi yang paling tenang. Ia mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap pucuk kepala Bianca dengan gemas. Matanya tetap fokus ke arah jalan, meski hatinya sepenuhnya tertuju pada perempuan di sampingnya itu. Setiap kali ia melirik Bianca—melihatnya tertawa hingga matanya menyipit atau saat ia mengusap sudut matanya yang basah—Sabian merasakan sebuah getaran yang asing namun candu.

Sejak kemarin, mereka seperti sepasang muda-mudi yang sedang menari di atas sebuah hubungan yang sedikit membingungkan—tanpa adanya status, namun keduanya sudah saling memiliki dalam diam.

Kini, bagi Bianca sendiri, status adalah perkara nomor sekian. Terserah. Lagipula siapa yang gila akan status? Aku cuman tergila-gila sama Sabian! Kalimat itu sering bergema di kepalanya sebagai bentuk pertahanan diri. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan yang baru saja mereka pulihkan setelah drama kesalahpahaman beberapa hari lalu. Ia ingin menikmati setiap detik ini—wajah tampan Sabian yang sulit ditemukan pada orang lain, aroma tubuhnya, dan cara laki-laki itu selalu memperlakukannya seolah ia penting baginya.

Mobil Sabian melaju, membelah jalanan yang semakin lengang. Bianca, yang sibuk dengan camilan kripik di pangkuannya, sesekali menghisap ibu jarinya untuk membersihkan sisa bumbu gurih yang tertinggal. Ia baru tersadar bahwa perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan yang sudah-sudah.

“Kita ini mau ke mana, sih, Mas?” tanya Bianca, suaranya sedikit sengau karena sisa emosi dari lagu tadi.

Sabian tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan gestur yang selalu berhasil melumpuhkan logika Bianca; ia mengusap pucuk kepala perempuan itu dengan lembut, seolah-olah Bianca adalah anak kecil yang paling ia sayangi. “Kita mau ke pantai,” jawab Sabian pendek.

Detik itu juga, Bianca langsung berseru. “Serius!?” Matanya berbinar. Senyuman lebar langsung terukir di wajahnya, menciptakan garis tipis seperti kumis kucing di pipinya, yang jarang ia tunjukkan.

Namun, yang Bianca tidak tahu adalah, Sabian pernah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di pantai lagi, meski ia sangat menyukai tempat itu. Baginya, deburan ombak adalah suara patah hati. Pantai adalah penjara memori tentang Ajeng—tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal satu sama lain, tentang Sabian yang menyadari bahwa ia jatuh cinta pada seorang Ajeng dan ketenangannya, tentangnya yang berdiri di tepian air—meneriakkan nama perempuan itu, hanya untuk dibalas oleh kesunyian.

Tapi hari ini, Sabian memilih untuk berdamai dengan lukanya. Kebetulan Yayuk—sahabat Bianca—mengatakan padanya bahwa Bianca sering menonton drama Korea dan mendambakan momen romantis di tepi laut. Sebagai seseorang yang pada akhirnya merasakan jatuh cinta lagi, Sabian tak ingin Bianca hanya bisa mendamba. Ia ingin menjadi orang yang mewujudkan keinginan itu, meski ia harus berhadapan dengan hantu masa lalunya sendiri. Ia ingin ‘mencuci’ kenangan pantai yang pahit itu dengan tawa Bianca yang manis.

Mereka tiba saat matahari bersiap untuk tenggelam. Pantai itu sepi, tak seramai saat pagi hari—hanya ada suara deburan ombak yang berirama. Pasir putihnya masih menyimpan sisa panas matahari, terasa nyaman saat dipijak. Bianca segera berlari kecil menuju tepian air, sementara Sabian mengikuti dari belakang dengan tatapan hangat yang tak pernah lepas.

Kedua memilih duduk di atas pasir, tepat di mana ombak kecil sesekali menyapa ujung kaki mereka. Dalam keheningan, Sabian menghela napas panjang. Sudah sangat lama ia tak mampu menikmati keindahan alam yang satu ini. Langit perlahan memunculkan semburat merah keemasan di atas mereka. Menciptakan suasana yang begitu magis, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi mereka ruang.

“Yayuk yang kasih tahu ya, kalau gue lagi suka banget sama pantai?” tanya Bianca, memecah kesunyian yang penuh debar itu.

Mendapat pertanyaan itu, lantas Sabian mengangguk, sudut bibirnya terangkat. “Mulai sekarang, kalau ada hal lain yang lo suka... langsung kasih tau gue ya?” tutur Sabian dengan suaranya yang paling lembut. Mengalahkan lembutnya embusan angin yang menyapa permukaan kulit Bianca.

“Mas...,” panggil Bianca lirih.

“Bi....” Namun, Sabian juga melakukan hal yang sama di waktu yang sama.

Sontak, keduanya terkekeh, namun ada ketegangan emosional yang terasa kental. “Gue boleh ngomong duluan?” tanya Bianca dengan nada polos yang membuat Sabian tak tega untuk menolak.

“Boleh, dong,” jawab Sabian.

Bianca menatap hamparan laut yang tak berujung di depannya. Suaranya terdengar kelu, seolah setiap kata harus diperas keluar dari hatinya. “Masabi… semakin lama gue kenal sama lo… semakin banyak hari yang kita lewatin sama-sama, itu bikin gue semakin suka sama lo. Tapi, gue tau kalau lo mungkin belum ada rencana buat jalin relationship sama gue, even lo sendiri udah bilang kalau lo juga suka gue. That’s okay, sekarang, itu gak jadi masalah buat gue. Asalkan bisa ada di deket lo kayak gini, gue seneng.”

Kemudian, ia menoleh, menatap mata Sabian dengan penuh keberanian yang sebenarnya tengah ia paksakan. “Tapi nanti, kalau seandainya lo kenal seseorang yang bikin lo jauh lebih nyaman... tolong kasih tau gue jauh-jauh hari sebelum lo mau cabut, ya. Gue butuh waktu buat nata ulang hati gue. Jangan tiba-tiba buat jarak tanpa kejelasan, ya? Boleh, kan?”

Kalimat itu bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk penyerahan diri yang paling jujur, yang pernah Bianca lakukan. Seakan ia mengumumkan bahwa dirinya siap bahagia dan terluka, karena membiarkan sesuatu yang semu menjadi pusat hidupnya.

Sabian terdiam. Ia melihat ketakutan di mata Bianca—ketakutan yang sama dengan yang dulu pernah ia rasakan terhadap Ajeng. Namun kali ini, ia berada di posisi yang berbeda. Ia tidak lagi mengejar bayangan; ia sedang menggenggam realita yang jauh lebih indah.

“Kok ngeliatin gue kayak gitu, sih? Kenapa? Cringe, ya?” tanya Bianca, mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.

Namun, Sabian menggeleng cepat. Ia memutar tubuhnya, memposisikan diri sepenuhnya menghadap Bianca. “Sekarang boleh gantian gue yang ngomong?”

Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Bianca, Sabian langsung merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gelang cantik dengan liontin-liontin kecil yang berkilau lantaran terkena sisa cahaya matahari dan lampu yang mulai menyala. Ia meraih tangan Bianca yang terasa dingin karena angin laut.

“Setiap kali ada di deket lo, gue ngerasa tenang dan nyaman, Bi. Gak ada kekhawatiran yang gue rasain, kecuali khawatir kalau lo kenapa-kenapa. Lo bikin gue ngerasa kalau ‘pulang’ itu bukan cuma ke sebuah tempat, tapi bisa juga ke seseorang. Dan orang itu adalah lo. Jadi, gue mau lo jadi pacar gue, Bi,” ucap Sabian dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Bianca terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat gelang itu melingkar di pergelangan tangannya—seperti sebuah simbol pengikat yang selama ini ia anggap mustahil. Tanpa mampu berkata-kata, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, sementara pandangannya memburam seketika lantaran berkaca-kaca.

Melihat respons itu, Sabian lantas mengusap kepala Bianca dengan penuh kasih, lalu dengan sedikit candaan, ia menganggukkan kepala Bianca secara manual agar seolah-olah perempuan itu setuju. Namun, bukannya kesal, Bianca justru menghamburkan diri, memeluk Sabian begitu kuat hingga keduanya jatuh terguling di atas pasir pantai.

Tawa mereka pecah, beradu dengan suara deburan ombak. Di atas pasir itu, mereka saling mendekap, merasakan detak jantung satu sama lain yang berdegup dengan irama yang sama.

“Akhirnya, ya?” ledek Sabian di telinga Bianca.

“Iya! Akhirnya bisa pacaran sama Masabi!” seru Bianca dengan suara yang serak karena bahagia.

Namun, momen romantis itu tak berlangsung lama. Segera hancur berantakan tatkala sebuah suara menggelegar yang sama-sama mereka kenal, terdengar.

“OJO MESUM NENG TEMPAT UMUM, COK!” teriak Sudirman dengan toa alami di tenggorokannya.

Sabian dan Bianca sontak beringsut memisahkan diri, wajah mereka merah padam bukan karena sinar matahari, melainkan karena malu. Di sana, Zaid, Yayuk, dan Sudirman berdiri sambil bertepuk tangan heboh.

“Akhirnya my brother punya pacar!” seru Zaid, seraya berlari mendekat dan langsung memeluk Sabian, bersamaan dengan yang Yayuk menjerit-jerit bahagia sambil memeluk Bianca hingga mereka terguling di atas pasir.

Sore itu, di sebuah pantai—tempat yang Sabian pikir sebelumnya hanya dapat mengungkit luka, kini menjadi tempat bagi Sabian merayakan cinta barunya. Ia sadar, pantai tidak pernah salah; hanya saja dulu ia datang dengan orang yang salah. Dan sekarang, bersama Bianca, pantai adalah saksi bisu tentang sebuah buku lama yang akhirnya ditutup, dan sebuah buku baru yang lebih cerah yang baru saja ia mulai baca.

Flashback On

Malam itu, di dalam kabin mobil sedan hitam milik Sabian, keheningan terasa membelenggu. Atmosfernya sedikit berbeda dan udara yang ada di sana seakan-akan mampu mencekik pernapasan jika terlalu lama dihirup. Sabian mencengkeram kemudi dengan tangannya, sementara itu matanya menatap lurus ke depan—membelah jalanan yang cukup lengang.

Biasanya, mobil itu selalu dipenuhi oleh dentum dan melodi lagu yang dikurasi dengan begitu apik oleh seseorang, yang tak lain adalah Bianca. Kebetulan perempuan itu bisa disebut sebagai “pemilik” sah kursi penumpang depan di mobil Sabian. Ia adalah orang yang akan protes jika keadaan di kabin mobil terlalu hening, dan akan menyanyi sumbang di sepanjang perjalan yang mereka lakukan.

Namun, malam itu, tak ada eksistensi Bianca di sana. Sabian meninggalkannya di kafe, bersama Zaid dan teman-teman yang lain—begitu saja—hanya demi mengantarkan perempuan di sampingnya untuk pulang.

Ada secuil rasa bersalah yang menggerogoti benak Sabian. Ia meninggalkan Bianca tanpa penjelasan yang benar-benar lugas—hanya sebuah pamitan singkat untuk mengantar Ajeng pulang. Dan, sialnya itu terasa seperti sebuah pengkhianatan kecil yang ia lakukan secara sadar.

Kendati demikian, Sabian tahu betul, jika ia tidak nekat kala itu, maka hantu masa lalunya yang bernama Ajeng akan terus bersemayam di sudut kepalanya, tak akan pernah benar-benar pergi sebab, Sabian masih membutuhkan sebuah kata penutup. Penutup kisah mereka.

Sabian menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar begitu keras di tengah kesunyian di dalam mobil itu. Meski sempat ragu, pada akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk membuka percakapan. “Gimana... kabar?” tanya Sabian akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi mengepung dirinya dan Ajeng.

Ia tidak menoleh, namun melalui ekor matanya, ia dapat melihat bagaimana Ajeng sedikit tersentak sebelum akhirnya sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

“Kabar aku baik, Sab,” sahut Ajeng lembut. Suaranya terdengar masih sama—masih tenang dan terjaga, tipikal suara yang dulunya selalu berhasil membuat Sabian remaja bertekuk lutut dan mendambakannya.

Sabian mengangguk perlahan—tanda paham. Kemudian, jemarinya praktis mengetuk-ketuk kemudi. “Keluarga, gimana?” tanyanya lagi, mencoba memperdalam topik, sekaligus mengalisa keadaan.

Akan tetapi, kali ini suasana berubah. Sabian tak menangkap lagi sebuah senyuman di wajah Ajeng. Perempuan itu justru memalingkan wajah ke arah jendela, menatap deretan ruko-ruko di pinggir jalan dengan tatapan kosong.

“Aku gak tau,” jawab Ajeng lirih. “Dari kuliah, sampai detik ini aku milih buat hidup sendiri. Aku udah lama gak tau kabar tentang keluargaku lagi.”

Mendengar pengakuan itu, Sabian lantas mengernyit. Ia sedikit terkejut. “Dari kuliah, lo di sini?” tanyanya spontan. Sabian menyadari ada perubahan dalam cara bicaranya kepada Ajeng. Ia kini lebih nyaman menggunakan kata ‘lo’ dan ‘gue’. Sebuah jarak linguistik yang secara tidak sadar ia ciptakan untuk menegaskan bahwa ia bukan lagi seorang remaja yang dulu sering mengirim pesan penuh harap pada Ajeng.

“Enggak,” tutur Ajeng. “Waktu kuliah, masih di kota yang sama kayak keluarga. Begitu kerja, baru pindah. Tapi mungkin udah sekitar satu tahun setengah aku di sini.” Ajeng kemudian membetulkan posisi duduknya, sedikit menyerong ke arah Sabian. “Kamu sendiri, sekarang di sini ngapain?”

“Gue masih kuliah,” jawab Sabian singkat.

Jawaban itu sontak membuat Ajeng menegakkan tubuhnya. Matanya membulat tak percaya. “Kamu masih kuliah!? Gapyear? Atau gimana?” tanyanya penuh rasa penasaran. Wajar saja jika ia terkejut; pasalnya mereka berdua berada di usia yang sama, dan di saat Ajeng sudah mulai menapaki karier profesional, Sabian masih berstatus sebagai mahasiswa.

Sabian terkekeh pelan. “Gue pindah univ di tengah jalan, dan ganti jurusan juga.”

“Kenapa!? Salah pilih?”

Lantas, tawa Sabian mengudara. Bukan karena pertanyaan Ajeng, melainkan karena ia teringat akan dirinya dan Zaid yang sepakat mengambil keputusan impulsif itu hanya demi menikmati masa muda, sedikit lebih lama. “Bukan salah pilih. Kebetulan iseng aja, terus Zaid juga punya visi yang sama. Kita ngerasa cukup kewalahan dan pengen lebih menikmati hidup sebagai anak muda aja... sebelum bener-bener jadi serius dan mulai masuk ke dunia kerja yang lo jalanin sekarang.”

Sabian melirik Ajeng sepersekian detik. Perempuan itu tampak manggut-manggut, meski ekspresi heran belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Ajeng kemudian menyalakan layar ponselnya, menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap cantik. Ada keraguan yang terbaca dari gerak-geriknya.

“Sab...” panggil Ajeng dengan nada yang sedikit terbata. “Mau tukeran nomor gak? Siapa tau kita bisa sesekali ngopi lagi di tempat tadi. Aku gak punya temen di sini.”

Mobil itu melambat saat menemui tikungan tajam. Sabian tidak langsung menjawab. Konsentrasinya seolah terbagi antara jalanan yang menikung dan gejolak di dalam dadanya. Tawaran Ajeng terdengar sederhana, namun bagi Sabian, itu adalah pintu menuju sebuah siklus yang ia tahu tidak seharusnya ia masuki lagi.

“Sebenernya,” kata Sabian, suaranya kini merendah, hampir menyerupai bisikan namun tetap tegas. “Niat gue nganterin lo malem ini karena mau ngelurusin sesuatu.”

“Apa?” tanya Ajeng, cepat.

Sabian melirik pantulan wajah Ajeng melalui kaca, seraya menghela napas panjang. Perasaan campur aduk itu kini mencapai puncaknya. “Waktu itu... waktu kita sekolah... waktu gue selalu ungkapin betapa sukanya gue ke lo, apa perasaan yang lo rasain?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar. Pertanyaan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun, yang dulu sering membuatnya tak bisa tidur, dan terus mempertanyakan apakah semua perhatian yang ia berikan hanyalah angin lalu bagi Ajeng.

Namun, jawaban yang ia terima justru sebuah antiklimaks. Ajeng tidak tampak tersentuh atau merasa bersalah atas kepergiannya yang meninggalkan luka bagi Sabian. Ia justru melempar balik pertanyaan dengan nada yang ringan. “Buat apa, deh, kita bahas hal yang udah lama berlalu?”

Mendengar itu, Sabian terdiam. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia mengangguk seketika, sebuah gerakan kepala yang penuh dengan pengertian pahit. Dalam satu kalimat itu, Sabian mendapatkan jawabannya. Ia tidak butuh penjelasan panjang lebar tentang alasan Ajeng tidak pernah menghubunginya lagi setelah pergi, atau mengapa jauh sebelum itu Ajeng seolah terus menggantung perasaannya. Jawaban Ajeng membuktikan bahwa bagi perempuan itu, semua perjuangan Sabian dulu hanyalah momen kecil yang tidak penting untuk diingat.

Detik itu juga, bayangan Bianca melintas di benaknya. Bianca yang cerewet, Bianca yang selalu tahu penjelasan apa yang ingin ia dengar, Bianca yang memberikan kepastian tanpa perlu diminta. Bianca adalah penawar bagi luka-luka lama yang tak kunjung sembuh, dan Ajeng hanyalah pengingat bahwa ia pernah menjatuhkan hati pada orang yang salah.

“Oke, Jeng,” sahut Sabian singkat.

Sudah seperti itu, Ajeng tetap seakan tak merasakan perubahan suasana hati Sabian barang sedikit pun. Ia justru kembali ke topik sebelumnya, seakan-akan pertanyaan Sabian sebelumnya, hanyalah gangguan kecil. “Jadi, gimana? Nomor kamu berapa?”

Sabian menarik napas dalam, memantapkan hatinya. “Gue rasa, ini harus jadi terakhir kalinya kita ngobrol. Selama ini, gue selalu kepikiran sama cinta pertama gue yang lumayan bikin gue ngerasa kehilangan tanpa closure. Tapi, sekarang enggak lagi. Ini udah waktunya gue buat tutup buku, dan kebetulan gue punya buku baru yang bener-bener pengen gue baca....”

“Sab...” Ajeng mencoba memotong, wajahnya kini menunjukkan kebingungan yang nyata.

“Gue harap, lo bisa nemuin beberapa temen yang cocok sama lo di kota ini,” lanjut Sabian tanpa memberi ruang bagi Ajeng untuk berargumen. “Kebetulan gak lama lagi gue juga udah harus balik ke Jakarta,” timpalnya.

Mungkin kenyataan bahwa Sabian menolaknya secara halus namun sangat tegas membuat Ajeng terdiam. Ada keheningan baru yang tercipta—bukan lagi keheningan yang penuh tanya, melainkan keheningan yang menandakan sebuah perpisahan untuk selamanya.

“Ini arah rumah lo ke kanan, kan?” tanya Sabian saat mereka mendekati sebuah persimpangan sesuai arahan peta digital.

Mendengar pertanyaan itu, Ajeng praktis menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kontak mata. “Iya, sesuai sama yang ditunjukin sama mapsnya,” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar—namun, Sabian sudah tak peduli lagi.

Sabian duduk tak tenang di balik kemudi mobilnya yang tengah terparkir rapi di depan satu rumah yang bangunannya tampak sederhana, namun cukup luas. Rumah itu tak lain adalah tempat tinggal Bianca—sebuah rumah sewa di kawasan yang dekat dari kampus mereka, ramai dengan lalu lalang kendaraan dan suara klakson yang sesekali memecah keheningan sore.

Cukup lama Sabian menunggu. Ia melirik jam tangannya; sudah hampir satu jam sejak ia tiba di sini namun, Yayuk—sahabat Bianca yang juga menjadi perantara mereka kali, tak kunjung keluar dan membawa Bianca bersamanya.

Sabian menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan pikirannya yang kini sudah berlarian ke mana-mana. Kekhawatiran mulai merayap dalam benaknya. Bagaimana kalau Bianca lagi-lagi menolak untuk bertemu dengannya? Bagaimana kalau kali ini, ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Perasaan bersalah yang belakangan ini ia pendam mulai bergolak, bercampur dengan penyesalan yang dalam. Ia ingat betapa bodohnya ia malam itu, ketika semuanya berantakan hanya karena satu keputusan impulsif yang ia buat.

Sabian mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya, seolah mencoba menghapus rasa frustasi yang menekannya. Rambutnya yang semula rapi kini sedikit acak-acakan, mencerminkan kekacauan di dalam dirinya.

Entah, harus bagaimana lagi, pikirnya.

Sejauh ini, ia sudah mencoba banyak cara untuk mendekati Bianca kembali. Telepon tetap tak diangkat, pesan pun jarang dibalas. Dan, yang lebih sialnya lagi, Zaid, sahabat karibnya yang selalu memiliki solusi cerdas untuk setiap masalah, kali ini memilih angkat tangan. Kendati begitu, Sabian paham, Zaid juga sempat sama kesalnya seperti Bianca—bisa dimaafkan saja sudah syukur.

Hanya Yayuk harapan terakhir yang Sabian miliki. Tapi sekarang, jika bahkan meminta bantuan Yayuk tak membuahkan hasil, mungkin ia harus pasrah. Mungkin ia harus meratapi nasibnya dan menghormati keputusan Bianca, meski itu berarti kehilangan seseorang yang sempat ingin ia jadikan bagian penting dari hidupnya.

Udara di dalam mobil terasa dingin karena AC yang menyala penuh, tapi itu tak cukup untuk mendinginkan kegelisahan yang menyelimuti diri Sabian. Meski tangannya sedingin es, keningnya basah oleh keringat yang mengalir pelan—seolah tubuhnya tengah berperang dengan dirinya sendiri.

Sambil menunggu, Sabian berkali-kali menatap layar ponselnya dengan harapan, ada pesan dari Yayuk yang memberikan kejelasan. Namun nahas, tak ada notifikasi baru yang ia dapat dari perempuan itu.

Tatkala Sabian masih sibuk dengan ponsel dan kecemasannya, tiba-tiba saja, dari ekor matanya, ia menangkap gerakan di depan rumah itu. Usut punya usut, Yayuk telah keluar, dan tangannya menuntun seseorang yang tak lain adalah Bianca.

Sabian membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin. Ia tak percaya dengan mata sendiri. Dengan apa yang ia lihat dari dalam mobilnya saat ini. Setelah berhari-hari mencoba, akhirnya Bianca bersedia menemuinya. Akhirnya ia bisa melihat Bianca lagi. Wajahnya yang biasanya cerah, kini tampak lesu, langkahnya malas dan penuh paksaan, seolah ia dipaksa untuk keluar. Tak lama kemudian, Yayuk, dengan senyumnya yang khas—campuran antara nakal dan penyayang—membuka pintu penumpang depan mobil Sabian. “Maaf ya lama. Biancanya siap-siap sek, ben ketok ayu,” katanya sambil membantu Bianca duduk di samping Sabian. Sementara itu, Bianca tampak pasrah, tubuhnya menurut saja tanpa protes secara verbal.

Sabian hanya bisa manggut-manggut, sebab kata-kata seolah masih lenyap dari mulutnya. Kendati begitu, tangan kanannya hampir saja meraih sabuk pengaman untuk memasangkannya pada Bianca, namun Yayuk lebih cepat. Gerakannya lembut, seperti seorang ibu yang mengurus anaknya.

“Nah, wes siap, teman-temanku. Tiati yo nggowo mobil e, Sab,” tambah Yayuk dengan senyum culas yang membuat Sabian sedikit rileks. Ia tahu Yayuk sedang berusaha mencairkan suasana.

“Loh, elo gak ikut?” tanya Bianca dengan nada penasaran, ia bahkan menleh sempurna ke arah Yayuk.

Yayuk hanya menggelengkan kepala, cengengesan tanpa kata-kata, lalu menutup pintu mobil dengan pelan. Seolah tak berkenan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Meninggalkan Sabian dan Bianca—hanya mereka berdua di dalam mobil yang tiba-tiba terasa sempit. Suasana menjadi canggung, terlebih setelah eksistensi Yayuk benar-benar lenyap dari pandangan mereka. Seperti ada kabut tebal yang tengah menyelimuti kabin mobil itu. Maklum saja, dua orang yang saling menyukai tapi terjebak dalam konflik batin seperti ini pasti akan merasakan hal serupa.

Sabian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukan tindakan selanjutnya. Tanpa kata, ia menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudikannya pelan, meninggalkan halaman depan rumah Bianca itu dengan keheningan. Namun, Bianca yang tampaknya tak tahan dengan kesunyian yang menyiksa di antara mereka itu, langsung meraih tombol audio di dashboard mobil. Ponselnya langsung terhubung dengan perangkat dalam mobil Sabian, dan hal itu sontak membuat Sabian kembali mengingat saat-saat di mana hubungan mereka sedang baik-baik saja.

I'll probably be a waste of your time, but who knows?

Chances are I'll step out of line, but who knows?

Lately, you've set up in my mind

Yeah girl you, and I like that

Lagu “Who Knows” dari Daniel Caesar mulai mengalun pelan, suaranya lembut dan melankolis, tak terlalu kontras dengan atmosfer di antara mereka saat ini.

“Lo udah makan?” tanya Sabian tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh akan perhatian. Ia tak menoleh, tapi melalui pantulan kaca spion, ia bisa melihat wajah Bianca—wajah yang belakangan ini sangat ia rindukan.

Bianca menggeleng lemah, “Belum.”

Jawaban itu praktis membuat Sabian menarik napas panjang. Ia sudah menduganya. Sejak pertama melihat Bianca di depan rumahnya, ia perhatikan betapa Bianca tampak lebih kurus, massanya hilang, dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. Terlebih lagi, sehari yang lalu Yayuk sempat menceritakan seperti apa keadaan Bianca akhir-akhir ini. Rasa bersalah Sabian kembali menyeruak. Lebih kuat dari sebelumnya. Bukan hanya karena kejadian malam itu, tapi karena ia merasa bertanggung jawab atas kondisi Bianca sekarang.

“Kita makan, ya,” kata Sabian, suaranya tegas tapi tetap lembut. Tangan kirinya, yang kebetulan tak memegang setir, bergerak pelan ingin menyentuh pucuk kepala Bianca. Akan tetapi Bianca menghindar cepat, seolah tak siap.

Alih-alih merasa sedih atau kecewa karena penolakan itu, Sabian justru tersenyum tipis dan mengulangi gerakannya, kali ini lebih cepat. Membuat Bianca tak sempat menghindar untuk kedua kalinya. Tanpa Sabian sadari, detik itu juga air wajah Bianca berubah. Ia tampak melunak, lebih tenang, tatapannya teduh, dan sama sekali tak membuat gestur penolakan.

“Lo mau makan apa?”

Tanpa pikir panjang, Bianca langsung menjawab. “Yang anget, berkuah.”

“Ramen?” tanya Sabian, menebak selera Bianca yang ia kenal betul. Dan, tatkala ia kembali melihat pantulan sosok Bianca pada kaca, perempuan itu mengangguk pelan. Sabian praktis mengusap kepala Bianca lagi, gerakan itu seperti obat penenang bagi dirinya sendiri. “Makasih ya, udah mau keluar dan ikut gue....”

Kemudian, suara decihan terdengar lolos dari bibir Bianca. “Gue dipaksa Yayuk,” timpalnya dengan nada datar.

Mendengar itu, Sabian hanya manggut-manggut, tak terkejut. “Tapi, Bi... soal malam itu...” Sabian berdeham singkat, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur kata-kata. “Gue minta maaf karena pergi gitu aja sama perempuan yang lo gak mau gue sebut namanya,” tutur Sabian hati-hati. Ia takut kalau-kalau Bianca masih belum berkenan membahas perihal masalah ini.

“Iya, si Ajeng,” kata Bianca cepat.

Sabian langsung menoleh. “Kenapa malah lo yang sebut?”

“Ya, emang dia kan yang mau lo bahas sekarang ini?”

Sabian buru-buru menggeleng. “Gue bukan mau bahas dia, tapi mau ngelurusin kesalahpahaman di antara kita, Bi.” Sabian menarik napas panjang lagi, lalu kembali fokus pada jalanan di depan sana. Mobil mereka melaju pelan di tengah lalu lintas sore yang mulai padat. “Malam itu, tujuan gue bukan buat nganter dia pulang, tapi buat nyelesaiin apa yang tadinya belum selesai buat gue. Dulu, sama dia emang gak ada status apapun, tapi perasaan gue gak pernah palsu, dan dia selalu ngerespons itu dengan baik. Terus, tiba-tiba dia pergi.... Jujur, cara dia ninggalin gue waktu itu, cukup bikin gue susah terima kenyataan. Gue susah lupa, bukan karena gue masih suka sama dia. Tapi karena gue selalu bertanya-tanya, salah gue apa, sih? Apa konsekuensinya tulus suka sama orang, emang kayak gitu? Semenjak deket sama lo, gue selalu minta sama Tuhan supaya pemikiran itu ilang. Supaya gue bisa fokus ngejalanin apa yang kita berdua mulai. Dan, ya, malam itu, dia muncul di depan gue, Bi. Di antara banyaknya kebetulan, dan setelah bertahun-tahun lamanya, dia muncul di malam itu. Jadi gue pikir, Tuhan juga maunya gue bener-bener tutup buku lama gue dulu, sebelum mulai baca buku yang baru.”

Sabian tetap fokus mengemudi, tapi pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat betapa Ajeng pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Bertahun-tahun ia berusaha menghapus ingatan tentang perempuan itu, namun bayang-bayangnya selalu ada. Hingga saat Bianca muncul, dengan senyumnya yang hangat dan kepribadiannya yang membuat Sabian merasa hidup lagi.

“Sumpah demi Tuhan, Bi, malam itu gue cuman nganterin dia sambil buat closure di antara kita. Habis itu gue langsung balik ke kafe. Tapi lo sama yang lainnya udah gak ada,” lanjut Sabian, suaranya semakin mantap. Bianca hanya diam, tak merespons. Sabian meraih tangan Bianca dengan hati-hati. Tangan itu terasa dingin dan lemah, membuat hatinya semakin pilu.

“Gue suka, bahkan sayang sama lo. Entah sejak kapan, Bi. Dan, karena perasaan itu, gue jadi takut kalau suatu hari nanti gue nyakitin lo cuman karena bayangan dia masih terus ngikutin gue. Jadi, gue pilih selesaiin semuanya malam itu, sebelum kita jalan lebih jauh.” Di penghujung kalimatnya, Sabian menoleh sekilas ke Bianca. Yang ia lihat justru membuat hatinya teriris; mata Bianca berkaca-kaca, air matanya hampir tumpah. “Eh? Kenapa? Ada kata-kata gue yang salah lagi?” tanya Sabian panik.

Namun, Bianca cepat-cepat menggeleng.

“Terus kenapa?” ulang Sabian.

Detik itu, Bianca membalas genggaman tangannya dengan erat. “Pinggirin mobilnya,” pintanya tanpa basa-basi.

Sabian, yang masih dalam mode membujuk, lantas langsung menurut. Ia menepi ke pinggir jalan, memarkir mobilnya dengan tergesa. Tatkala mobil itu sudah terparkir sempurna, Sabian praktis melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh demi menghadap Bianca sepenuhnya.

Di sisi lain, Bianca juga melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya ia menghambur, memeluk Sabian tanpa kata. Ia hanya menangis di pundak Sabian, melepaskan segala emosi yang ia pendam sejak beberapa hari lalu.

“Sttt... kenapa, Bi?” tanya Sabian lembut, tangannya mengusap kepala dan punggung Bianca berkali-kali.

“Bi... kenapa?” Sabian mengulang pertanyaan.

Bianca semakin menggelamkan wajahnya. “Maaf juga, Mas.... Maaf, karena udah bikin lo keluarin tenaga ekstra buat bujuk gue... walaupun sebenernya lo gak begitu salah....”

Alih-alih terharu, usai mendengar perkataan Bianca itu, Sabian justru terkekeh pelan. “Gak begitu salah? Bilang gue salah banget juga gak apa-apa, Biancaaaa,” katanya gemas. “Dan lo gak seharusnya minta maaf juga. Ngebujuk lo itu pilihan gue, Bi.”

Bianca praktis mengerucutkan bibirnya. “Kalau gitu, gue boleh lanjut marah? Supaya bisa lo bujuk terus?”

Sabian kembali terkekeh. “Boleh, tapi ngambeknya break dulu, ya. Kita makan dulu.”

Sabian membuka mata perlahan-lahan, sembari meregangkan tubuh. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15. Biasanya, di pagi hari seperti ini, kosan yang ia huni bersama Zaid dan Sudirman selalu ramai dengan suara tawa, candaan kasar, atau setidaknya obrolan ringan di sela-sela aktivitas pagi. Akan tetapi hari ini, suasana masih sama seperti kemarin dan dua hari lalu. Hening. Hanya ada suara televisi yang sedang menyiarkan berita pagi secara samar-samar.

Sabian beranjak dari tempat tidurnya, seraya membuka pintu kamar. Dari ambang pintu itu ia dapat melihat punggung Zaid dan Sudirman yang duduk berdampingan di atas sofa, di hadapan televisi. Keduanya tampak asyik, sesekali Zaid mengomentari isu perselingkuhan seorang selebriti yang baru saja terkuak, sementara Sudirman akan menimpali dengan energi yang sama atau hanya tertawa kecil. Tak ada yang menoleh ke arahnya sedikitpun meski pintu kamar yang sempat ia buka itu menimbulkan suara yang cukup untuk mengusik telinga.

Sabian menghela napas panjang. Ia tahu pasti penyebab kekesalan kedua kawannya itu. Dan, ia berusaha acuh sejak awal. Namun, hari berlalu, dan diabaikan dengan orang yang tinggal bersama dengannya itu mulai terasa menyiksa untuk dirinya sendiri.

Lantas, Sabian berniat untuk bergabung dengan mereka, duduk di sofa, dan ikut menonton televisi sembari berusaha untuk mencairkan suasana di antara ia, Zaid, serta Sudirman.

Perlahan tapi pasti, kakinya mulai melangkah tanpa suara. Sabian sempat merasa sedikit cemas, hingga menggigit bibirnya sendiri.

“Ada berita apa hari ini?” tanya Sabian. Nada bicaranya riang, tepat saat ia muncul di hadapan Zaid dan Sudirman dari arah samping.

Namun, tatkala bokongnya baru saja hampir ikut mendarat di atas sofa yang empuk itu, tiba-tiba Zaid berdiri dengan cepat. “Eh, gue ke WC dulu, Dil,” katanya datar, tanpa menatap Sabian sama sekali, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

Hampir bersamaan, Sudirman juga ikut berdiri. Namun, tanpa mengatakan apapun, ia langsung menuju dapur kecil di sudut kosan.

Mendapat reaksinya yang demikian, Sabian praktis terdiam di tempatnya, bokongnya akhirnya mendarat di sofa dengan pelan. Televisi masih menyala, suara penyiar berita seakan bergema di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih luas. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Zaid tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sudirman juga tak kembali ke sofa. Sabian melirik ke arah dapur—Sudirman tengah menikmati nasi goreng yang sepertinya sisa semalam—ia duduk sendirian di meja makan kecil.

Dengan perasaan yang sejujurnya masih tak nyaman, Sabian memutuskan untuk menghampiri Sudirman dan ikut sarapan. Ia mengambil piring, menyendok nasi dari magic com yang selalu hangat, lalu membuat telur ceplok dengan terburu-buru.

Tatkala makanannya siap, Sabian langsung mendudukan dirinya di seberang Sudirman, sembari berusaha tersenyum. “Si Zaid udah makan duluan? Kok udah buang air aja dia?” tanyanya basa-basi.

Sudirman hanya mengedikkan bahunya. Tak ada jawaban verbal yang ia lontarkan. Dan gestur itu kontan saja membuat Sabian menggigit bagian dalam pipinya.

Sabian mulai makan, tanpa ingin mendalami perasaannya sendiri. Akan tetapi, baru beberapa suap, Sudirman tampak sudah menghabiskan isi piringnya. Ia pun bergegas berdiri, membawa piring itu wastafel untuk mencucinya bersama dengan piring-piring lain.

Sabian lantas merasa dadanya yang sesak sembari menelan makanan. Ini sudah terlalu jauh. Upaya Zaid dan Sudirman untuk mengabaikannya sudah terlalu jauh. Sebagai golongan orang yang sangat perasa, tentu saja batinnya sudah gelisah bukan main. Lantas, Sabian buru-buru menghabiskan makanannya. Ia bahkan hampir tersedak karena terlalu cepat. Dan, piringnya yang sudah kosong, secara teknis menjadi alasan bagus untuk mendekati Sudirman, lagi.

Sabian beranjak, berjalan tanpa suara, ke arah wastafel. Jantungnya berdegup kencang. Ia sebenarnya merasa sangat was-was. Takut kalau-kalau salah bicara, atau tindakannya kali ini justru membuat Sudirman semakin jengah.

Sabian berdeham singkat, seraya menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya dan mencoba santai. “Ngapain, Dil?”

Sudirman tak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke samping—tepat di mana Sabian tengah berdiri. Tatapannya dingin, dan sinis. “Bongkar motor! Gak ndelok ta iki?!” jawabnya ketus, menggunakan logat jawabnya yang sangat kental.

Detik kemudian, Sabian cengengesan, meski di dalam hatinya semakin gelisah. “Anu, nitip satu, Dil,” katanya seraya meletakkan piringnya di wastafel dengan harapan Sudirman akan melanjutkan mencuci miliknya juga—seperti biasa.

Tapi tidak. Sudirman justru langsung memutar keran, membasuh tangannya cepat-cepat, lalu mengeringkannya dengan lap gantung sebelum akhirnya berbalik badan. Jangankan piring Sabian, piring-piring yang sudah sempat ia sabuni saja, ia tinggalkan tanpa pikir panjang.

“Dil!” seru Sabian, namun suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. Membuat langkah Sudirman terhenti seketika.

Sabian menelan ludah. “Lo sama Zaid kenapa, sih?” tanyanya, meski jauh di lubuk hati Sabian yang paling dalam, ia sudah tahu jawabannya.

Semua ini karena malam itu. Malam terakhir saat mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe di pinggir kota. Malam saat ia pergi meninggalkan kawan-kawannya, bahkan juga Bianca, hanya demi seorang perempuan dari masa lalunya. Diajeng Pramesti.

Sejak dulu, Zaid memang kurang menyukai perempuan itu. Terlebih lagi setelah ia seperti meninggalkan sebuah trauma dalam hal percintaan di kehidupan Sabian. Sementara Sudirman—ia sepupu Bianca. Bianca yang akhir-akhir ini sudah sangat dekat dengan Sabian, nyaris selayaknya sepasang kekasih. Sebagai seseorang yang menyayangi sepupunya, Sudirman mungkin tak terima kalau Sabian masih “terbelenggu” masa lalu, apalagi sampai memilih Ajeng lagi di hadapan Bianca.

Sudirman tak menjawab. Ia hanya diam, namun Sabian dapat melihat tatkala tangan kawannya itu mulai mengepal perlahan.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi yang sudah cukup lama tertutup—terbuka lebar dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Zaid keluar dengan wajah kesalnya.

“Kita gak kenapa-kenapa! Harusnya lo tanya itu ke diri lo sendiri!” cetus Zaid, sembari menunjuk Sabian.

Sabian langsung terdiam.

Lalu, Sudirman yang secara teknis berada di hadapannya, menghela napas panjang, seperti menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. “Aku wes weruh teko Zaid soal alasanmu. Tapi, menurutku iku sama sekali gak cukup. Aku seh gak ngerti, opo seng awakmu golek, Sab? Kok sampe sebegitune. Opo kon gak mikir perasaan sepupuku? Opo seng pantes dimengerti hanya dirimu, tah?”

Ketiganya kini saling menatap bergantian. Suasana menjadi lebih tegang, setelah Sudirman membuka mulutnya.

Tak lama kemudian, Sabian mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Ia tampak sedikit frustrasi. “Gue cuman pengen masa lalu gue beneran selesai sebelum gue mulai sama Bianca,” kata Sabian, suaranya naik turun.

“Malem itu Tuhan kasih kesempatan. Gue itu gak pernah dapet closure dari dia, dan gue ngerasa kalo itu udah ngebebanin perasaan gue selama ini. Emang salah kalo gue mau selesaiin masa lalu gue?”

“TUELEK!” hardik Sudirman tiba-tiba, suaranya menggelegar dalam dialek Jawa yang kasar. “Alasanmu klasik. Cinta monyetmu bajingan!”

Sabian langsung menunduk. Matanya menatap lurus ke lantai keramik di bawah kakinya. Dadanya sesak. Ia tahu Sudirman marah, tapi kata-kata itu tetap menusuk.

Zaid hanya diam, akan tetapi tatapannya tak lagi sekasar sebelumnya—ada sedikit empati di sana, untuk Sabian.

“Zaid tau sekurang perhatian apa gue waktu itu. Bokap gue yang sekarang, dulu gak gini. Hubungan gue sama nyokap gue juga kurang erat. Dari kecil, selalu ada orang lain yang ngewakilin peran orang tua gue—tante, om, bahkan pembantu rumah tangga. Terus gue kenal Ajeng di titik krusial itu. Dulu buat gue, dia bahkan lebih deket satu langkah dari Zaid sekali pun. Jadi, gue bukan sekedar suka sama dia, tapi juga bergantung. Di umur yang masih selabil itu … gue kasih semua perasaan gue ke dia…. Tapi, gue ditinggal gitu aja, bahkan tanpa dikasih kesempatan terakhir buat ketemu dan ngobrol langsung.”

Sabian menarik napas dalam. “Gue bisa bilang kalo sekarang perasaan gue cuman buat Bianca, sepupu lo. Tapi trauma gue sebelumnya masih ada, Dil. Gue gak mau rasa takut diabaikan itu—yang selalu muncul tiba-tiba—ganggu hubungan gue sama Bianca kedepannya. Gue takut suatu saat gue jadi posesif berlebihan, atau justru menjauh karena takut disakiti lagi.”

Ia berhenti sejenak. Zaid dan Sudirman masih diam, mendengarkan.

Tiba-tiba, tanpa diduga, Sabian berlutut di depan keduanya. Lututnya menyentuh lantai yang dingin.

“Anjing, kenapa lo kayak gitu? Bangun, bangun!” pekik Zaid panik, langsung maju ingin menarik Sabian berdiri.

Tapi Sabian tetap di posisinya. “Gue minta maaf,” katanya, suaranya bergetar.

“Maaf karena selalu libatin lo di masalah gue sama Ajeng, Id. Sampai-sampai lo jadi gak suka sama dia. Maaf buat segala kesialan yang lo laluin selama gue suka sama dia. Luka lo akibat jatuh dari motor bareng gue juga gak bisa ilang, gue bener-bener minta maaf soal itu. Dan buat lo, Dil... gue tau lo marah kayak gini karena lo sayang sama Bianca—gue pun sama. Gak ada sedikitpun niat gue buat nyakitin dia. Dia baik banget buat gue. Cara gue salah, gue akuin itu. Tapi gue bener-bener selesaiin semuanya. Itu juga demi Bianca. Gue minta maaf.” Di akhir kalimatnya, pandangan Sabian memburam. Matanya berkaca-kaca.

Lantas, ruangan itu hening seketika. Zaid dan Sudirman saling pandang dengan bibir yang tertutup rapat. Mereka tak menyangka Sabian akan sejauh ini—berlutut, mengungkit semua luka lama dengan sangat terbuka—bahkan di hadapan Sudirman.

Alhasil, keduanya sama-sama merasa tak tega. Dan, hampir serentak, keduanya maju. Zaid menarik tangan kiri Sabian, sementara Sudirman menarik tangan kanannya. Mereka berusaha membantu Sabian berdiri.

“Kita maafin,” kata Zaid pelan, seraya menepuk punggung Sabian beberapa kali.

“Iya, kita maafin,” ulang Sudirman, suaranya kini jauh lebih lembut.

Mendengar itu, Sabian langsung tersenyum lebar—senyum yang sudah sejak beberapa hari terakhir tak pernah terlihat di wajahnya. Ia tarik kedua kawannya itu ke dalam pelukan dengan gerakan yang begitu cepat. Pelukan khas laki-laki yang penuh tepukan keras di atas punggung, dan hanya berlangsung singkat.

“Maaf juga, kita udah terlalu kasar.”

“Iya, kita cuma mau lo sadar,” timpal Zaid pada perkataan Sudirman.

Sabian yang merasa sangat senang, praktis manggut-manggut seraya menarik sudut bibirnya ke atas. Kini, pandangannya tak lagi buram, hanya ada rasa lega yang tersisa.

“Terus saiki, kon mbe Bianca pie?” tanya Sudirman penasaran, nada khawatirnya masih tersisa. “Wes ada omongan?”

Mendapat pertanyaan itu, Sabian praktis menggeleng lemah. “Belum ada. Gue udah gak bisa hubungin dia sama sekali. Sempet gue chat, dan dia bales singkat-singkat. Tapi terakhir gue cek, kayaknya dia blokir nomor gue. Mungkin karena gue spam telpon.” Sabian menghela napas panjang. “Hari ini mau gue samperin langsung ke kosannya.”

Sudirman dan Zaid saling pandang lagi, lalu mengangguk setuju.

“Bagus, pikiran lo jalan,” kata Zaid sambil menepuk bahu Sabian.

“Jelasin yang bener. Pelan-pelan aja, yang penting tersampaikan dengan baik. Bianca iku, wong e pemaaf, kok,” tambah Sudirman.

Meski tak mengatakan apapun, jauh di dalam hati, Sabian merasa sangat senang. Setidaknya kini Sudirman dan Zaid sudah bisa diajak bicara seperti sedia kala. Setelah ini, barulah ia akan memusingkan perihal memohon maaf dari Bianca.

Di sebuah kafe klasik yang dindingnya penuh akan coretan spidol permanen dari para pengunjung yang pernah datang, lampu neon temaramnya menyorot ke area terbuka, memantulkan bayang-bayang gelas di atas meja yang lapang. Angin malam berembus pelan, namun dinginnya sukses menembus kulit. Suara speaker berkumandang—memutar lagu-lagu yang baru-baru ini hits di media sosial—mengaduk udara lembap yang bercampur bau kopi yang khas, serta manisnya gula aren.

Di seberang, lampu jalan berwarna kuning mulai menyala satu per satu, memantul di genangan air, sisa hujan sore tadi. Mobil-mobil melaju pelan, suara klaksonnya teredam oleh angin malam.

Bianca duduk dengan santai, punggungnya menempel pada sandaran kursi, sementara tangannya memegang segelas latte yang sudah hampir habis. Busa susunya menggumpal di dinding gelas, seperti awan kecil yang tak lagi bergerak. Rasa manis dan pahitnya sudah digantikan rasa hambar berkat batu es yang mencair, sejak beberapa saat lalu. Bianca celingak-celinguk, matanya yang kecokelatan menyapu setiap sudut kafe itu, mengamati wajah tiap-tiap pengunjung yang berlalu-lalang—mencari eksistensi Yayuk.

Pesan terakhirnya sudah Bianca lihat berkali-kali: ‘Lagi di jalan, kayaknya 10 menit lagi.’ Tapi sudah lebih dari 30 menit waktu berlalu, batang hidung kawannya itu tak kunjung terlihat. Kalau boleh jujur, Bianca mulai jenuh menjadi satu-satunya perempuan di antara Sabian, Zaid, juga Sudirman. Bukannya Bianca tak serekuensi, hanya saja ia tipikal orang yang tak ingin sembarangan masuk ke dalam pembicaraan sekelompok laki-laki. Ia takut kalau-kalau ucapannya akan salah, atau bahkan menimbulkan perdebatan sengit.

Sabian duduk di seberangnya, kaos putih polosnya kini sedikit kusut di bagian dada, rambutnya berantakan karena sering ia sentuh dan sisir ke belakang menggunakan jari tangan. Tawanya terdengar renyah, seperti keripik yang baru digigit, setiap kali Zaid melempar sebuah lelucon spontan. Di sampingnya, Zaid bersandar di kursi, dengan kaki disilang, dan tangan yang memegang secangkir amerikano yang sudah dingin, sembari ikut cekikikan seperti Sabian. Lalu