Permintaan Maaf
Sabian membuka mata perlahan-lahan, sembari meregangkan tubuh. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15. Biasanya, di pagi hari seperti ini, kosan yang ia huni bersama Zaid dan Sudirman selalu ramai dengan suara tawa, candaan kasar, atau setidaknya obrolan ringan di sela-sela aktivitas pagi. Akan tetapi hari ini, suasana masih sama seperti kemarin dan dua hari lalu. Hening. Hanya ada suara televisi yang sedang menyiarkan berita pagi secara samar-samar.
Sabian beranjak dari tempat tidurnya, seraya membuka pintu kamar. Dari ambang pintu itu ia dapat melihat punggung Zaid dan Sudirman yang duduk berdampingan di atas sofa, di hadapan televisi. Keduanya tampak asyik, sesekali Zaid mengomentari isu perselingkuhan seorang selebriti yang baru saja terkuak, sementara Sudirman akan menimpali dengan energi yang sama atau hanya tertawa kecil. Tak ada yang menoleh ke arahnya sedikitpun meski pintu kamar yang sempat ia buka itu menimbulkan suara yang cukup untuk mengusik telinga.
Sabian menghela napas panjang. Ia tahu pasti penyebab kekesalan kedua kawannya itu. Dan, ia berusaha acuh sejak awal. Namun, hari berlalu, dan diabaikan dengan orang yang tinggal bersama dengannya itu mulai terasa menyiksa untuk dirinya sendiri.
Lantas, Sabian berniat untuk bergabung dengan mereka, duduk di sofa, dan ikut menonton televisi sembari berusaha untuk mencairkan suasana di antara ia, Zaid, serta Sudirman.
Perlahan tapi pasti, kakinya mulai melangkah tanpa suara. Sabian sempat merasa sedikit cemas, hingga menggigit bibirnya sendiri.
“Ada berita apa hari ini?” tanya Sabian. Nada bicaranya riang, tepat saat ia muncul di hadapan Zaid dan Sudirman dari arah samping.
Namun, tatkala bokongnya baru saja hampir ikut mendarat di atas sofa yang empuk itu, tiba-tiba Zaid berdiri dengan cepat. “Eh, gue ke WC dulu, Dil,” katanya datar, tanpa menatap Sabian sama sekali, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.
Hampir bersamaan, Sudirman juga ikut berdiri. Namun, tanpa mengatakan apapun, ia langsung menuju dapur kecil di sudut kosan.
Mendapat reaksinya yang demikian, Sabian praktis terdiam di tempatnya, bokongnya akhirnya mendarat di sofa dengan pelan. Televisi masih menyala, suara penyiar berita seakan bergema di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih luas. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Zaid tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sudirman juga tak kembali ke sofa. Sabian melirik ke arah dapur—Sudirman tengah menikmati nasi goreng yang sepertinya sisa semalam—ia duduk sendirian di meja makan kecil.
Dengan perasaan yang sejujurnya masih tak nyaman, Sabian memutuskan untuk menghampiri Sudirman dan ikut sarapan. Ia mengambil piring, menyendok nasi dari magic com yang selalu hangat, lalu membuat telur ceplok dengan terburu-buru.
Tatkala makanannya siap, Sabian langsung mendudukan dirinya di seberang Sudirman, sembari berusaha tersenyum. “Si Zaid udah makan duluan? Kok udah buang air aja dia?” tanyanya basa-basi.
Sudirman hanya mengedikkan bahunya. Tak ada jawaban verbal yang ia lontarkan. Dan gestur itu kontan saja membuat Sabian menggigit bagian dalam pipinya.
Sabian mulai makan, tanpa ingin mendalami perasaannya sendiri. Akan tetapi, baru beberapa suap, Sudirman tampak sudah menghabiskan isi piringnya. Ia pun bergegas berdiri, membawa piring itu wastafel untuk mencucinya bersama dengan piring-piring lain.
Sabian lantas merasa dadanya yang sesak sembari menelan makanan. Ini sudah terlalu jauh. Upaya Zaid dan Sudirman untuk mengabaikannya sudah terlalu jauh. Sebagai golongan orang yang sangat perasa, tentu saja batinnya sudah gelisah bukan main. Lantas, Sabian buru-buru menghabiskan makanannya. Ia bahkan hampir tersedak karena terlalu cepat. Dan, piringnya yang sudah kosong, secara teknis menjadi alasan bagus untuk mendekati Sudirman, lagi.
Sabian beranjak, berjalan tanpa suara, ke arah wastafel. Jantungnya berdegup kencang. Ia sebenarnya merasa sangat was-was. Takut kalau-kalau salah bicara, atau tindakannya kali ini justru membuat Sudirman semakin jengah.
Sabian berdeham singkat, seraya menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya dan mencoba santai. “Ngapain, Dil?”
Sudirman tak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke samping—tepat di mana Sabian tengah berdiri. Tatapannya dingin, dan sinis. “Bongkar motor! Gak ndelok ta iki?!” jawabnya ketus, menggunakan logat jawabnya yang sangat kental.
Detik kemudian, Sabian cengengesan, meski di dalam hatinya semakin gelisah. “Anu, nitip satu, Dil,” katanya seraya meletakkan piringnya di wastafel dengan harapan Sudirman akan melanjutkan mencuci miliknya juga—seperti biasa.
Tapi tidak. Sudirman justru langsung memutar keran, membasuh tangannya cepat-cepat, lalu mengeringkannya dengan lap gantung sebelum akhirnya berbalik badan. Jangankan piring Sabian, piring-piring yang sudah sempat ia sabuni saja, ia tinggalkan tanpa pikir panjang.
“Dil!” seru Sabian, namun suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. Membuat langkah Sudirman terhenti seketika.
Sabian menelan ludah. “Lo sama Zaid kenapa, sih?” tanyanya, meski jauh di lubuk hati Sabian yang paling dalam, ia sudah tahu jawabannya.
Semua ini karena malam itu. Malam terakhir saat mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe di pinggir kota. Malam saat ia pergi meninggalkan kawan-kawannya, bahkan juga Bianca, hanya demi seorang perempuan dari masa lalunya. Diajeng Pramesti.
Sejak dulu, Zaid memang kurang menyukai perempuan itu. Terlebih lagi setelah ia seperti meninggalkan sebuah trauma dalam hal percintaan di kehidupan Sabian. Sementara Sudirman—ia sepupu Bianca. Bianca yang akhir-akhir ini sudah sangat dekat dengan Sabian, nyaris selayaknya sepasang kekasih. Sebagai seseorang yang menyayangi sepupunya, Sudirman mungkin tak terima kalau Sabian masih “terbelenggu” masa lalu, apalagi sampai memilih Ajeng lagi di hadapan Bianca.
Sudirman tak menjawab. Ia hanya diam, namun Sabian dapat melihat tatkala tangan kawannya itu mulai mengepal perlahan.
Tiba-tiba, pintu kamar mandi yang sudah cukup lama tertutup—terbuka lebar dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Zaid keluar dengan wajah kesalnya.
“Kita gak kenapa-kenapa! Harusnya lo tanya itu ke diri lo sendiri!” cetus Zaid, sembari menunjuk Sabian.
Sabian langsung terdiam.
Lalu, Sudirman yang secara teknis berada di hadapannya, menghela napas panjang, seperti menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. “Aku wes weruh teko Zaid soal alasanmu. Tapi, menurutku iku sama sekali gak cukup. Aku seh gak ngerti, opo seng awakmu golek, Sab? Kok sampe sebegitune. Opo kon gak mikir perasaan sepupuku? Opo seng pantes dimengerti hanya dirimu, tah?”
Ketiganya kini saling menatap bergantian. Suasana menjadi lebih tegang, setelah Sudirman membuka mulutnya.
Tak lama kemudian, Sabian mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Ia tampak sedikit frustrasi. “Gue cuman pengen masa lalu gue beneran selesai sebelum gue mulai sama Bianca,” kata Sabian, suaranya naik turun.
“Malem itu Tuhan kasih kesempatan. Gue itu gak pernah dapet closure dari dia, dan gue ngerasa kalo itu udah ngebebanin perasaan gue selama ini. Emang salah kalo gue mau selesaiin masa lalu gue?”
“TUELEK!” hardik Sudirman tiba-tiba, suaranya menggelegar dalam dialek Jawa yang kasar. “Alasanmu klasik. Cinta monyetmu bajingan!”
Sabian langsung menunduk. Matanya menatap lurus ke lantai keramik di bawah kakinya. Dadanya sesak. Ia tahu Sudirman marah, tapi kata-kata itu tetap menusuk.
Zaid hanya diam, akan tetapi tatapannya tak lagi sekasar sebelumnya—ada sedikit empati di sana, untuk Sabian.
“Zaid tau sekurang perhatian apa gue waktu itu. Bokap gue yang sekarang, dulu gak gini. Hubungan gue sama nyokap gue juga kurang erat. Dari kecil, selalu ada orang lain yang ngewakilin peran orang tua gue—tante, om, bahkan pembantu rumah tangga. Terus gue kenal Ajeng di titik krusial itu. Dulu buat gue, dia bahkan lebih deket satu langkah dari Zaid sekali pun. Jadi, gue bukan sekedar suka sama dia, tapi juga bergantung. Di umur yang masih selabil itu … gue kasih semua perasaan gue ke dia…. Tapi, gue ditinggal gitu aja, bahkan tanpa dikasih kesempatan terakhir buat ketemu dan ngobrol langsung.”
Sabian menarik napas dalam. “Gue bisa bilang kalo sekarang perasaan gue cuman buat Bianca, sepupu lo. Tapi trauma gue sebelumnya masih ada, Dil. Gue gak mau rasa takut diabaikan itu—yang selalu muncul tiba-tiba—ganggu hubungan gue sama Bianca kedepannya. Gue takut suatu saat gue jadi posesif berlebihan, atau justru menjauh karena takut disakiti lagi.”
Ia berhenti sejenak. Zaid dan Sudirman masih diam, mendengarkan.
Tiba-tiba, tanpa diduga, Sabian berlutut di depan keduanya. Lututnya menyentuh lantai yang dingin.
“Anjing, kenapa lo kayak gitu? Bangun, bangun!” pekik Zaid panik, langsung maju ingin menarik Sabian berdiri.
Tapi Sabian tetap di posisinya. “Gue minta maaf,” katanya, suaranya bergetar.
“Maaf karena selalu libatin lo di masalah gue sama Ajeng, Id. Sampai-sampai lo jadi gak suka sama dia. Maaf buat segala kesialan yang lo laluin selama gue suka sama dia. Luka lo akibat jatuh dari motor bareng gue juga gak bisa ilang, gue bener-bener minta maaf soal itu. Dan buat lo, Dil... gue tau lo marah kayak gini karena lo sayang sama Bianca—gue pun sama. Gak ada sedikitpun niat gue buat nyakitin dia. Dia baik banget buat gue. Cara gue salah, gue akuin itu. Tapi gue bener-bener selesaiin semuanya. Itu juga demi Bianca. Gue minta maaf.” Di akhir kalimatnya, pandangan Sabian memburam. Matanya berkaca-kaca.
Lantas, ruangan itu hening seketika. Zaid dan Sudirman saling pandang dengan bibir yang tertutup rapat. Mereka tak menyangka Sabian akan sejauh ini—berlutut, mengungkit semua luka lama dengan sangat terbuka—bahkan di hadapan Sudirman.
Alhasil, keduanya sama-sama merasa tak tega. Dan, hampir serentak, keduanya maju. Zaid menarik tangan kiri Sabian, sementara Sudirman menarik tangan kanannya. Mereka berusaha membantu Sabian berdiri.
“Kita maafin,” kata Zaid pelan, seraya menepuk punggung Sabian beberapa kali.
“Iya, kita maafin,” ulang Sudirman, suaranya kini jauh lebih lembut.
Mendengar itu, Sabian langsung tersenyum lebar—senyum yang sudah sejak beberapa hari terakhir tak pernah terlihat di wajahnya. Ia tarik kedua kawannya itu ke dalam pelukan dengan gerakan yang begitu cepat. Pelukan khas laki-laki yang penuh tepukan keras di atas punggung, dan hanya berlangsung singkat.
“Maaf juga, kita udah terlalu kasar.”
“Iya, kita cuma mau lo sadar,” timpal Zaid pada perkataan Sudirman.
Sabian yang merasa sangat senang, praktis manggut-manggut seraya menarik sudut bibirnya ke atas. Kini, pandangannya tak lagi buram, hanya ada rasa lega yang tersisa.
“Terus saiki, kon mbe Bianca pie?” tanya Sudirman penasaran, nada khawatirnya masih tersisa. “Wes ada omongan?”
Mendapat pertanyaan itu, Sabian praktis menggeleng lemah. “Belum ada. Gue udah gak bisa hubungin dia sama sekali. Sempet gue chat, dan dia bales singkat-singkat. Tapi terakhir gue cek, kayaknya dia blokir nomor gue. Mungkin karena gue spam telpon.” Sabian menghela napas panjang. “Hari ini mau gue samperin langsung ke kosannya.”
Sudirman dan Zaid saling pandang lagi, lalu mengangguk setuju.
“Bagus, pikiran lo jalan,” kata Zaid sambil menepuk bahu Sabian.
“Jelasin yang bener. Pelan-pelan aja, yang penting tersampaikan dengan baik. Bianca iku, wong e pemaaf, kok,” tambah Sudirman.
Meski tak mengatakan apapun, jauh di dalam hati, Sabian merasa sangat senang. Setidaknya kini Sudirman dan Zaid sudah bisa diajak bicara seperti sedia kala. Setelah ini, barulah ia akan memusingkan perihal memohon maaf dari Bianca.