Hari di Mana Aku dan Kamu Menjadi Kita

Bianca tak pernah bisa diam jika berada di dalam mobil Sabian. Ia akan selalu memutar lagu-lagu kesukaannya dan menyanyikan lirik dari agu yang ia putar itu dengan lantang di sebelah Sabian. Suaranya setia mengisi setiap sudut kosong di dalam mobil itu, menyesuaikan adrenalin tiap-tiap genre musik yang ia putar. Namun, ketika algoritma musik membawanya pada melodi piano yang melankolis, Bianca akan terdiam. Menatap ke luar kaca mobil seraya meresapi liriknya, membiarkan matanya berkaca-kaca, seakan-akan ia benar-benar dilanda kesedihan yang sama.

Sementara itu, di balik kemudi, Sabian berperan sebagai saksi yang paling tenang. Ia mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap pucuk kepala Bianca dengan gemas. Matanya tetap fokus ke arah jalan, meski hatinya sepenuhnya tertuju pada perempuan di sampingnya itu. Setiap kali ia melirik Bianca—melihatnya tertawa hingga matanya menyipit atau saat ia mengusap sudut matanya yang basah—Sabian merasakan sebuah getaran yang asing namun candu.

Sejak kemarin, mereka seperti sepasang muda-mudi yang sedang menari di atas sebuah hubungan yang sedikit membingungkan—tanpa adanya status, namun keduanya sudah saling memiliki dalam diam.

Kini, bagi Bianca sendiri, status adalah perkara nomor sekian. Terserah. Lagipula siapa yang gila akan status? Aku cuman tergila-gila sama Sabian! Kalimat itu sering bergema di kepalanya sebagai bentuk pertahanan diri. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan yang baru saja mereka pulihkan setelah drama kesalahpahaman beberapa hari lalu. Ia ingin menikmati setiap detik ini—wajah tampan Sabian yang sulit ditemukan pada orang lain, aroma tubuhnya, dan cara laki-laki itu selalu memperlakukannya seolah ia penting baginya.

Mobil Sabian melaju, membelah jalanan yang semakin lengang. Bianca, yang sibuk dengan camilan kripik di pangkuannya, sesekali menghisap ibu jarinya untuk membersihkan sisa bumbu gurih yang tertinggal. Ia baru tersadar bahwa perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan yang sudah-sudah.

“Kita ini mau ke mana, sih, Mas?” tanya Bianca, suaranya sedikit sengau karena sisa emosi dari lagu tadi.

Sabian tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan gestur yang selalu berhasil melumpuhkan logika Bianca; ia mengusap pucuk kepala perempuan itu dengan lembut, seolah-olah Bianca adalah anak kecil yang paling ia sayangi. “Kita mau ke pantai,” jawab Sabian pendek.

Detik itu juga, Bianca langsung berseru. “Serius!?” Matanya berbinar. Senyuman lebar langsung terukir di wajahnya, menciptakan garis tipis seperti kumis kucing di pipinya, yang jarang ia tunjukkan.

Namun, yang Bianca tidak tahu adalah, Sabian pernah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di pantai lagi, meski ia sangat menyukai tempat itu. Baginya, deburan ombak adalah suara patah hati. Pantai adalah penjara memori tentang Ajeng—tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal satu sama lain, tentang Sabian yang menyadari bahwa ia jatuh cinta pada seorang Ajeng dan ketenangannya, tentangnya yang berdiri di tepian air—meneriakkan nama perempuan itu, hanya untuk dibalas oleh kesunyian.

Tapi hari ini, Sabian memilih untuk berdamai dengan lukanya. Kebetulan Yayuk—sahabat Bianca—mengatakan padanya bahwa Bianca sering menonton drama Korea dan mendambakan momen romantis di tepi laut. Sebagai seseorang yang pada akhirnya merasakan jatuh cinta lagi, Sabian tak ingin Bianca hanya bisa mendamba. Ia ingin menjadi orang yang mewujudkan keinginan itu, meski ia harus berhadapan dengan hantu masa lalunya sendiri. Ia ingin ‘mencuci’ kenangan pantai yang pahit itu dengan tawa Bianca yang manis.

Mereka tiba saat matahari bersiap untuk tenggelam. Pantai itu sepi, tak seramai saat pagi hari—hanya ada suara deburan ombak yang berirama. Pasir putihnya masih menyimpan sisa panas matahari, terasa nyaman saat dipijak. Bianca segera berlari kecil menuju tepian air, sementara Sabian mengikuti dari belakang dengan tatapan hangat yang tak pernah lepas.

Kedua memilih duduk di atas pasir, tepat di mana ombak kecil sesekali menyapa ujung kaki mereka. Dalam keheningan, Sabian menghela napas panjang. Sudah sangat lama ia tak mampu menikmati keindahan alam yang satu ini. Langit perlahan memunculkan semburat merah keemasan di atas mereka. Menciptakan suasana yang begitu magis, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi mereka ruang.

“Yayuk yang kasih tahu ya, kalau gue lagi suka banget sama pantai?” tanya Bianca, memecah kesunyian yang penuh debar itu.

Mendapat pertanyaan itu, lantas Sabian mengangguk, sudut bibirnya terangkat. “Mulai sekarang, kalau ada hal lain yang lo suka... langsung kasih tau gue ya?” tutur Sabian dengan suaranya yang paling lembut. Mengalahkan lembutnya embusan angin yang menyapa permukaan kulit Bianca.

“Mas...,” panggil Bianca lirih.

“Bi....” Namun, Sabian juga melakukan hal yang sama di waktu yang sama.

Sontak, keduanya terkekeh, namun ada ketegangan emosional yang terasa kental. “Gue boleh ngomong duluan?” tanya Bianca dengan nada polos yang membuat Sabian tak tega untuk menolak.

“Boleh, dong,” jawab Sabian.

Bianca menatap hamparan laut yang tak berujung di depannya. Suaranya terdengar kelu, seolah setiap kata harus diperas keluar dari hatinya. “Masabi… semakin lama gue kenal sama lo… semakin banyak hari yang kita lewatin sama-sama, itu bikin gue semakin suka sama lo. Tapi, gue tau kalau lo mungkin belum ada rencana buat jalin relationship sama gue, even lo sendiri udah bilang kalau lo juga suka gue. That’s okay, sekarang, itu gak jadi masalah buat gue. Asalkan bisa ada di deket lo kayak gini, gue seneng.”

Kemudian, ia menoleh, menatap mata Sabian dengan penuh keberanian yang sebenarnya tengah ia paksakan. “Tapi nanti, kalau seandainya lo kenal seseorang yang bikin lo jauh lebih nyaman... tolong kasih tau gue jauh-jauh hari sebelum lo mau cabut, ya. Gue butuh waktu buat nata ulang hati gue. Jangan tiba-tiba buat jarak tanpa kejelasan, ya? Boleh, kan?”

Kalimat itu bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk penyerahan diri yang paling jujur, yang pernah Bianca lakukan. Seakan ia mengumumkan bahwa dirinya siap bahagia dan terluka, karena membiarkan sesuatu yang semu menjadi pusat hidupnya.

Sabian terdiam. Ia melihat ketakutan di mata Bianca—ketakutan yang sama dengan yang dulu pernah ia rasakan terhadap Ajeng. Namun kali ini, ia berada di posisi yang berbeda. Ia tidak lagi mengejar bayangan; ia sedang menggenggam realita yang jauh lebih indah.

“Kok ngeliatin gue kayak gitu, sih? Kenapa? Cringe, ya?” tanya Bianca, mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.

Namun, Sabian menggeleng cepat. Ia memutar tubuhnya, memposisikan diri sepenuhnya menghadap Bianca. “Sekarang boleh gantian gue yang ngomong?”

Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Bianca, Sabian langsung merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gelang cantik dengan liontin-liontin kecil yang berkilau lantaran terkena sisa cahaya matahari dan lampu yang mulai menyala. Ia meraih tangan Bianca yang terasa dingin karena angin laut.

“Setiap kali ada di deket lo, gue ngerasa tenang dan nyaman, Bi. Gak ada kekhawatiran yang gue rasain, kecuali khawatir kalau lo kenapa-kenapa. Lo bikin gue ngerasa kalau ‘pulang’ itu bukan cuma ke sebuah tempat, tapi bisa juga ke seseorang. Dan orang itu adalah lo. Jadi, gue mau lo jadi pacar gue, Bi,” ucap Sabian dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Bianca terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat gelang itu melingkar di pergelangan tangannya—seperti sebuah simbol pengikat yang selama ini ia anggap mustahil. Tanpa mampu berkata-kata, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, sementara pandangannya memburam seketika lantaran berkaca-kaca.

Melihat respons itu, Sabian lantas mengusap kepala Bianca dengan penuh kasih, lalu dengan sedikit candaan, ia menganggukkan kepala Bianca secara manual agar seolah-olah perempuan itu setuju. Namun, bukannya kesal, Bianca justru menghamburkan diri, memeluk Sabian begitu kuat hingga keduanya jatuh terguling di atas pasir pantai.

Tawa mereka pecah, beradu dengan suara deburan ombak. Di atas pasir itu, mereka saling mendekap, merasakan detak jantung satu sama lain yang berdegup dengan irama yang sama.

“Akhirnya, ya?” ledek Sabian di telinga Bianca.

“Iya! Akhirnya bisa pacaran sama Masabi!” seru Bianca dengan suara yang serak karena bahagia.

Namun, momen romantis itu tak berlangsung lama. Segera hancur berantakan tatkala sebuah suara menggelegar yang sama-sama mereka kenal, terdengar.

“OJO MESUM NENG TEMPAT UMUM, COK!” teriak Sudirman dengan toa alami di tenggorokannya.

Sabian dan Bianca sontak beringsut memisahkan diri, wajah mereka merah padam bukan karena sinar matahari, melainkan karena malu. Di sana, Zaid, Yayuk, dan Sudirman berdiri sambil bertepuk tangan heboh.

“Akhirnya my brother punya pacar!” seru Zaid, seraya berlari mendekat dan langsung memeluk Sabian, bersamaan dengan yang Yayuk menjerit-jerit bahagia sambil memeluk Bianca hingga mereka terguling di atas pasir.

Sore itu, di sebuah pantai—tempat yang Sabian pikir sebelumnya hanya dapat mengungkit luka, kini menjadi tempat bagi Sabian merayakan cinta barunya. Ia sadar, pantai tidak pernah salah; hanya saja dulu ia datang dengan orang yang salah. Dan sekarang, bersama Bianca, pantai adalah saksi bisu tentang sebuah buku lama yang akhirnya ditutup, dan sebuah buku baru yang lebih cerah yang baru saja ia mulai baca.