Di Malam Itu
Flashback On
Malam itu, di dalam kabin mobil sedan hitam milik Sabian, keheningan terasa membelenggu. Atmosfernya sedikit berbeda dan udara yang ada di sana seakan-akan mampu mencekik pernapasan jika terlalu lama dihirup. Sabian mencengkeram kemudi dengan tangannya, sementara itu matanya menatap lurus ke depan—membelah jalanan yang cukup lengang.
Biasanya, mobil itu selalu dipenuhi oleh dentum dan melodi lagu yang dikurasi dengan begitu apik oleh seseorang, yang tak lain adalah Bianca. Kebetulan perempuan itu bisa disebut sebagai “pemilik” sah kursi penumpang depan di mobil Sabian. Ia adalah orang yang akan protes jika keadaan di kabin mobil terlalu hening, dan akan menyanyi sumbang di sepanjang perjalan yang mereka lakukan.
Namun, malam itu, tak ada eksistensi Bianca di sana. Sabian meninggalkannya di kafe, bersama Zaid dan teman-teman yang lain—begitu saja—hanya demi mengantarkan perempuan di sampingnya untuk pulang.
Ada secuil rasa bersalah yang menggerogoti benak Sabian. Ia meninggalkan Bianca tanpa penjelasan yang benar-benar lugas—hanya sebuah pamitan singkat untuk mengantar Ajeng pulang. Dan, sialnya itu terasa seperti sebuah pengkhianatan kecil yang ia lakukan secara sadar.
Kendati demikian, Sabian tahu betul, jika ia tidak nekat kala itu, maka hantu masa lalunya yang bernama Ajeng akan terus bersemayam di sudut kepalanya, tak akan pernah benar-benar pergi sebab, Sabian masih membutuhkan sebuah kata penutup. Penutup kisah mereka.
Sabian menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar begitu keras di tengah kesunyian di dalam mobil itu. Meski sempat ragu, pada akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk membuka percakapan. “Gimana... kabar?” tanya Sabian akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi mengepung dirinya dan Ajeng.
Ia tidak menoleh, namun melalui ekor matanya, ia dapat melihat bagaimana Ajeng sedikit tersentak sebelum akhirnya sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.
“Kabar aku baik, Sab,” sahut Ajeng lembut. Suaranya terdengar masih sama—masih tenang dan terjaga, tipikal suara yang dulunya selalu berhasil membuat Sabian remaja bertekuk lutut dan mendambakannya.
Sabian mengangguk perlahan—tanda paham. Kemudian, jemarinya praktis mengetuk-ketuk kemudi. “Keluarga, gimana?” tanyanya lagi, mencoba memperdalam topik, sekaligus mengalisa keadaan.
Akan tetapi, kali ini suasana berubah. Sabian tak menangkap lagi sebuah senyuman di wajah Ajeng. Perempuan itu justru memalingkan wajah ke arah jendela, menatap deretan ruko-ruko di pinggir jalan dengan tatapan kosong.
“Aku gak tau,” jawab Ajeng lirih. “Dari kuliah, sampai detik ini aku milih buat hidup sendiri. Aku udah lama gak tau kabar tentang keluargaku lagi.”
Mendengar pengakuan itu, Sabian lantas mengernyit. Ia sedikit terkejut. “Dari kuliah, lo di sini?” tanyanya spontan. Sabian menyadari ada perubahan dalam cara bicaranya kepada Ajeng. Ia kini lebih nyaman menggunakan kata ‘lo’ dan ‘gue’. Sebuah jarak linguistik yang secara tidak sadar ia ciptakan untuk menegaskan bahwa ia bukan lagi seorang remaja yang dulu sering mengirim pesan penuh harap pada Ajeng.
“Enggak,” tutur Ajeng. “Waktu kuliah, masih di kota yang sama kayak keluarga. Begitu kerja, baru pindah. Tapi mungkin udah sekitar satu tahun setengah aku di sini.” Ajeng kemudian membetulkan posisi duduknya, sedikit menyerong ke arah Sabian. “Kamu sendiri, sekarang di sini ngapain?”
“Gue masih kuliah,” jawab Sabian singkat.
Jawaban itu sontak membuat Ajeng menegakkan tubuhnya. Matanya membulat tak percaya. “Kamu masih kuliah!? Gapyear? Atau gimana?” tanyanya penuh rasa penasaran. Wajar saja jika ia terkejut; pasalnya mereka berdua berada di usia yang sama, dan di saat Ajeng sudah mulai menapaki karier profesional, Sabian masih berstatus sebagai mahasiswa.
Sabian terkekeh pelan. “Gue pindah univ di tengah jalan, dan ganti jurusan juga.”
“Kenapa!? Salah pilih?”
Lantas, tawa Sabian mengudara. Bukan karena pertanyaan Ajeng, melainkan karena ia teringat akan dirinya dan Zaid yang sepakat mengambil keputusan impulsif itu hanya demi menikmati masa muda, sedikit lebih lama. “Bukan salah pilih. Kebetulan iseng aja, terus Zaid juga punya visi yang sama. Kita ngerasa cukup kewalahan dan pengen lebih menikmati hidup sebagai anak muda aja... sebelum bener-bener jadi serius dan mulai masuk ke dunia kerja yang lo jalanin sekarang.”
Sabian melirik Ajeng sepersekian detik. Perempuan itu tampak manggut-manggut, meski ekspresi heran belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Ajeng kemudian menyalakan layar ponselnya, menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap cantik. Ada keraguan yang terbaca dari gerak-geriknya.
“Sab...” panggil Ajeng dengan nada yang sedikit terbata. “Mau tukeran nomor gak? Siapa tau kita bisa sesekali ngopi lagi di tempat tadi. Aku gak punya temen di sini.”
Mobil itu melambat saat menemui tikungan tajam. Sabian tidak langsung menjawab. Konsentrasinya seolah terbagi antara jalanan yang menikung dan gejolak di dalam dadanya. Tawaran Ajeng terdengar sederhana, namun bagi Sabian, itu adalah pintu menuju sebuah siklus yang ia tahu tidak seharusnya ia masuki lagi.
“Sebenernya,” kata Sabian, suaranya kini merendah, hampir menyerupai bisikan namun tetap tegas. “Niat gue nganterin lo malem ini karena mau ngelurusin sesuatu.”
“Apa?” tanya Ajeng, cepat.
Sabian melirik pantulan wajah Ajeng melalui kaca, seraya menghela napas panjang. Perasaan campur aduk itu kini mencapai puncaknya. “Waktu itu... waktu kita sekolah... waktu gue selalu ungkapin betapa sukanya gue ke lo, apa perasaan yang lo rasain?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar. Pertanyaan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun, yang dulu sering membuatnya tak bisa tidur, dan terus mempertanyakan apakah semua perhatian yang ia berikan hanyalah angin lalu bagi Ajeng.
Namun, jawaban yang ia terima justru sebuah antiklimaks. Ajeng tidak tampak tersentuh atau merasa bersalah atas kepergiannya yang meninggalkan luka bagi Sabian. Ia justru melempar balik pertanyaan dengan nada yang ringan. “Buat apa, deh, kita bahas hal yang udah lama berlalu?”
Mendengar itu, Sabian terdiam. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia mengangguk seketika, sebuah gerakan kepala yang penuh dengan pengertian pahit. Dalam satu kalimat itu, Sabian mendapatkan jawabannya. Ia tidak butuh penjelasan panjang lebar tentang alasan Ajeng tidak pernah menghubunginya lagi setelah pergi, atau mengapa jauh sebelum itu Ajeng seolah terus menggantung perasaannya. Jawaban Ajeng membuktikan bahwa bagi perempuan itu, semua perjuangan Sabian dulu hanyalah momen kecil yang tidak penting untuk diingat.
Detik itu juga, bayangan Bianca melintas di benaknya. Bianca yang cerewet, Bianca yang selalu tahu penjelasan apa yang ingin ia dengar, Bianca yang memberikan kepastian tanpa perlu diminta. Bianca adalah penawar bagi luka-luka lama yang tak kunjung sembuh, dan Ajeng hanyalah pengingat bahwa ia pernah menjatuhkan hati pada orang yang salah.
“Oke, Jeng,” sahut Sabian singkat.
Sudah seperti itu, Ajeng tetap seakan tak merasakan perubahan suasana hati Sabian barang sedikit pun. Ia justru kembali ke topik sebelumnya, seakan-akan pertanyaan Sabian sebelumnya, hanyalah gangguan kecil. “Jadi, gimana? Nomor kamu berapa?”
Sabian menarik napas dalam, memantapkan hatinya. “Gue rasa, ini harus jadi terakhir kalinya kita ngobrol. Selama ini, gue selalu kepikiran sama cinta pertama gue yang lumayan bikin gue ngerasa kehilangan tanpa closure. Tapi, sekarang enggak lagi. Ini udah waktunya gue buat tutup buku, dan kebetulan gue punya buku baru yang bener-bener pengen gue baca....”
“Sab...” Ajeng mencoba memotong, wajahnya kini menunjukkan kebingungan yang nyata.
“Gue harap, lo bisa nemuin beberapa temen yang cocok sama lo di kota ini,” lanjut Sabian tanpa memberi ruang bagi Ajeng untuk berargumen. “Kebetulan gak lama lagi gue juga udah harus balik ke Jakarta,” timpalnya.
Mungkin kenyataan bahwa Sabian menolaknya secara halus namun sangat tegas membuat Ajeng terdiam. Ada keheningan baru yang tercipta—bukan lagi keheningan yang penuh tanya, melainkan keheningan yang menandakan sebuah perpisahan untuk selamanya.
“Ini arah rumah lo ke kanan, kan?” tanya Sabian saat mereka mendekati sebuah persimpangan sesuai arahan peta digital.
Mendengar pertanyaan itu, Ajeng praktis menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kontak mata. “Iya, sesuai sama yang ditunjukin sama mapsnya,” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar—namun, Sabian sudah tak peduli lagi.