cakgrays

Bianca tak pernah bisa diam jika berada di dalam mobil Sabian. Ia akan selalu memutar lagu-lagu kesukaannya dan menyanyikan lirik dari agu yang ia putar itu dengan lantang di sebelah Sabian. Suaranya setia mengisi setiap sudut kosong di dalam mobil itu, menyesuaikan adrenalin tiap-tiap genre musik yang ia putar. Namun, ketika algoritma musik membawanya pada melodi piano yang melankolis, Bianca akan terdiam. Menatap ke luar kaca mobil seraya meresapi liriknya, membiarkan matanya berkaca-kaca, seakan-akan ia benar-benar dilanda kesedihan yang sama.

Sementara itu, di balik kemudi, Sabian berperan sebagai saksi yang paling tenang. Ia mencengkeram setir dengan satu tangan, sementara tangan lainnya sesekali mengusap pucuk kepala Bianca dengan gemas. Matanya tetap fokus ke arah jalan, meski hatinya sepenuhnya tertuju pada perempuan di sampingnya itu. Setiap kali ia melirik Bianca—melihatnya tertawa hingga matanya menyipit atau saat ia mengusap sudut matanya yang basah—Sabian merasakan sebuah getaran yang asing namun candu.

Sejak kemarin, mereka seperti sepasang muda-mudi yang sedang menari di atas sebuah hubungan yang sedikit membingungkan—tanpa adanya status, namun keduanya sudah saling memiliki dalam diam.

Kini, bagi Bianca sendiri, status adalah perkara nomor sekian. Terserah. Lagipula siapa yang gila akan status? Aku cuman tergila-gila sama Sabian! Kalimat itu sering bergema di kepalanya sebagai bentuk pertahanan diri. Ia tidak ingin merusak kebahagiaan yang baru saja mereka pulihkan setelah drama kesalahpahaman beberapa hari lalu. Ia ingin menikmati setiap detik ini—wajah tampan Sabian yang sulit ditemukan pada orang lain, aroma tubuhnya, dan cara laki-laki itu selalu memperlakukannya seolah ia penting baginya.

Mobil Sabian melaju, membelah jalanan yang semakin lengang. Bianca, yang sibuk dengan camilan kripik di pangkuannya, sesekali menghisap ibu jarinya untuk membersihkan sisa bumbu gurih yang tertinggal. Ia baru tersadar bahwa perjalanan kali ini berbeda dengan perjalanan yang sudah-sudah.

“Kita ini mau ke mana, sih, Mas?” tanya Bianca, suaranya sedikit sengau karena sisa emosi dari lagu tadi.

Sabian tidak langsung menjawab. Ia justru memberikan gestur yang selalu berhasil melumpuhkan logika Bianca; ia mengusap pucuk kepala perempuan itu dengan lembut, seolah-olah Bianca adalah anak kecil yang paling ia sayangi. “Kita mau ke pantai,” jawab Sabian pendek.

Detik itu juga, Bianca langsung berseru. “Serius!?” Matanya berbinar. Senyuman lebar langsung terukir di wajahnya, menciptakan garis tipis seperti kumis kucing di pipinya, yang jarang ia tunjukkan.

Namun, yang Bianca tidak tahu adalah, Sabian pernah bersumpah tidak akan pernah menginjakkan kaki di pantai lagi, meski ia sangat menyukai tempat itu. Baginya, deburan ombak adalah suara patah hati. Pantai adalah penjara memori tentang Ajeng—tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal satu sama lain, tentang Sabian yang menyadari bahwa ia jatuh cinta pada seorang Ajeng dan ketenangannya, tentangnya yang berdiri di tepian air—meneriakkan nama perempuan itu, hanya untuk dibalas oleh kesunyian.

Tapi hari ini, Sabian memilih untuk berdamai dengan lukanya. Kebetulan Yayuk—sahabat Bianca—mengatakan padanya bahwa Bianca sering menonton drama Korea dan mendambakan momen romantis di tepi laut. Sebagai seseorang yang pada akhirnya merasakan jatuh cinta lagi, Sabian tak ingin Bianca hanya bisa mendamba. Ia ingin menjadi orang yang mewujudkan keinginan itu, meski ia harus berhadapan dengan hantu masa lalunya sendiri. Ia ingin ‘mencuci’ kenangan pantai yang pahit itu dengan tawa Bianca yang manis.

Mereka tiba saat matahari bersiap untuk tenggelam. Pantai itu sepi, tak seramai saat pagi hari—hanya ada suara deburan ombak yang berirama. Pasir putihnya masih menyimpan sisa panas matahari, terasa nyaman saat dipijak. Bianca segera berlari kecil menuju tepian air, sementara Sabian mengikuti dari belakang dengan tatapan hangat yang tak pernah lepas.

Kedua memilih duduk di atas pasir, tepat di mana ombak kecil sesekali menyapa ujung kaki mereka. Dalam keheningan, Sabian menghela napas panjang. Sudah sangat lama ia tak mampu menikmati keindahan alam yang satu ini. Langit perlahan memunculkan semburat merah keemasan di atas mereka. Menciptakan suasana yang begitu magis, seolah waktu berhenti berputar hanya untuk memberi mereka ruang.

“Yayuk yang kasih tahu ya, kalau gue lagi suka banget sama pantai?” tanya Bianca, memecah kesunyian yang penuh debar itu.

Mendapat pertanyaan itu, lantas Sabian mengangguk, sudut bibirnya terangkat. “Mulai sekarang, kalau ada hal lain yang lo suka... langsung kasih tau gue ya?” tutur Sabian dengan suaranya yang paling lembut. Mengalahkan lembutnya embusan angin yang menyapa permukaan kulit Bianca.

“Mas...,” panggil Bianca lirih.

“Bi....” Namun, Sabian juga melakukan hal yang sama di waktu yang sama.

Sontak, keduanya terkekeh, namun ada ketegangan emosional yang terasa kental. “Gue boleh ngomong duluan?” tanya Bianca dengan nada polos yang membuat Sabian tak tega untuk menolak.

“Boleh, dong,” jawab Sabian.

Bianca menatap hamparan laut yang tak berujung di depannya. Suaranya terdengar kelu, seolah setiap kata harus diperas keluar dari hatinya. “Masabi… semakin lama gue kenal sama lo… semakin banyak hari yang kita lewatin sama-sama, itu bikin gue semakin suka sama lo. Tapi, gue tau kalau lo mungkin belum ada rencana buat jalin relationship sama gue, even lo sendiri udah bilang kalau lo juga suka gue. That’s okay, sekarang, itu gak jadi masalah buat gue. Asalkan bisa ada di deket lo kayak gini, gue seneng.”

Kemudian, ia menoleh, menatap mata Sabian dengan penuh keberanian yang sebenarnya tengah ia paksakan. “Tapi nanti, kalau seandainya lo kenal seseorang yang bikin lo jauh lebih nyaman... tolong kasih tau gue jauh-jauh hari sebelum lo mau cabut, ya. Gue butuh waktu buat nata ulang hati gue. Jangan tiba-tiba buat jarak tanpa kejelasan, ya? Boleh, kan?”

Kalimat itu bukan sekadar permintaan, melainkan bentuk penyerahan diri yang paling jujur, yang pernah Bianca lakukan. Seakan ia mengumumkan bahwa dirinya siap bahagia dan terluka, karena membiarkan sesuatu yang semu menjadi pusat hidupnya.

Sabian terdiam. Ia melihat ketakutan di mata Bianca—ketakutan yang sama dengan yang dulu pernah ia rasakan terhadap Ajeng. Namun kali ini, ia berada di posisi yang berbeda. Ia tidak lagi mengejar bayangan; ia sedang menggenggam realita yang jauh lebih indah.

“Kok ngeliatin gue kayak gitu, sih? Kenapa? Cringe, ya?” tanya Bianca, mencoba tertawa kecil untuk menutupi rasa malunya.

Namun, Sabian menggeleng cepat. Ia memutar tubuhnya, memposisikan diri sepenuhnya menghadap Bianca. “Sekarang boleh gantian gue yang ngomong?”

Tanpa menunggu respons lebih lanjut dari Bianca, Sabian langsung merogoh saku jaketnya dan mengeluarkan sebuah gelang cantik dengan liontin-liontin kecil yang berkilau lantaran terkena sisa cahaya matahari dan lampu yang mulai menyala. Ia meraih tangan Bianca yang terasa dingin karena angin laut.

“Setiap kali ada di deket lo, gue ngerasa tenang dan nyaman, Bi. Gak ada kekhawatiran yang gue rasain, kecuali khawatir kalau lo kenapa-kenapa. Lo bikin gue ngerasa kalau ‘pulang’ itu bukan cuma ke sebuah tempat, tapi bisa juga ke seseorang. Dan orang itu adalah lo. Jadi, gue mau lo jadi pacar gue, Bi,” ucap Sabian dengan nada rendah namun penuh penekanan.

Bianca terpaku. Napasnya tertahan di tenggorokan. Ia melihat gelang itu melingkar di pergelangan tangannya—seperti sebuah simbol pengikat yang selama ini ia anggap mustahil. Tanpa mampu berkata-kata, ia hanya bisa menutup mulutnya dengan tangan, sementara pandangannya memburam seketika lantaran berkaca-kaca.

Melihat respons itu, Sabian lantas mengusap kepala Bianca dengan penuh kasih, lalu dengan sedikit candaan, ia menganggukkan kepala Bianca secara manual agar seolah-olah perempuan itu setuju. Namun, bukannya kesal, Bianca justru menghamburkan diri, memeluk Sabian begitu kuat hingga keduanya jatuh terguling di atas pasir pantai.

Tawa mereka pecah, beradu dengan suara deburan ombak. Di atas pasir itu, mereka saling mendekap, merasakan detak jantung satu sama lain yang berdegup dengan irama yang sama.

“Akhirnya, ya?” ledek Sabian di telinga Bianca.

“Iya! Akhirnya bisa pacaran sama Masabi!” seru Bianca dengan suara yang serak karena bahagia.

Namun, momen romantis itu tak berlangsung lama. Segera hancur berantakan tatkala sebuah suara menggelegar yang sama-sama mereka kenal, terdengar.

“OJO MESUM NENG TEMPAT UMUM, COK!” teriak Sudirman dengan toa alami di tenggorokannya.

Sabian dan Bianca sontak beringsut memisahkan diri, wajah mereka merah padam bukan karena sinar matahari, melainkan karena malu. Di sana, Zaid, Yayuk, dan Sudirman berdiri sambil bertepuk tangan heboh.

“Akhirnya my brother punya pacar!” seru Zaid, seraya berlari mendekat dan langsung memeluk Sabian, bersamaan dengan yang Yayuk menjerit-jerit bahagia sambil memeluk Bianca hingga mereka terguling di atas pasir.

Sore itu, di sebuah pantai—tempat yang Sabian pikir sebelumnya hanya dapat mengungkit luka, kini menjadi tempat bagi Sabian merayakan cinta barunya. Ia sadar, pantai tidak pernah salah; hanya saja dulu ia datang dengan orang yang salah. Dan sekarang, bersama Bianca, pantai adalah saksi bisu tentang sebuah buku lama yang akhirnya ditutup, dan sebuah buku baru yang lebih cerah yang baru saja ia mulai baca.

Flashback On

Malam itu, di dalam kabin mobil sedan hitam milik Sabian, keheningan terasa membelenggu. Atmosfernya sedikit berbeda dan udara yang ada di sana seakan-akan mampu mencekik pernapasan jika terlalu lama dihirup. Sabian mencengkeram kemudi dengan tangannya, sementara itu matanya menatap lurus ke depan—membelah jalanan yang cukup lengang.

Biasanya, mobil itu selalu dipenuhi oleh dentum dan melodi lagu yang dikurasi dengan begitu apik oleh seseorang, yang tak lain adalah Bianca. Kebetulan perempuan itu bisa disebut sebagai “pemilik” sah kursi penumpang depan di mobil Sabian. Ia adalah orang yang akan protes jika keadaan di kabin mobil terlalu hening, dan akan menyanyi sumbang di sepanjang perjalan yang mereka lakukan.

Namun, malam itu, tak ada eksistensi Bianca di sana. Sabian meninggalkannya di kafe, bersama Zaid dan teman-teman yang lain—begitu saja—hanya demi mengantarkan perempuan di sampingnya untuk pulang.

Ada secuil rasa bersalah yang menggerogoti benak Sabian. Ia meninggalkan Bianca tanpa penjelasan yang benar-benar lugas—hanya sebuah pamitan singkat untuk mengantar Ajeng pulang. Dan, sialnya itu terasa seperti sebuah pengkhianatan kecil yang ia lakukan secara sadar.

Kendati demikian, Sabian tahu betul, jika ia tidak nekat kala itu, maka hantu masa lalunya yang bernama Ajeng akan terus bersemayam di sudut kepalanya, tak akan pernah benar-benar pergi sebab, Sabian masih membutuhkan sebuah kata penutup. Penutup kisah mereka.

Sabian menghela napas panjang, sebuah suara yang terdengar begitu keras di tengah kesunyian di dalam mobil itu. Meski sempat ragu, pada akhirnya ia mencoba memberanikan diri untuk membuka percakapan. “Gimana... kabar?” tanya Sabian akhirnya, memecah keheningan yang sejak tadi mengepung dirinya dan Ajeng.

Ia tidak menoleh, namun melalui ekor matanya, ia dapat melihat bagaimana Ajeng sedikit tersentak sebelum akhirnya sebuah senyum tipis terukir di bibirnya.

“Kabar aku baik, Sab,” sahut Ajeng lembut. Suaranya terdengar masih sama—masih tenang dan terjaga, tipikal suara yang dulunya selalu berhasil membuat Sabian remaja bertekuk lutut dan mendambakannya.

Sabian mengangguk perlahan—tanda paham. Kemudian, jemarinya praktis mengetuk-ketuk kemudi. “Keluarga, gimana?” tanyanya lagi, mencoba memperdalam topik, sekaligus mengalisa keadaan.

Akan tetapi, kali ini suasana berubah. Sabian tak menangkap lagi sebuah senyuman di wajah Ajeng. Perempuan itu justru memalingkan wajah ke arah jendela, menatap deretan ruko-ruko di pinggir jalan dengan tatapan kosong.

“Aku gak tau,” jawab Ajeng lirih. “Dari kuliah, sampai detik ini aku milih buat hidup sendiri. Aku udah lama gak tau kabar tentang keluargaku lagi.”

Mendengar pengakuan itu, Sabian lantas mengernyit. Ia sedikit terkejut. “Dari kuliah, lo di sini?” tanyanya spontan. Sabian menyadari ada perubahan dalam cara bicaranya kepada Ajeng. Ia kini lebih nyaman menggunakan kata ‘lo’ dan ‘gue’. Sebuah jarak linguistik yang secara tidak sadar ia ciptakan untuk menegaskan bahwa ia bukan lagi seorang remaja yang dulu sering mengirim pesan penuh harap pada Ajeng.

“Enggak,” tutur Ajeng. “Waktu kuliah, masih di kota yang sama kayak keluarga. Begitu kerja, baru pindah. Tapi mungkin udah sekitar satu tahun setengah aku di sini.” Ajeng kemudian membetulkan posisi duduknya, sedikit menyerong ke arah Sabian. “Kamu sendiri, sekarang di sini ngapain?”

“Gue masih kuliah,” jawab Sabian singkat.

Jawaban itu sontak membuat Ajeng menegakkan tubuhnya. Matanya membulat tak percaya. “Kamu masih kuliah!? Gapyear? Atau gimana?” tanyanya penuh rasa penasaran. Wajar saja jika ia terkejut; pasalnya mereka berdua berada di usia yang sama, dan di saat Ajeng sudah mulai menapaki karier profesional, Sabian masih berstatus sebagai mahasiswa.

Sabian terkekeh pelan. “Gue pindah univ di tengah jalan, dan ganti jurusan juga.”

“Kenapa!? Salah pilih?”

Lantas, tawa Sabian mengudara. Bukan karena pertanyaan Ajeng, melainkan karena ia teringat akan dirinya dan Zaid yang sepakat mengambil keputusan impulsif itu hanya demi menikmati masa muda, sedikit lebih lama. “Bukan salah pilih. Kebetulan iseng aja, terus Zaid juga punya visi yang sama. Kita ngerasa cukup kewalahan dan pengen lebih menikmati hidup sebagai anak muda aja... sebelum bener-bener jadi serius dan mulai masuk ke dunia kerja yang lo jalanin sekarang.”

Sabian melirik Ajeng sepersekian detik. Perempuan itu tampak manggut-manggut, meski ekspresi heran belum sepenuhnya hilang dari wajahnya. Ajeng kemudian menyalakan layar ponselnya, menerangi wajahnya yang tampak lelah namun tetap cantik. Ada keraguan yang terbaca dari gerak-geriknya.

“Sab...” panggil Ajeng dengan nada yang sedikit terbata. “Mau tukeran nomor gak? Siapa tau kita bisa sesekali ngopi lagi di tempat tadi. Aku gak punya temen di sini.”

Mobil itu melambat saat menemui tikungan tajam. Sabian tidak langsung menjawab. Konsentrasinya seolah terbagi antara jalanan yang menikung dan gejolak di dalam dadanya. Tawaran Ajeng terdengar sederhana, namun bagi Sabian, itu adalah pintu menuju sebuah siklus yang ia tahu tidak seharusnya ia masuki lagi.

“Sebenernya,” kata Sabian, suaranya kini merendah, hampir menyerupai bisikan namun tetap tegas. “Niat gue nganterin lo malem ini karena mau ngelurusin sesuatu.”

“Apa?” tanya Ajeng, cepat.

Sabian melirik pantulan wajah Ajeng melalui kaca, seraya menghela napas panjang. Perasaan campur aduk itu kini mencapai puncaknya. “Waktu itu... waktu kita sekolah... waktu gue selalu ungkapin betapa sukanya gue ke lo, apa perasaan yang lo rasain?” Pertanyaan itu akhirnya terlontar. Pertanyaan yang telah ia simpan selama bertahun-tahun, yang dulu sering membuatnya tak bisa tidur, dan terus mempertanyakan apakah semua perhatian yang ia berikan hanyalah angin lalu bagi Ajeng.

Namun, jawaban yang ia terima justru sebuah antiklimaks. Ajeng tidak tampak tersentuh atau merasa bersalah atas kepergiannya yang meninggalkan luka bagi Sabian. Ia justru melempar balik pertanyaan dengan nada yang ringan. “Buat apa, deh, kita bahas hal yang udah lama berlalu?”

Mendengar itu, Sabian terdiam. Sudut bibirnya tertarik ke atas. Ia mengangguk seketika, sebuah gerakan kepala yang penuh dengan pengertian pahit. Dalam satu kalimat itu, Sabian mendapatkan jawabannya. Ia tidak butuh penjelasan panjang lebar tentang alasan Ajeng tidak pernah menghubunginya lagi setelah pergi, atau mengapa jauh sebelum itu Ajeng seolah terus menggantung perasaannya. Jawaban Ajeng membuktikan bahwa bagi perempuan itu, semua perjuangan Sabian dulu hanyalah momen kecil yang tidak penting untuk diingat.

Detik itu juga, bayangan Bianca melintas di benaknya. Bianca yang cerewet, Bianca yang selalu tahu penjelasan apa yang ingin ia dengar, Bianca yang memberikan kepastian tanpa perlu diminta. Bianca adalah penawar bagi luka-luka lama yang tak kunjung sembuh, dan Ajeng hanyalah pengingat bahwa ia pernah menjatuhkan hati pada orang yang salah.

“Oke, Jeng,” sahut Sabian singkat.

Sudah seperti itu, Ajeng tetap seakan tak merasakan perubahan suasana hati Sabian barang sedikit pun. Ia justru kembali ke topik sebelumnya, seakan-akan pertanyaan Sabian sebelumnya, hanyalah gangguan kecil. “Jadi, gimana? Nomor kamu berapa?”

Sabian menarik napas dalam, memantapkan hatinya. “Gue rasa, ini harus jadi terakhir kalinya kita ngobrol. Selama ini, gue selalu kepikiran sama cinta pertama gue yang lumayan bikin gue ngerasa kehilangan tanpa closure. Tapi, sekarang enggak lagi. Ini udah waktunya gue buat tutup buku, dan kebetulan gue punya buku baru yang bener-bener pengen gue baca....”

“Sab...” Ajeng mencoba memotong, wajahnya kini menunjukkan kebingungan yang nyata.

“Gue harap, lo bisa nemuin beberapa temen yang cocok sama lo di kota ini,” lanjut Sabian tanpa memberi ruang bagi Ajeng untuk berargumen. “Kebetulan gak lama lagi gue juga udah harus balik ke Jakarta,” timpalnya.

Mungkin kenyataan bahwa Sabian menolaknya secara halus namun sangat tegas membuat Ajeng terdiam. Ada keheningan baru yang tercipta—bukan lagi keheningan yang penuh tanya, melainkan keheningan yang menandakan sebuah perpisahan untuk selamanya.

“Ini arah rumah lo ke kanan, kan?” tanya Sabian saat mereka mendekati sebuah persimpangan sesuai arahan peta digital.

Mendengar pertanyaan itu, Ajeng praktis menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari kontak mata. “Iya, sesuai sama yang ditunjukin sama mapsnya,” jawabnya lirih, nyaris tak terdengar—namun, Sabian sudah tak peduli lagi.

Sabian duduk tak tenang di balik kemudi mobilnya yang tengah terparkir rapi di depan satu rumah yang bangunannya tampak sederhana, namun cukup luas. Rumah itu tak lain adalah tempat tinggal Bianca—sebuah rumah sewa di kawasan yang dekat dari kampus mereka, ramai dengan lalu lalang kendaraan dan suara klakson yang sesekali memecah keheningan sore.

Cukup lama Sabian menunggu. Ia melirik jam tangannya; sudah hampir satu jam sejak ia tiba di sini namun, Yayuk—sahabat Bianca yang juga menjadi perantara mereka kali, tak kunjung keluar dan membawa Bianca bersamanya.

Sabian menggigit bibir bawahnya, mencoba menenangkan pikirannya yang kini sudah berlarian ke mana-mana. Kekhawatiran mulai merayap dalam benaknya. Bagaimana kalau Bianca lagi-lagi menolak untuk bertemu dengannya? Bagaimana kalau kali ini, ia benar-benar kehilangan kesempatan untuk menjelaskan semuanya? Perasaan bersalah yang belakangan ini ia pendam mulai bergolak, bercampur dengan penyesalan yang dalam. Ia ingat betapa bodohnya ia malam itu, ketika semuanya berantakan hanya karena satu keputusan impulsif yang ia buat.

Sabian mengusap wajahnya dengan kasar menggunakan kedua tangannya, seolah mencoba menghapus rasa frustasi yang menekannya. Rambutnya yang semula rapi kini sedikit acak-acakan, mencerminkan kekacauan di dalam dirinya.

Entah, harus bagaimana lagi, pikirnya.

Sejauh ini, ia sudah mencoba banyak cara untuk mendekati Bianca kembali. Telepon tetap tak diangkat, pesan pun jarang dibalas. Dan, yang lebih sialnya lagi, Zaid, sahabat karibnya yang selalu memiliki solusi cerdas untuk setiap masalah, kali ini memilih angkat tangan. Kendati begitu, Sabian paham, Zaid juga sempat sama kesalnya seperti Bianca—bisa dimaafkan saja sudah syukur.

Hanya Yayuk harapan terakhir yang Sabian miliki. Tapi sekarang, jika bahkan meminta bantuan Yayuk tak membuahkan hasil, mungkin ia harus pasrah. Mungkin ia harus meratapi nasibnya dan menghormati keputusan Bianca, meski itu berarti kehilangan seseorang yang sempat ingin ia jadikan bagian penting dari hidupnya.

Udara di dalam mobil terasa dingin karena AC yang menyala penuh, tapi itu tak cukup untuk mendinginkan kegelisahan yang menyelimuti diri Sabian. Meski tangannya sedingin es, keningnya basah oleh keringat yang mengalir pelan—seolah tubuhnya tengah berperang dengan dirinya sendiri.

Sambil menunggu, Sabian berkali-kali menatap layar ponselnya dengan harapan, ada pesan dari Yayuk yang memberikan kejelasan. Namun nahas, tak ada notifikasi baru yang ia dapat dari perempuan itu.

Tatkala Sabian masih sibuk dengan ponsel dan kecemasannya, tiba-tiba saja, dari ekor matanya, ia menangkap gerakan di depan rumah itu. Usut punya usut, Yayuk telah keluar, dan tangannya menuntun seseorang yang tak lain adalah Bianca.

Sabian membeku seketika. Jantungnya berdegup kencang karena adrenalin. Ia tak percaya dengan mata sendiri. Dengan apa yang ia lihat dari dalam mobilnya saat ini. Setelah berhari-hari mencoba, akhirnya Bianca bersedia menemuinya. Akhirnya ia bisa melihat Bianca lagi. Wajahnya yang biasanya cerah, kini tampak lesu, langkahnya malas dan penuh paksaan, seolah ia dipaksa untuk keluar. Tak lama kemudian, Yayuk, dengan senyumnya yang khas—campuran antara nakal dan penyayang—membuka pintu penumpang depan mobil Sabian. “Maaf ya lama. Biancanya siap-siap sek, ben ketok ayu,” katanya sambil membantu Bianca duduk di samping Sabian. Sementara itu, Bianca tampak pasrah, tubuhnya menurut saja tanpa protes secara verbal.

Sabian hanya bisa manggut-manggut, sebab kata-kata seolah masih lenyap dari mulutnya. Kendati begitu, tangan kanannya hampir saja meraih sabuk pengaman untuk memasangkannya pada Bianca, namun Yayuk lebih cepat. Gerakannya lembut, seperti seorang ibu yang mengurus anaknya.

“Nah, wes siap, teman-temanku. Tiati yo nggowo mobil e, Sab,” tambah Yayuk dengan senyum culas yang membuat Sabian sedikit rileks. Ia tahu Yayuk sedang berusaha mencairkan suasana.

“Loh, elo gak ikut?” tanya Bianca dengan nada penasaran, ia bahkan menleh sempurna ke arah Yayuk.

Yayuk hanya menggelengkan kepala, cengengesan tanpa kata-kata, lalu menutup pintu mobil dengan pelan. Seolah tak berkenan untuk memberi penjelasan lebih lanjut. Meninggalkan Sabian dan Bianca—hanya mereka berdua di dalam mobil yang tiba-tiba terasa sempit. Suasana menjadi canggung, terlebih setelah eksistensi Yayuk benar-benar lenyap dari pandangan mereka. Seperti ada kabut tebal yang tengah menyelimuti kabin mobil itu. Maklum saja, dua orang yang saling menyukai tapi terjebak dalam konflik batin seperti ini pasti akan merasakan hal serupa.

Sabian menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan keberanian untuk melakukan tindakan selanjutnya. Tanpa kata, ia menghidupkan mesin mobil dan mulai mengemudikannya pelan, meninggalkan halaman depan rumah Bianca itu dengan keheningan. Namun, Bianca yang tampaknya tak tahan dengan kesunyian yang menyiksa di antara mereka itu, langsung meraih tombol audio di dashboard mobil. Ponselnya langsung terhubung dengan perangkat dalam mobil Sabian, dan hal itu sontak membuat Sabian kembali mengingat saat-saat di mana hubungan mereka sedang baik-baik saja.

I'll probably be a waste of your time, but who knows?

Chances are I'll step out of line, but who knows?

Lately, you've set up in my mind

Yeah girl you, and I like that

Lagu “Who Knows” dari Daniel Caesar mulai mengalun pelan, suaranya lembut dan melankolis, tak terlalu kontras dengan atmosfer di antara mereka saat ini.

“Lo udah makan?” tanya Sabian tiba-tiba, suaranya pelan namun penuh akan perhatian. Ia tak menoleh, tapi melalui pantulan kaca spion, ia bisa melihat wajah Bianca—wajah yang belakangan ini sangat ia rindukan.

Bianca menggeleng lemah, “Belum.”

Jawaban itu praktis membuat Sabian menarik napas panjang. Ia sudah menduganya. Sejak pertama melihat Bianca di depan rumahnya, ia perhatikan betapa Bianca tampak lebih kurus, massanya hilang, dan kulitnya lebih pucat dari biasanya. Terlebih lagi, sehari yang lalu Yayuk sempat menceritakan seperti apa keadaan Bianca akhir-akhir ini. Rasa bersalah Sabian kembali menyeruak. Lebih kuat dari sebelumnya. Bukan hanya karena kejadian malam itu, tapi karena ia merasa bertanggung jawab atas kondisi Bianca sekarang.

“Kita makan, ya,” kata Sabian, suaranya tegas tapi tetap lembut. Tangan kirinya, yang kebetulan tak memegang setir, bergerak pelan ingin menyentuh pucuk kepala Bianca. Akan tetapi Bianca menghindar cepat, seolah tak siap.

Alih-alih merasa sedih atau kecewa karena penolakan itu, Sabian justru tersenyum tipis dan mengulangi gerakannya, kali ini lebih cepat. Membuat Bianca tak sempat menghindar untuk kedua kalinya. Tanpa Sabian sadari, detik itu juga air wajah Bianca berubah. Ia tampak melunak, lebih tenang, tatapannya teduh, dan sama sekali tak membuat gestur penolakan.

“Lo mau makan apa?”

Tanpa pikir panjang, Bianca langsung menjawab. “Yang anget, berkuah.”

“Ramen?” tanya Sabian, menebak selera Bianca yang ia kenal betul. Dan, tatkala ia kembali melihat pantulan sosok Bianca pada kaca, perempuan itu mengangguk pelan. Sabian praktis mengusap kepala Bianca lagi, gerakan itu seperti obat penenang bagi dirinya sendiri. “Makasih ya, udah mau keluar dan ikut gue....”

Kemudian, suara decihan terdengar lolos dari bibir Bianca. “Gue dipaksa Yayuk,” timpalnya dengan nada datar.

Mendengar itu, Sabian hanya manggut-manggut, tak terkejut. “Tapi, Bi... soal malam itu...” Sabian berdeham singkat, tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Ia menarik napas panjang, mencoba mengatur kata-kata. “Gue minta maaf karena pergi gitu aja sama perempuan yang lo gak mau gue sebut namanya,” tutur Sabian hati-hati. Ia takut kalau-kalau Bianca masih belum berkenan membahas perihal masalah ini.

“Iya, si Ajeng,” kata Bianca cepat.

Sabian langsung menoleh. “Kenapa malah lo yang sebut?”

“Ya, emang dia kan yang mau lo bahas sekarang ini?”

Sabian buru-buru menggeleng. “Gue bukan mau bahas dia, tapi mau ngelurusin kesalahpahaman di antara kita, Bi.” Sabian menarik napas panjang lagi, lalu kembali fokus pada jalanan di depan sana. Mobil mereka melaju pelan di tengah lalu lintas sore yang mulai padat. “Malam itu, tujuan gue bukan buat nganter dia pulang, tapi buat nyelesaiin apa yang tadinya belum selesai buat gue. Dulu, sama dia emang gak ada status apapun, tapi perasaan gue gak pernah palsu, dan dia selalu ngerespons itu dengan baik. Terus, tiba-tiba dia pergi.... Jujur, cara dia ninggalin gue waktu itu, cukup bikin gue susah terima kenyataan. Gue susah lupa, bukan karena gue masih suka sama dia. Tapi karena gue selalu bertanya-tanya, salah gue apa, sih? Apa konsekuensinya tulus suka sama orang, emang kayak gitu? Semenjak deket sama lo, gue selalu minta sama Tuhan supaya pemikiran itu ilang. Supaya gue bisa fokus ngejalanin apa yang kita berdua mulai. Dan, ya, malam itu, dia muncul di depan gue, Bi. Di antara banyaknya kebetulan, dan setelah bertahun-tahun lamanya, dia muncul di malam itu. Jadi gue pikir, Tuhan juga maunya gue bener-bener tutup buku lama gue dulu, sebelum mulai baca buku yang baru.”

Sabian tetap fokus mengemudi, tapi pikirannya melayang ke masa lalu. Ia ingat betapa Ajeng pernah menjadi bagian penting dari hidupnya. Bertahun-tahun ia berusaha menghapus ingatan tentang perempuan itu, namun bayang-bayangnya selalu ada. Hingga saat Bianca muncul, dengan senyumnya yang hangat dan kepribadiannya yang membuat Sabian merasa hidup lagi.

“Sumpah demi Tuhan, Bi, malam itu gue cuman nganterin dia sambil buat closure di antara kita. Habis itu gue langsung balik ke kafe. Tapi lo sama yang lainnya udah gak ada,” lanjut Sabian, suaranya semakin mantap. Bianca hanya diam, tak merespons. Sabian meraih tangan Bianca dengan hati-hati. Tangan itu terasa dingin dan lemah, membuat hatinya semakin pilu.

“Gue suka, bahkan sayang sama lo. Entah sejak kapan, Bi. Dan, karena perasaan itu, gue jadi takut kalau suatu hari nanti gue nyakitin lo cuman karena bayangan dia masih terus ngikutin gue. Jadi, gue pilih selesaiin semuanya malam itu, sebelum kita jalan lebih jauh.” Di penghujung kalimatnya, Sabian menoleh sekilas ke Bianca. Yang ia lihat justru membuat hatinya teriris; mata Bianca berkaca-kaca, air matanya hampir tumpah. “Eh? Kenapa? Ada kata-kata gue yang salah lagi?” tanya Sabian panik.

Namun, Bianca cepat-cepat menggeleng.

“Terus kenapa?” ulang Sabian.

Detik itu, Bianca membalas genggaman tangannya dengan erat. “Pinggirin mobilnya,” pintanya tanpa basa-basi.

Sabian, yang masih dalam mode membujuk, lantas langsung menurut. Ia menepi ke pinggir jalan, memarkir mobilnya dengan tergesa. Tatkala mobil itu sudah terparkir sempurna, Sabian praktis melepas sabuk pengamannya, memutar tubuh demi menghadap Bianca sepenuhnya.

Di sisi lain, Bianca juga melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya ia menghambur, memeluk Sabian tanpa kata. Ia hanya menangis di pundak Sabian, melepaskan segala emosi yang ia pendam sejak beberapa hari lalu.

“Sttt... kenapa, Bi?” tanya Sabian lembut, tangannya mengusap kepala dan punggung Bianca berkali-kali.

“Bi... kenapa?” Sabian mengulang pertanyaan.

Bianca semakin menggelamkan wajahnya. “Maaf juga, Mas.... Maaf, karena udah bikin lo keluarin tenaga ekstra buat bujuk gue... walaupun sebenernya lo gak begitu salah....”

Alih-alih terharu, usai mendengar perkataan Bianca itu, Sabian justru terkekeh pelan. “Gak begitu salah? Bilang gue salah banget juga gak apa-apa, Biancaaaa,” katanya gemas. “Dan lo gak seharusnya minta maaf juga. Ngebujuk lo itu pilihan gue, Bi.”

Bianca praktis mengerucutkan bibirnya. “Kalau gitu, gue boleh lanjut marah? Supaya bisa lo bujuk terus?”

Sabian kembali terkekeh. “Boleh, tapi ngambeknya break dulu, ya. Kita makan dulu.”

Sabian membuka mata perlahan-lahan, sembari meregangkan tubuh. Jam dinding menunjukkan pukul 07.15. Biasanya, di pagi hari seperti ini, kosan yang ia huni bersama Zaid dan Sudirman selalu ramai dengan suara tawa, candaan kasar, atau setidaknya obrolan ringan di sela-sela aktivitas pagi. Akan tetapi hari ini, suasana masih sama seperti kemarin dan dua hari lalu. Hening. Hanya ada suara televisi yang sedang menyiarkan berita pagi secara samar-samar.

Sabian beranjak dari tempat tidurnya, seraya membuka pintu kamar. Dari ambang pintu itu ia dapat melihat punggung Zaid dan Sudirman yang duduk berdampingan di atas sofa, di hadapan televisi. Keduanya tampak asyik, sesekali Zaid mengomentari isu perselingkuhan seorang selebriti yang baru saja terkuak, sementara Sudirman akan menimpali dengan energi yang sama atau hanya tertawa kecil. Tak ada yang menoleh ke arahnya sedikitpun meski pintu kamar yang sempat ia buka itu menimbulkan suara yang cukup untuk mengusik telinga.

Sabian menghela napas panjang. Ia tahu pasti penyebab kekesalan kedua kawannya itu. Dan, ia berusaha acuh sejak awal. Namun, hari berlalu, dan diabaikan dengan orang yang tinggal bersama dengannya itu mulai terasa menyiksa untuk dirinya sendiri.

Lantas, Sabian berniat untuk bergabung dengan mereka, duduk di sofa, dan ikut menonton televisi sembari berusaha untuk mencairkan suasana di antara ia, Zaid, serta Sudirman.

Perlahan tapi pasti, kakinya mulai melangkah tanpa suara. Sabian sempat merasa sedikit cemas, hingga menggigit bibirnya sendiri.

“Ada berita apa hari ini?” tanya Sabian. Nada bicaranya riang, tepat saat ia muncul di hadapan Zaid dan Sudirman dari arah samping.

Namun, tatkala bokongnya baru saja hampir ikut mendarat di atas sofa yang empuk itu, tiba-tiba Zaid berdiri dengan cepat. “Eh, gue ke WC dulu, Dil,” katanya datar, tanpa menatap Sabian sama sekali, lalu berjalan cepat menuju kamar mandi.

Hampir bersamaan, Sudirman juga ikut berdiri. Namun, tanpa mengatakan apapun, ia langsung menuju dapur kecil di sudut kosan.

Mendapat reaksinya yang demikian, Sabian praktis terdiam di tempatnya, bokongnya akhirnya mendarat di sofa dengan pelan. Televisi masih menyala, suara penyiar berita seakan bergema di ruangan yang tiba-tiba terasa lebih luas. Ia menunggu. Lima menit. Sepuluh menit. Zaid tak kunjung keluar dari kamar mandi. Sudirman juga tak kembali ke sofa. Sabian melirik ke arah dapur—Sudirman tengah menikmati nasi goreng yang sepertinya sisa semalam—ia duduk sendirian di meja makan kecil.

Dengan perasaan yang sejujurnya masih tak nyaman, Sabian memutuskan untuk menghampiri Sudirman dan ikut sarapan. Ia mengambil piring, menyendok nasi dari magic com yang selalu hangat, lalu membuat telur ceplok dengan terburu-buru.

Tatkala makanannya siap, Sabian langsung mendudukan dirinya di seberang Sudirman, sembari berusaha tersenyum. “Si Zaid udah makan duluan? Kok udah buang air aja dia?” tanyanya basa-basi.

Sudirman hanya mengedikkan bahunya. Tak ada jawaban verbal yang ia lontarkan. Dan gestur itu kontan saja membuat Sabian menggigit bagian dalam pipinya.

Sabian mulai makan, tanpa ingin mendalami perasaannya sendiri. Akan tetapi, baru beberapa suap, Sudirman tampak sudah menghabiskan isi piringnya. Ia pun bergegas berdiri, membawa piring itu wastafel untuk mencucinya bersama dengan piring-piring lain.

Sabian lantas merasa dadanya yang sesak sembari menelan makanan. Ini sudah terlalu jauh. Upaya Zaid dan Sudirman untuk mengabaikannya sudah terlalu jauh. Sebagai golongan orang yang sangat perasa, tentu saja batinnya sudah gelisah bukan main. Lantas, Sabian buru-buru menghabiskan makanannya. Ia bahkan hampir tersedak karena terlalu cepat. Dan, piringnya yang sudah kosong, secara teknis menjadi alasan bagus untuk mendekati Sudirman, lagi.

Sabian beranjak, berjalan tanpa suara, ke arah wastafel. Jantungnya berdegup kencang. Ia sebenarnya merasa sangat was-was. Takut kalau-kalau salah bicara, atau tindakannya kali ini justru membuat Sudirman semakin jengah.

Sabian berdeham singkat, seraya menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya dan mencoba santai. “Ngapain, Dil?”

Sudirman tak langsung menjawab. Ia melirik sekilas ke samping—tepat di mana Sabian tengah berdiri. Tatapannya dingin, dan sinis. “Bongkar motor! Gak ndelok ta iki?!” jawabnya ketus, menggunakan logat jawabnya yang sangat kental.

Detik kemudian, Sabian cengengesan, meski di dalam hatinya semakin gelisah. “Anu, nitip satu, Dil,” katanya seraya meletakkan piringnya di wastafel dengan harapan Sudirman akan melanjutkan mencuci miliknya juga—seperti biasa.

Tapi tidak. Sudirman justru langsung memutar keran, membasuh tangannya cepat-cepat, lalu mengeringkannya dengan lap gantung sebelum akhirnya berbalik badan. Jangankan piring Sabian, piring-piring yang sudah sempat ia sabuni saja, ia tinggalkan tanpa pikir panjang.

“Dil!” seru Sabian, namun suaranya lebih keras dari yang ia rencanakan. Membuat langkah Sudirman terhenti seketika.

Sabian menelan ludah. “Lo sama Zaid kenapa, sih?” tanyanya, meski jauh di lubuk hati Sabian yang paling dalam, ia sudah tahu jawabannya.

Semua ini karena malam itu. Malam terakhir saat mereka menghabiskan waktu bersama di sebuah kafe di pinggir kota. Malam saat ia pergi meninggalkan kawan-kawannya, bahkan juga Bianca, hanya demi seorang perempuan dari masa lalunya. Diajeng Pramesti.

Sejak dulu, Zaid memang kurang menyukai perempuan itu. Terlebih lagi setelah ia seperti meninggalkan sebuah trauma dalam hal percintaan di kehidupan Sabian. Sementara Sudirman—ia sepupu Bianca. Bianca yang akhir-akhir ini sudah sangat dekat dengan Sabian, nyaris selayaknya sepasang kekasih. Sebagai seseorang yang menyayangi sepupunya, Sudirman mungkin tak terima kalau Sabian masih “terbelenggu” masa lalu, apalagi sampai memilih Ajeng lagi di hadapan Bianca.

Sudirman tak menjawab. Ia hanya diam, namun Sabian dapat melihat tatkala tangan kawannya itu mulai mengepal perlahan.

Tiba-tiba, pintu kamar mandi yang sudah cukup lama tertutup—terbuka lebar dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Zaid keluar dengan wajah kesalnya.

“Kita gak kenapa-kenapa! Harusnya lo tanya itu ke diri lo sendiri!” cetus Zaid, sembari menunjuk Sabian.

Sabian langsung terdiam.

Lalu, Sudirman yang secara teknis berada di hadapannya, menghela napas panjang, seperti menahan amarah yang sudah di ujung tanduk. “Aku wes weruh teko Zaid soal alasanmu. Tapi, menurutku iku sama sekali gak cukup. Aku seh gak ngerti, opo seng awakmu golek, Sab? Kok sampe sebegitune. Opo kon gak mikir perasaan sepupuku? Opo seng pantes dimengerti hanya dirimu, tah?”

Ketiganya kini saling menatap bergantian. Suasana menjadi lebih tegang, setelah Sudirman membuka mulutnya.

Tak lama kemudian, Sabian mengusap wajahnya kasar dengan kedua tangan. Ia tampak sedikit frustrasi. “Gue cuman pengen masa lalu gue beneran selesai sebelum gue mulai sama Bianca,” kata Sabian, suaranya naik turun.

“Malem itu Tuhan kasih kesempatan. Gue itu gak pernah dapet closure dari dia, dan gue ngerasa kalo itu udah ngebebanin perasaan gue selama ini. Emang salah kalo gue mau selesaiin masa lalu gue?”

“TUELEK!” hardik Sudirman tiba-tiba, suaranya menggelegar dalam dialek Jawa yang kasar. “Alasanmu klasik. Cinta monyetmu bajingan!”

Sabian langsung menunduk. Matanya menatap lurus ke lantai keramik di bawah kakinya. Dadanya sesak. Ia tahu Sudirman marah, tapi kata-kata itu tetap menusuk.

Zaid hanya diam, akan tetapi tatapannya tak lagi sekasar sebelumnya—ada sedikit empati di sana, untuk Sabian.

“Zaid tau sekurang perhatian apa gue waktu itu. Bokap gue yang sekarang, dulu gak gini. Hubungan gue sama nyokap gue juga kurang erat. Dari kecil, selalu ada orang lain yang ngewakilin peran orang tua gue—tante, om, bahkan pembantu rumah tangga. Terus gue kenal Ajeng di titik krusial itu. Dulu buat gue, dia bahkan lebih deket satu langkah dari Zaid sekali pun. Jadi, gue bukan sekedar suka sama dia, tapi juga bergantung. Di umur yang masih selabil itu … gue kasih semua perasaan gue ke dia…. Tapi, gue ditinggal gitu aja, bahkan tanpa dikasih kesempatan terakhir buat ketemu dan ngobrol langsung.”

Sabian menarik napas dalam. “Gue bisa bilang kalo sekarang perasaan gue cuman buat Bianca, sepupu lo. Tapi trauma gue sebelumnya masih ada, Dil. Gue gak mau rasa takut diabaikan itu—yang selalu muncul tiba-tiba—ganggu hubungan gue sama Bianca kedepannya. Gue takut suatu saat gue jadi posesif berlebihan, atau justru menjauh karena takut disakiti lagi.”

Ia berhenti sejenak. Zaid dan Sudirman masih diam, mendengarkan.

Tiba-tiba, tanpa diduga, Sabian berlutut di depan keduanya. Lututnya menyentuh lantai yang dingin.

“Anjing, kenapa lo kayak gitu? Bangun, bangun!” pekik Zaid panik, langsung maju ingin menarik Sabian berdiri.

Tapi Sabian tetap di posisinya. “Gue minta maaf,” katanya, suaranya bergetar.

“Maaf karena selalu libatin lo di masalah gue sama Ajeng, Id. Sampai-sampai lo jadi gak suka sama dia. Maaf buat segala kesialan yang lo laluin selama gue suka sama dia. Luka lo akibat jatuh dari motor bareng gue juga gak bisa ilang, gue bener-bener minta maaf soal itu. Dan buat lo, Dil... gue tau lo marah kayak gini karena lo sayang sama Bianca—gue pun sama. Gak ada sedikitpun niat gue buat nyakitin dia. Dia baik banget buat gue. Cara gue salah, gue akuin itu. Tapi gue bener-bener selesaiin semuanya. Itu juga demi Bianca. Gue minta maaf.” Di akhir kalimatnya, pandangan Sabian memburam. Matanya berkaca-kaca.

Lantas, ruangan itu hening seketika. Zaid dan Sudirman saling pandang dengan bibir yang tertutup rapat. Mereka tak menyangka Sabian akan sejauh ini—berlutut, mengungkit semua luka lama dengan sangat terbuka—bahkan di hadapan Sudirman.

Alhasil, keduanya sama-sama merasa tak tega. Dan, hampir serentak, keduanya maju. Zaid menarik tangan kiri Sabian, sementara Sudirman menarik tangan kanannya. Mereka berusaha membantu Sabian berdiri.

“Kita maafin,” kata Zaid pelan, seraya menepuk punggung Sabian beberapa kali.

“Iya, kita maafin,” ulang Sudirman, suaranya kini jauh lebih lembut.

Mendengar itu, Sabian langsung tersenyum lebar—senyum yang sudah sejak beberapa hari terakhir tak pernah terlihat di wajahnya. Ia tarik kedua kawannya itu ke dalam pelukan dengan gerakan yang begitu cepat. Pelukan khas laki-laki yang penuh tepukan keras di atas punggung, dan hanya berlangsung singkat.

“Maaf juga, kita udah terlalu kasar.”

“Iya, kita cuma mau lo sadar,” timpal Zaid pada perkataan Sudirman.

Sabian yang merasa sangat senang, praktis manggut-manggut seraya menarik sudut bibirnya ke atas. Kini, pandangannya tak lagi buram, hanya ada rasa lega yang tersisa.

“Terus saiki, kon mbe Bianca pie?” tanya Sudirman penasaran, nada khawatirnya masih tersisa. “Wes ada omongan?”

Mendapat pertanyaan itu, Sabian praktis menggeleng lemah. “Belum ada. Gue udah gak bisa hubungin dia sama sekali. Sempet gue chat, dan dia bales singkat-singkat. Tapi terakhir gue cek, kayaknya dia blokir nomor gue. Mungkin karena gue spam telpon.” Sabian menghela napas panjang. “Hari ini mau gue samperin langsung ke kosannya.”

Sudirman dan Zaid saling pandang lagi, lalu mengangguk setuju.

“Bagus, pikiran lo jalan,” kata Zaid sambil menepuk bahu Sabian.

“Jelasin yang bener. Pelan-pelan aja, yang penting tersampaikan dengan baik. Bianca iku, wong e pemaaf, kok,” tambah Sudirman.

Meski tak mengatakan apapun, jauh di dalam hati, Sabian merasa sangat senang. Setidaknya kini Sudirman dan Zaid sudah bisa diajak bicara seperti sedia kala. Setelah ini, barulah ia akan memusingkan perihal memohon maaf dari Bianca.

Di sebuah kafe klasik yang dindingnya penuh akan coretan spidol permanen dari para pengunjung yang pernah datang, lampu neon temaramnya menyorot ke area terbuka, memantulkan bayang-bayang gelas di atas meja yang lapang. Angin malam berembus pelan, namun dinginnya sukses menembus kulit. Suara speaker berkumandang—memutar lagu-lagu yang baru-baru ini hits di media sosial—mengaduk udara lembap yang bercampur bau kopi yang khas, serta manisnya gula aren.

Di seberang, lampu jalan berwarna kuning mulai menyala satu per satu, memantul di genangan air, sisa hujan sore tadi. Mobil-mobil melaju pelan, suara klaksonnya teredam oleh angin malam.

Bianca duduk dengan santai, punggungnya menempel pada sandaran kursi, sementara tangannya memegang segelas latte yang sudah hampir habis. Busa susunya menggumpal di dinding gelas, seperti awan kecil yang tak lagi bergerak. Rasa manis dan pahitnya sudah digantikan rasa hambar berkat batu es yang mencair, sejak beberapa saat lalu. Bianca celingak-celinguk, matanya yang kecokelatan menyapu setiap sudut kafe itu, mengamati wajah tiap-tiap pengunjung yang berlalu-lalang—mencari eksistensi Yayuk.

Pesan terakhirnya sudah Bianca lihat berkali-kali: ‘Lagi di jalan, kayaknya 10 menit lagi.’ Tapi sudah lebih dari 30 menit waktu berlalu, batang hidung kawannya itu tak kunjung terlihat. Kalau boleh jujur, Bianca mulai jenuh menjadi satu-satunya perempuan di antara Sabian, Zaid, juga Sudirman. Bukannya Bianca tak serekuensi, hanya saja ia tipikal orang yang tak ingin sembarangan masuk ke dalam pembicaraan sekelompok laki-laki. Ia takut kalau-kalau ucapannya akan salah, atau bahkan menimbulkan perdebatan sengit.

Sabian duduk di seberangnya, kaos putih polosnya kini sedikit kusut di bagian dada, rambutnya berantakan karena sering ia sentuh dan sisir ke belakang menggunakan jari tangan. Tawanya terdengar renyah, seperti keripik yang baru digigit, setiap kali Zaid melempar sebuah lelucon spontan. Di sampingnya, Zaid bersandar di kursi, dengan kaki disilang, dan tangan yang memegang secangkir amerikano yang sudah dingin, sembari ikut cekikikan seperti Sabian. Lalu, Sudirman, menjadi yang paling santai di antara ketiganya, mulutnya penuh, tapi tetap bicara dengan logat daerahnya yang begitu khas.

Meski Bianca mendengar semuanya, akan tetapi ia tak benar-benar mencoba memahami apa yang para laki-laki itu bicarakan. Kata-kata mereka hanya seperti suara latar, seperti AC yang berdengung—ada, tapi tak dianggap.

Detik kemudian, Bianca kembali membuka ponsel. Layarnya menyala, namun notifikasinya masih kosong. Dan, hal itu kontan membuatnya menarik napas panjang.

“Bianca!” Tiba-tiba saja suara yang begitu lantang memecah atensi sang empunya nama, sekaligus ketiga laki-laki yang duduk bersamanya.

Bianca mendongak, matanya yang semula menatap layar ponsel, kini melihat lurus ke depan. Dan, di sana, Yayuk tengah berdiri di dekat sebuah pilar. Tas selempangnya melorot, rambut panjangnya acak-acakan, dan napasnya tampak sedikit tersengal dengan dada yang naik turun—sepertinya ia baru saja berlari dari parkiran.

Lantas, Bianca bangkit dari tempat duduknya. Sedikit memicingkan mata, tatkala menyadari bahwa Yayuk menatapnya dengan kedua pupil yang melebar, akting terkejutnya nyaris sempurna—tapi Bianca tahu, sorot matanya penuh konspirasi.

“Kamu ndek kene juga?” (kamu di sini juga) sapa Yayuk, kini raut wajahnya sengaja dibuat polos, seakan-akan ia benar-benar tak menduga bahwa Bianca juga berada di tempat yang sama.

Mendengar itu, spontan saja Bianca mengangguk kikuk, bibirnya mengulum senyum yang terasa kaku di pipinya. Ingin sekali ia tertawa, tapi ada sesuatu yang menahan—harga dirinya.

Di sisi lain, Yayuk yang penuh akan rasa percaya diri, praktis bersalaman dengan Sabian, Zaid, serta Sudirman—satu per satu, tangannya hangat, dan suaranya ceria. “Halo, guys! Aku Yayuk, konco kentel e Bianca.”

Sabian praktis menarik kursi dari meja sebelah, usai menjabat tangan Yayuk—kursi itu berderit keras, bunyinya menusuk telinga. “Duduk sini aja,” katanya, nada bicaranya begitu ramah. Seakan-akan tengah menunjukkan bahwa ia dengan tulus menerima eksistensi teman Bianca yang tiba-tiba.

Alhasil Yayuk merasa senang di dalam hatinya, lantaran telah berhasil diterima dalam kelompok kecil itu. Detik kemudian, Yayuk mendaratkan bokongnya.

Kendati begitu, tak lama sejak Yayuk duduk di sana, tawa canggung menyelimuti mereka—semua saling pandang, seperti orang-orang yang baru sadar mereka terjebak di dalam suasana yang kini sedikit terasa kaku.

Tak ingin tenggelam dalam keheningan, Sudirman bangkit tanpa memberi sedikitpun aba-aba, kursinya bergeser, hingga menimbulkan suara derit yang keras. “Mau minum, nggak? Sisan, mesen panganan ringan meneh soale,” (sekalian pesan makanan ringan soalnya) tanyanya pada Yayuk, sembari merogoh dompet dari dalam saku celana. Kebetulan sekali Yayuk belum memesan apapun, sebelumnya.

“Mau!” jawab Yayuk secara spontan. Ia pikir, malu-malu di tengah momen yang seperti ini, justru akan menambah berat atmosfer di antara mereka.

“Minum apa?”

“Opo wae lah, asal kopi,” (apa aja) katanya santai, bahunya naik-turun, dan kepalanya manggut-manggut dengan semangat.

Seakan langsung paham dengan apa yang Yayuk inginkan, Sudirman hanya mengangguk cepat sebelum akhirnya melenggang pergi, meninggalkan aroma parfum yang pekat di udara.

Bianca memperhatikan Yayuk yang duduk di sebelahnya, mata kawannya itu lamat-lamat mengamati Sabian—mulai dari rambut, kaos polos yang ia kenakan, sampai jari-jarinya yang lentik, yang terus saja mengetukkan ujung kukunya pada permukaan meja. Detik kemudian, Yayuk menoleh ke arah Bianca, alisnya naik sekilas—seperti sebuah tanda tanya tanpa kata. Lalu kembali menatap Sabian.

“Awakmu ini, pacarnya Bianca ya?” tanyanya, wajah polosnya seperti anak kecil yang baru belajar bicara, tapi suaranya cukup keras untuk menusuk telinga semua orang.

Bianca langsung mendelik, jantungnya seakan melonjak ke tenggorokan. Ia sudah tahu sejak lama kalau Yayuk memang gila, akan tetapi, ia tak menyangka bahwa kawannya itu cukup gila untuk mengatakan apa yang baru saja keluar dari mulutnya—bahkan, langsung di hadapan Sabian.

Akan tetapi, sebelum Sabian sempat membuka mulut, Zaid lebih dulu menimpali. “Belom,” katanya datar, sembari menyilangkan tangannya di depan dada.

Melihat itu, Bianca kontan memijat pelipis—kepalanya pening seketika, dan napasnya terasa berat. Tatkala ia mengalihkan pandangan, matanya sibuk mengamati Sabian—laki-laki itu tampak sibuk celingak-celinguk dengan bibirnya yang terkatup rapat, dan tangannya memegang gelas lebih erat hingga buku-buku jarinya memutih. Sabian tampak begitu gelisah.

“Loh, tak kirain wes pacaran, soale Bianca sering cerito,” sambung Yayuk, suaranya santai, tapi ada nada menggoda di ujung kalimatnya. Di bawah meja, tangannya meremas lutut Bianca pelan—diam, percaya aku—seakan-akan ia mencoba mengatakan hal itu. Akan tetapi sentuhannya terasa seperti jeratan bagi Bianca.

Sementara itu, Sabian masih diam, matanya sangat jelas terus menghindari Bianca, dan tak kunjung ada sepatah kata pun yang lolos dari bibirnya untuk menjawab keraguan Yayuk.

Di tengah kekakuan yang melekat di udara di antara mereka itu, tiba-tiba, bayangan muncul di dekat meja. Seorang perempuan—dengan rambut hitam panjang tergerai seperti air terjun malam, dan aroma parfumnya manis seperti vanila tapi menusuk hidung. Matanya besar, senyumnya memesona, tapi ada sesuatu di dalamnya—seperti luka atau mungkin kerinduan yang tak terucapkan. Ia menatap Sabian tanpa kata, seraya sesekali melirik ke arah Zaid.

“Sabian? Zaid?” sapa perempuan itu setelah beberapa saat. Suaranya lembut, tapi seperti pisau kecil yang membelah keheningan.

Sabian yang namanya pertama kali disebut, praktis mengangguk kaku, gelas di tangannya hampir tumpah. Di sisi lain, Zaid mengernyit, alisnya bertaut, tangannya mengepal di atas meja, napasnya terdengar berat.

“Apa kabar? Nggak nyangka bisa ketemu kalian lagi,” timpal perempuan itu, tapi Sabian dan Zaid hanya diam, seperti patung yang lupa cara bergerak, wajah mereka pucat di bawah lampu kuning.

Detik kemudian, ia melempar pandangan ke arah Bianca dan Yayuk, senyumnya kikuk, tangannya memegang tas kecil dengan gugup. “Emm, lagi kumpul yaa... sorry, gue ganggu, kalau gitu gue cabut ya...,” katanya buru-buru, sudah mau mundur, tapi langkahnya ragu.

“Mau pulang?” tanya Sabian spontan, suaranya serak, seperti orang yang baru bangun dari mimpi buruk. Pertanyaan itu menjadi satu-satunya kalimat yang lolos dari bibirnya sejak beberapa saat lalu. Ia bahkan masih mengabaikan perkataan Yayuk yang terlontar jauh lebih dulu.

Perempuan yang tampak begitu asing bagi Bianca itu mengangguk.

“Naik apa?” Sabian mengangkat alis, matanya tak lepas dari wajah yang ditanya.

“Taksi.”

Kemudian satu kata itu sukses membuat Sabian memutar tubuh, akhirnya ia memberanikan diri menatap Bianca. Tatapannya sulit diartikan—ragu, memohon, seperti anak kecil yang takut dimarahi, tapi juga seperti orang yang sudah menuntut pengertian.

Bianca hanya diam. Kendati begitu, justru Zaid yang menggeleng di sebelah Sabian. “Sebentar aja, gue balik lagi abis ini,” kata Sabian pada Zaid, suaranya bergetar, hampir pecah.

Seakan-akan sengaja ingin menunjukkan kekesalan lantaran isyarat dari larangannya diabaikan, Zaid terang-terangan menepis tangan Sabian dengan kasar, bunyinya seperti tamparan. “Terserah lo,” katanya dingin. Sorot mata Zaid begitu tajam tatkala ia mengatakan itu, dan ekspresi yang tergambar di wajahnya begitu sulit untuk diartikan. Seperti marah, kecewa, dan sedikit takut.

Tapi Sabian sudah gelap mata. Ia tetap beranjak, dan menarik pergelangan tangan perempuan itu, jari-jarinya mencengkeram erat, seperti takut lepas. “Ayo, gue anter,” katanya samar, mengabaikan semua orang, termasuk Bianca—perempuan yang akhir-akhir ini mengisi harinya.

“T-tapi….”

“Ayo!” Kemudian langkah lebar dan cepat milik Sabian mulai menjauh, meninggalkan aroma parfumnya yang masih menempel di udara, dan perasaan yang sulit diartikan—milik ketiga orang yang ia tinggalkan.

Bianca masih membeku, napasnya tertahan di dada, seperti ada batu besar yang menindih paru-parunya kala itu. Rasa sesak menyelimuti seperti kabut tebal, matanya kosong menatap punggung Sabian, sebelum bayangannya dan perempuan asing itu lenyap di kegelapan luar. Yayuk menatapnya penuh tanya, tangannya menyentuh lengan Bianca, tapi Bianca seakan tak merasakan apa-apa.

Sudirman yang baru saja kembali, sembari membawa kopi Yayuk dan semangkuk kentang goreng ulir yang masih panas, praktis mengubah ekspresi wajahnya saat ia menyadari bahwa Sabian menghilang. “Ke mana?” tanyanya penasaran pada Zaid, kemudian piring yang sempat ia genggam itu cepat-cepat ia letakkan di atas meja hingga menimbulkan bunyi yang sedikit keras.

Alih-alih menjawab pertanyaan Sudirman, Zaid justru menatap Bianca, sorot matanya lembut—tampak iba dan menyimpan kekesalan yang tak terucap.

“Seng mau iku, sopo?” (yang tadi itu siapa) tanya Yayuk pelan, tangannya masih di lengan Bianca.

Di saat semua pertanyaan tertuju pada Zaid, Bianca hanya balas memandangnya. Tatapan mereka saling terkunci.

Kemudian, dengan lirih, Zaid akhirnya membuka suara. “Bian baru aja pergi sama masa lalunya.”

Detik itu, tangan Bianca mengepal di bawah meja. Buku-buku jarinya memutih, kuku menusuk telapak tangan hingga terasa nyeri. Rasa sesak menenggelamkan dadanya—seperti tenggelam di dadar lautan. Ia ingat betul Zaid pernah membahas soal perempuan yang sempat mengubah seorang Sabian, meninggalkannya, dan membuatnya seakan anti dengan kehidupan romansa muda itu.

Tapi kenapa sekarang Sabian bahkan mengantar perempuan itu pulang? Batin Bianca.

Ia ingin marah, ingin menangis, ingin teriak, tapi yang keluar hanya napas tersendat, seperti orang yang lupa cara bernapas. Masalahnya akhir-akhir ini ia sudah begitu dekat dengan Sabian. Kedekatan mereka bukanlah sekadar teman lawan jenis. Sabian sendiri yang pernah mengatakan bahwa ia ingin mereka menjadi yang sesuatu yang lebih, suatu hari nanti. Namun, belum sempat angan itu tercapai, seseorang dari masa lalu Sabian kembali hadir. Dan melihat cara Sabian pergi begitu saja, bahkan sampai mengabaikan Zaid, Bianca jadi tahu bahwa dia sama sekali bukan apa-apa jika dibandingkan dengan perempuan itu.

Sayangnya nasi telah menjadi bubur. Perasaan yang Bianca miliki untuk Sabian bukan lagi sekadar ketertarikan seperti yang ia rasakan di awal kedekatan mereka. Bianca mulai familier akan semua hal yang ada pada diri Sabian. Lalu, jika akhirnya tak bisa sama-sama, ia harus apa? Jika masa lalunya yang membandel itu kembali hadir, ia bisa apa?

Mata Bianca mulai memanas, tapi air matanya tak kunjung keluar—terlalu kering, terlalu lama ia tahan di hadapan orang-orang.

“Sumpah? Jancok! Ayo balik, Ca!” seru Sudirman, suaranya menggelegar. Melihat Bianca yang hanya terdiam setelah kepergian Sabian dengan perempuan lain, kontan saja menyulut emosi Sudirman sebagai sepupunya.

Yayuk yang juga memiliki kepedulian pada Bianca, lantas manggut-manggut, “Awakku merene gowo mobil.” (aku ke sini bawa mobil) Tangannya yang sejak tadi menggenggam lengan Bianca, kini terangkat ke atas—seakan meminta untuk didengar di tengah kekacauan.

Detik kemudian, Zaid langsung mengangguk seraya raup jaketnya. “Ayo! Gue yang nyetir.” Suaranya begitu tegas, seakan tak ragu sedikitpun saat mengambil keputusan untuk meninggalkan Sabian yang sudah berjanji untuk lekas kembali.

Langit Jakarta masih diselimuti kegelapan ketika Sabian, Bianca, dan Zaid berkumpul di ruang tamu rumah Sabian. Cahaya lampu neon di ruangan itu memancarkan kilau lembut, menciptakan suasana hangat namun penuh emosi yang menyelimuti mereka.

Di luar, udara pagi terasa sejuk, dengan embun tipis yang masih menempel di rumput halaman depan. Mobil Sabian, sebuah sedan hitam yang sudah terparkir rapi di sana. Bagasinya penuh dengan koper dan tas yang telah disusun sejak beberapa jam lalu.

Di dalam ruangan, aroma teh yang mama Sabian sajikan menguar, menambah kehangatan suasana yang sarat akan emosi perpisahan dan harapan akan perjalanan jauh yang ingin mereka lakukan.

Sabian berdiri di dekat pintu masuk, memegang kunci mobil dengan jari-jari yang sedikit gemetar—bukan karena dingin, tetapi karena perasaan campur aduk yang sulit diucapkan. Matanya sesekali melirik ke arah Bianca, yang duduk di sofa dengan jaket denim kebesaran yang membuatnya tampak nyaman namun tetap anggun. Bianca sibuk memeriksa daftar barang bawaan di ponselnya, alisnya sedikit berkerut karena fokus, namun ada senyum kecil di sudut bibirnya yang menunjukkan dia menikmati momen ini. Zaid, dengan hoodie abu-abu yang menutupi sebagian wajahnya, bersandar di dinding dengan mata setengah terpejam, seolah masih berjuang melawan rasa kantuk sejak semalam. Ada ketenangan dalam diam mereka, tetapi juga ada kegelisahan yang sulit untuk dijelaskan.

“Jadi, siapa yang nyetir duluan?” tanya Sabian, suaranya serak berkat udara dingin yang menujuk tenggorokannya.

Lantas, Zaid membuka matanya. Menyipit demi melirik Bianca sekilas, matanya penuh dengan rencana dan ekspresi main-main. “Lo duluan aja. Gue masih ngantuk. Nanti gantian di tengah jalan,” katanya, suaranya mantap meski ada sedikit nada gugup yang terselip.

Belum sempat bagi Bianca membuka suara Bianca mengangkat alis, Sabian sudah lebih dulu mengangkat tangannya, dan meletakkan telunjuk di depan bibirnya. “Jangan ikutan, ini diskusi khusus laki-laki.”

Bianca praktis memutar bola matanya, tapi senyumnya melebar, menunjukkan bahwa dia tidak benar-benar tersinggung. “Sexist,” gumamnya dengan nada bercanda, sambil menyilangkan tangan di dada. Ada kehangatan dalam interaksi kecil ini, sebuah chemistry yang terasa begitu alami antara mereka.

“Sabian nyetiir, lo jadi operator musik di sebelahnya,” timpal Zaid, sembari menunjuk Bianca.

“Deal,” jawab Sabian cepat, seolah tak ingin kehilangan momen untuk menjaga suasana tetap ringan.

Kemudian, Zaid hanya mengangguk, wajahnya menunjukkan lega karena bisa bersantai di kursi belakang untuk beberapa jam ke depan. Namun, di balik ekspresi santainya, ada kilau kecil di matanya yang menunjukkan dia senang menjadi bagian dari momen milik Sabian dan calon kekasihnya itu.


Beberapa menit sebelum mereka berangkat, suasana berubah menjadi lebih emosional saat mereka berpamitan dengan orang tua Sabian. Mama Sabian tersenyum hangat, memeluk mereka satu per satu dengan penuh kasih sayang. Matanya berkaca-kaca, meski ia berusaha menyembunyikannya dengan senyum lebar. “Hati-hati di jalan, ya. Jangan lupa istirahat kalau capek,” katanya, suaranya lembut namun penuh kehangatan yang membuat hati Sabian terasa perih.

Sementara Papa Sabian, hanya ikut manggut-manggut, tapi tangannya yang menepuk pundak Sabian terasa berat, penuh makna. Ada momen diam di mana semua orang merasakan beratnya perpisahan, meski hanya sementara. Sabian merasakan sesak di dadanya, sebuah campuran antara rasa syukur memiliki keluarga yang mendukung dan sedikit rasa bersalah karena meninggalkan mereka lagi.

Setelah pelukan terakhir dan beberapa pesan perhatian, ketiganya memutuskan untuk benar-benar pergi, berjalan menuju mobil.

Udara pagi terasa segar di paru-paru mereka, membawa aroma tanah basah dan daun yang baru saja disiram embun. Bianca, berhenti sejenak di depan pintu mobil. “Yakin semua barang udah dibawa? Nggak ada yang ketinggalan? Charger? Dompet? Makanan ringan?” tanyanya, suaranya penuh perhatian, matanya bergerak dari Sabian ke Zaid dengan ekspresi yang menuntut jawaban pasti.

Lalu, Sabian mengangguk, mencoba menenangkan Bianca dengan senyumnya yang hangat. “Udah, Bi. Lo gak usah khawatir. Semuanya udah aman,” katanya.

“Iya, tenang aja. Kalau ada yang ketinggalan, kan bisa beli di rest area,” timpal Zaid yang kini sudah mendaratkan tubuhnya di kursi belakang mobil itu. Ia menguap, menutup mulutnya dengan punggung tangan, usai mengatakan hal itu.

Bianca menghela napas panjang, lalu masuk ke kursi penumpang depan dengan gerakan anggun. “Yaudah kalo gitu. Tapi jangan berisik kalo nanti lo berdua inget kelupaan bawa sesuatu,” katanya, nada suaranya bercampur antara kesal dan canda, tapi matanya berkilau dengan kehangatan.


Mobil Sabian melaju meninggalkan halaman rumah. Cahaya fajar mulai menyelinap di cakrawala, seolah alam sendiri ikut merayakan awal perjalanan mereka. Jalanan Jakarta pagi itu masih sepi, hanya sesekali dilewati oleh mobil-mobil lain yang melaju dengan kecepatan rendah. Bianca langsung menghubungkan ponselnya ke sistem audio mobil dan memutar playlist yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari seperti permintaan Sabian; playlist berisikan lagu pop dengan ritme yang cukup upbeat untuk menjaga semangat.

Zaid, yang duduk di belakang, tiba-tiba bertanya dengan suara yang masih setengah mengantuk, “Eh, estimasi perjalanan berapa lama, sih?”

Bianca menoleh sekilas, jari-jarinya masih sibuk di atas layar ponselnya yang menyala. “Kalau kata Google Maps, sekitar 9 sampai 10 jam. Tergantung macet atau enggak,” jawabnya, suaranya penuh keyakinan namun tetap lembut.

Kemudian, Zaid mengangguk, lalu mengeluarkan ponselnya dan mulai mengatur timer.

Sabian, yang memperhatikan gerakan Zaid melalui kaca spion tengah, bertanya dengan nada penasaran, “Lo ngapain?”

“Set timer 5 jam. Setelah 5 jam, gantian nyetirnya,” jawab Zaid, matanya masih fokus pada layar ponsel, tapi ada senyum kecil di wajahnya yang menunjukkan bahwa dia menikmati peran kecilnya dalam merencanakan perjalanan ini.

Spontan Bianca mengernyit, menoleh ke belakang dengan ekspresi yang sedikit protes. “Kenapa gak gantian tiap 3 jam aja? Maksud gue, biar gak jenuh,” katanya, merasa bahwa ide itu jauh lebih baik dibaandingkan dengan sebelumnya.

Seolah baru menyadari kejeniusan ide sederhana itu, kedua matanya langsung membulat. “Oh iya, bisa juga tuh. Lo pilih yang mana, Bi?” tanyanya pada Sabian, nadanya penuh antusiasme.

Sabian hanya mengangkat bahu, matanya tetap fokus pada jalan tol yang mulai mereka masuki. “Aturlah sama kalian. Gue oke-oke aja,” katanya, suaranya datar namun ada nada santai yang menunjukkan bahwa ia benar-benar mempercayakan keputusan ini pada Bianca dan Zaid.

Setelah diskusi singkat yang penuh tawa kecil, mereka sepakat untuk bergantian setiap 3 jam. Sabian akan menyetir untuk tiga jam pertama, lalu Zaid akan mengambil alih. Bianca, meski tidak kebagian tugas menyetir, tampak puas karena bisa mengatur musik dan suasana di dalam mobil. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, merasakan kehangatan dari sinar matahari pagi yang mulai masuk melalui jendela, dan untuk sesaat, ia merasa bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Tiga jam pertama perjalanan berlangsung dengan tenang, hampir seperti sebuah meditasi bergerak. Jalan tol yang mereka lalui membentang luas di depan, hanya sesekali dihiasi oleh truk-truk besar yang melaju dengan ritme konstan. Cahaya matahari pagi mulai merangkak naik, menyelinap melalui jendela dan menciptakan siluet lembut di wajah Bianca, yang sedang sibuk memilih lagu berikutnya. Zaid, seperti yang sudah diduga, sudah terlelap di kursi belakang sejak mereka memasuki pintu tol pertama. Dengkurannya yang pelan hampir tak terdengar di tengah alunan musik yang diputar Bianca, namun kehadirannya tetap terasa, seperti pengingat bahwa mereka adalah sebuah tim.

“Dia beneran tidur, ya?” kata Sabian, melirik ke arah Zaid melalui kaca spion. Suaranya penuh kelembutan terhadap Bianca.

Lalu Bianca terkekeh, di sebelahnya. “Iya, kayaknya emang ngantuk berat, sih. Tapi gak apa-apa, biarin aja. Nanti dia bangun pas waktunya gantian,” jawabnya, matanya berkilau dengan kehangatan.

Sabian mengangguk, tangannya tetap stabil di atas kemudi. Musik yang diputar Bianca kali ini adalah lagu dari Taylor Swift, dengan irama yang lembut namun cukup energetik untuk menjaga Sabian tetap terjaga. “Lagu lo bagus-bagus,” puji Sabian secara spontan. “Tapi....”

“Tapi apa?”

“Nggak ada Mahalininya.”

Bianca langsung tergelak mendengar ucapan itu lolos dari bibir Sabian. “Nanti gue masukin,” balasnya, sambil meraih sekantong keripik dari belakang. “Mau keripik?” tawarnya, mengarahkan sepotong keripik ke arah Sabian dengan gerakan yang penuh perhatian.

Sabian membuka mulutnya tanpa melepas pandangan dari jalan, dan Bianca dengan cekatan memasukkan keripik ke mulutnya. Mereka tertawa kecil, sebuah momen sederhana yang terasa begitu berarti. Ada kehangatan yang mengalir di antara mereka, sebuah ikatan yang tak perlu diucapkan dengan kata-kata.

Di tengah suasana santai itu, Bianca tiba-tiba teringat sesuatu. “Oh ya, Masabi, lo udah kabarin Sudirman kalo lo balik ke Surabaya hari ini?” tanyanya, suaranya penuh rasa ingin tahu.

Sabian mengangguk. “Udah. Tapi… gue nggak bilang kalau gue balik bareng lo,” jawabnya, sedikit ragu.

Pengakuan itu, kontan membuat Bianca mebelalakkan kedua matanya. “Yah?? Tapi gue kasih tau dia, gimana dong?”

“Serius?”

“Iya.”

“Terus, reaksi dia gimana?”

“Reaksinya biasa aja.” Bianca menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. “Kayaknya dia nggak kaget sama kedekatan kita,” lanjutnya, suaranya penuh keyakinan, seolah ingin menenangkan Sabian.

Sabian mendesis pelan, ekspresinya berubah menjadi campuran antara lega dan gelisah. Matanya tetap fokus pada jalan, tapi ada ketegangan kecil di rahangnya. “Baguslah... tapi… kenapa ya gue ngerasa aneh? Maksud gue, semua orang kayak gampang banget nerima kedekatan kita. Terakhir kali, nggak kayak gini,” katanya, suaranya pelan di ujung kalimatnya, hampir seperti bisikan, penuh dengan kerentanan yang jarang dia tunjukkan.

Bianca praktis memandang Sabian dengan penuh perhatian, matanya mencoba menangkap setiap detail emosi di wajahnya. “Hmm... masa, sih? Gue nggak tau mau komentar apa,” cicitnya.

Sabian menghela napas panjang, jari-jarinya sedikit mengetat di kemudi. “Dulu, banyak dramanya. Orang-orang di sekitar gue, entah itu temen atau keluarga, selalu ada yang komentar atau gak setuju. Tapi sama lo… kayak terlalu mulus. Gue bersyukur, tapi juga bikin gue overthinking,” katanya, suaranya penuh dengan kejujuran yang mentah, seolah dia sedang membuka lapisan hatinya yang paling dalam.

Bianca terdiam sejenak, mencerna kata-kata Sabian. Kalau boleh jujur, sebenarnya ia sedikit merasa canggung dengan momen ini. Namun, sebelum ia sempat menjawab, suara Zaid tiba-tiba terdengar dari belakang, memecah keheningan.

“Orang-orang yang bener-bener kenal dan care sama lo itu, bisa nilai mana yang sekiranya baik buat lo dan mana yang enggak,” katanya, suaranya masih serak tapi penuh keyakinan. “Dari kali pertama gue kenal Bianca, gue tau kalau energi di antara kalian itu positif. Bukan kedekatan yang toxic, Bi. Dan gue yakin orang lain juga bisa lihat itu. Jadi stop merasa cemas, stop paranoid cuma karena semuanya jadi gampang buat lo.” Zaid berbicara dengan nada yang begitu tulus, seolah ia tengah memberikan nasihat dari hati seorang sahabat sejati.

Tepat saat Zaid baru saja menutup kembali bibirnya, Bianca mulai menyandarkan tubuhnya ke kursi, merasakan bobot kata-kata Zaid yang seolah mewakili apa yang ingin ia katakan. Matanya melirik ke arah Sabian, yang kini tersenyum tipis, seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. Ada kelegaan di wajahnya, meski masih ada sisa-sisa keraguan yang perlahan memudar.

“Ahh... iya juga,” kata Sabian akhirnya, suaranya penuh dengan rasa syukur.

“Lo cuma perlu belajar nerima kalo sesuatu bisa berjalan mulus tanpa drama,” timpal Zaid.

Lantas, Bianca mengangguk setuju, tangannya meraih ponsel untuk mengganti lagu ke sesuatu yang lebih upbeat, seolah ingin mengembalikan suasana ringan. “Nah, sekarang fokus nyetir aja. Kita masih punya beberapa jam lagi, jangan sampai kenapa-kenapa karena lo nggak fokus, Mas,” katanya, nadanya penuh canda tapi juga penuh kasih.

Tawa kecil mengisi mobil, dan untuk beberapa saat, suasana kembali ringan. Jalan tol di depan mereka membentang panjang, diterangi oleh sinar matahari yang semakin tinggi. Di luar, angin sepoi-sepoi membelai pepohonan di pinggir jalan, menciptakan pemandangan yang menenangkan. Di dalam mobil, ada perasaan bahwa mereka bukan hanya sedang melakukan perjalanan fisik, tetapi juga sebuah perjalanan emosional yang membawa mereka lebih dekat satu sama lain.

Mesin mobil Sabian menderu pelan saat ia memutar setir ke arah kompleks perumahan sederhana di tepi kota, tempat Bianca tinggal. Mereka sudah membuat janji sebelumnya—menjemput adik-adik kesayangan mereka menggunakan mobil Sabian, dan meluangkan sedikit waktu untuk makan siang bersama.

Saat mobil Sabian berhenti di depan pagar rumah Bianca, ia mematikan mesin sebentar dan menarik napas dalam. Di dashboard, ada segelas matcha latte dingin yang masih mengepulkan embun dingin di permukaannya. Sabian menatap minuman itu lamat-lamat. Ia membelinya beberapa saat lalu, di sebuah kafe yang tampak cukup eksis di daerahnya. Sengaja ia mampir dan membeli minuman. Sabian khaatir kalau-kalau Bianca akan kehausan dalam perjalanan nanti–sebagai bentuk perhatian kecil yang da[at ia berikan dalam proses pendekatan ini.

Klek!

Tiba-tiba saja pintu mobil di sebelahnya terbuka dari luar. Saking sibuknya memikirkan Bianca, Sabian sampai-sampai tak menyadari kalau perempuan yang tengah memenuhi pikirannya itu sudah keluar dari balik gerbang rumahnya sejak beberapa saat lalu.

“Hai, Masabi!” sapa Bianca penuh semangat.

Sabian mengangguk, matanya tak lepas dari wajah Bianca. “Cepet masuk, di luar panas!” titahnya. Maklum, siang ini matahari memang dua kali lipat lebih hangat dari biasanya. Mungkin karena faktor eksistensi awan yang begitu kurang, di langit, kali ini.

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Bianca langsung melakukan apa yang Sabian minta. Ia duduk, seraya mengencangkan seat belt dengan gerakan otomatis. “Udahh,” katanya.

Merasa sedikit kikuk, lantas Sabian berdeham untuk menairkan suasana. “Bi, ini gue beliin buat lo.” Ia menyodorkan gelas matcha latte itu, jarinya hampir menyentuh jari Bianca saat gelas berpindah tangan. “Supaya lo nggak haus di jalan. Cuaca lagi gila-gilaan panasnya hari ini.”

Bianca menerima gelas itu dengan kedua tangan, merasakan dinginnya yang menyegarkan di telapak tangannya. Aroma matcha yang segar langsung menyapa hidungnya dengan begitu ramah.. “Makasih ya, Mas. Lo nggak usah repot gini sih, harusnya,” katanya pelan, tapi senyumnya tak mampu ia sembunyikan. Dalam hati, Bianca merasa kagum dengan perhatian kecil yang Sabian berikan, seperti ini—bukan sesuatu yang berlebihan, namun sesuatu yang cukup, yang membuatnya merasa istimewa.

“Cobain, terus kasih komentar. Gue baru pertama kali beli di sana soalnya,” tutur Sabian, suaranya penuh harap, seperti anak kecil yang menunggu pujian.

Lalu, Bianca cepat-cepat menyeruput matcha latte itu melalui sedotan. Rasanya... sempurna. Manis tapi tak berlebihan, dingin yang langsung meredakan dahaga di tenggorokannya.* “Enak, dan nggak terlalu manis,” gumamnya sambil tersenyum, matanya menyipit karena kepuasan, sebelum akhirnya ia kembali menikmati minuman itu, tanpa sadar bahwa Sabian tengah memperhatikannya dengan tatapan yang lebih dalam dari biasanya.

Tanpa kata-kata, Sabian meraih tangan Bianca yang sedang menggenggam gelas itu. Jarinya menyentuh punggung tangan Bianca dengan lembut, membuat gadis itu membeku sejenak. Lalu, dengan santai, Sabian mencondongkan tubuhnya sedikit dan ikut menyeruput matcha latte itu dari sedotan yang sama. Bibirnya menyentuh sedotan itu tepat setelah bibir Bianca, sebuah gerakan yang begitu intim tapi terasa alami baginya. Dan, detik kemudian, Sabian mengangguk setuju. “Bener, enak. Pilihan gue emang top.” Lalu, tanpa melepaskan tangannya, Sabian mengulurkan tangan satunya dan mengacak-acak pucuk kepala Bianca dengan lembut.

Hanya saja, gerakan alami itu benar-benar sukses membuat jantung Bianca berdegup kencang. Bianca praktis membeku di tempat duduknya. Kedua pipinya memerah seperti tomat matang. Dan, ia hanya dapat tersenyum kikuk, tak tahu harus berkata apa.

“Kenapa?”

“Masabi... lo....” gumam Bianca, tapi kata-katanya terputus saat Sabian tertawa kecil dan menjalankan mobilnya.

Mesin mobil itu menderu pelan, dan mereka meluncur ke jalan raya yang cukup senggang, tak seperti saat pagi atau sore hari. Perjalanan menuju sekolah adik-adik mereka tak terlalu jauh—hanya sekitar 15 menit dari rumah Bianca, melewati jalan-jalan besar dan beberapa persimpangan saja. Udara AC mobil yang sejuk membuat suasana di dalam kabin terasa nyaman, meski panas di luar masih mengintai seperti musuh tak terlihat.

Sepanjang jalan, Sabian bercerita tentang apa saja yang terjadi di rumahnya pagi ini. Di sisi lain, Bianca memilih fokus untuk terus menjadi pendengar sekaligus kawan bercerita yang baik, sembari menyeruput minumannya sesekali.

Memandang wajah tampan Sabian dengan begitu intens, membuatnya merasakan sisa rasa manis di lidahnya, dan entah mengapa, ingatannya melayang ke sedotan yang tengah ia gunakan. Apakah ini arti dari kedekatan yang lebih serius? Atau hanya kebiasaan Sabian yang cuek? Ia menggeleng pelan, menepis pikiran itu.

Berulang kali pipinya memanas, namun kembali normal berkat dinginnya suhu yag dihasilkan oleh AC. Akan tetapi, Bianca sama sekali tak dapat menyembunyikan tatapannya yang seakan memuja laki-laki yang tengah berada di sampingnya kini. Dan, Sabian terang saja mampu menyadari hal itu.

Setibanya di parkiran sekolah yang ramai, Sabian mematikan mesin dan melihat ke arah Bianca. Matanya penuh pertanyaan. “Kita turun bareng, atau gue aja yang jemput? Lo bisa nunggu di sini, kalau lo mau,” tanyanya. Nada bicara Sabian terdengar cukup hati-hati.

Namun, Bianca langsung menggeleng tegas. “Turun bareng aja. Kasihan elo bawa tiga kurcaci sendirian, Mas.” Ia membuka pintu, melangkah keluar dengan tas kecilnya yang berisi dompet dan ponsel. Udara panas langsung menyambutnya lagi, tapi kali ini terasa lebih ringan karena Sabian yang berjalan di sampingnya, dan tangannya sesekali bersentuhan lengan Bianca secara tak sengaja.

Halaman depan gerbang sekolah itu dipenuhi oleh para wali murid yang tengah menunggu. Suara klakson dari luar dan tawa anak-anak memenuhi udara. Bianca dan Sabian berdiri di pinggir gerbang, menyapu pandangan ke arah lapangan yang mulai dipenuhi anak-anak yang menghambur keluar seperti semut yang dilepaskan dari sarangnya. Seragam yang mereka kenakan praktis berkibar, dan tas ransel warna-warni bergoyang di punggung mereka.

Baik Sabian, maupun Bianca, keduanya sama-sama tengah mencari-cari wajah yang familier dari kejauhan; Alin dengan kuncir duanya yang khas, Acat si wajah dingin dengan rambut klimisnya, dan Cica yang selalu tampak paling aktif di antara ketiganya.

“Tuh, mereka!” seru Sabian tiba-tiba, matanya menyipit ke arah tiga sosok kecil yang berlari-lari di tengah kerumunan. Alin, Acat, dan Cica—mereka bertiga seperti tim kecil yang tak terpisahkan, meski Alin dan Acat adalah adik-adik Sabian, sementara Cica adalah milik Bianca. Hubungan mereka terkenal sangat dekat di dalam, dan di luar sekolah.

Serentak, Sabian dan Bianca melambaikan tangan ke atas, senyum lebar di wajah mereka. “Cica! Alin! Acat!” panggil Bianca, suaranya lembut tapi penuh semangat.

Ketiga anak itu langsung berhenti sejenak, mata mereka melebar saat melihat kakak-kakak mereka. Lalu, seperti panah yang dilepaskan, mereka berlari dengan semangat ke arah Sabian dan Bianca. Alin yang paling depan, loncat-loncat sambil berteriak, “Masabi! Masabi!”

Di belakangnya, Acat mengikuti dengan langkah lebih tenang, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Sementara itu, Cica, dengan tasnya yang hampir lepas, langsung memeluk pinggang Bianca begitu sampai.

“Cica….” Bianca membungkuk, membetulkan helaian rambut Cica yang tampak sedikit berantakan. “Hari ini kita pulang bareng Masabi, ya. Sama Alin dan Acat juga. Tapi sebelum pulang, kita mampir makan siang dulu. Mau?” tanya Bianca hati-hati.

Detik kemudian, Cica langsung mengangguk antusias, matanya berbinar. “Mau!” Ia melirik Sabian, yang sedang mengacak rambut Acat dengan kasar tapi penuh sayang.

Alin dan Acat hanya mesam-mesem, saling pandang dengan tatapan yang penuh makna. Seakan-akan mereka tengah membicarakan hubungan di antara Sabian dan Bianca, meski tanpa membuka mulut sedikit pun.

Namun, pada dasarnya, Alin sebagai adik kandung Sabian sudah merestui Bianca sejak awal. Oleh sebab itu, ia tak lagi memberi reaksi berlebihan seperti pada awal pertemuan mereka.

—-

Di parkiran, saat semuanya hendak menaiki mobil, Bianca dengan cepat berinisiatif untuk membukakan pintu depan bagi Alin. “Alin, sini duduk depan sama Kak Sab. Biar nyaman,” katanya ramah, meski hatinya sedikit ragu. Hanya saja, ia merasa tak pantas duduk di sebelah Sabian ketika ada Alin, adik kandungnya, yang lebih berhak.

Namun Alin, dengan suara khas anak-anak yang polos dan gestur yang manis, langsung menolak. “Nggak mauu! Alin lebih pilih duduk belakang bareng Acat dan Cica aja!” Ia menyeringai lebar, matanya nakal. “Mbak aja yang duduk di depan, di samping Masabi. Kayak... pacaran gitu.”

“Alin!” tegur Sabian seketika. Mendengar kata-kata adiknya, Sabian tersenyum ke arah Alin, menaik-turunkan kedua alisnya sebagai tanda bahwa ia bangga dengan pengertian si kecil itu. “Bagus, Lin. Kamu emang pinter!” timpalnya.

Saat itu juga, Bianca tertawa kikuk, pipinya memerah lagi. Meski tak mengatakan apapun, di dalam hati, ia bersyukur karena telah mendapat restu langsung dari adik Sabian. Duduk di depan berarti lebih dekat dengan Sabian, dan entah mengapa, itu membuat perjalanan terasa lebih istimewa.

Satu per satu dari mereka menaiki mobil Sabian. Pintu ditutup dengan suara klik yang nyaring, sebab Acat lah yang melakukannya. Namun, itu tak menjadi alasan bagi Sabian untuk menegurnya. Maklum, namanya juga anak-anak. Selang beberapa detik kemudian, Sabian menyalakan mesin, dan AC mulai berdengung, menyebarkan udara sejuk ke seluruh kabin. Di belakang, Acat, Alin, dan Cica sudah ribut memperebutkan arah udara dingin berembus.

“Diarahin ke atas aja!” protes Acat.

“Tapi Alin maunya diarahin ke bawah!” pekik Cica, membela Alin.

Namun, untungnya keributan itu tak berlangsung lama, berkat Acat yang pada akhirnya mengalah sebagai anak laki-laki.

Sabian melirik Bianca melalui kaca spion, seraya tersenyum. “Bi, buka dashboard. Casing baru buat HP lo ada di situ.”

Bianca mengerutkan dahi, tapi langsung membuka dashboard kecil di depannya. Di dalamnya, ada sebuah kotak yang dibungkus dengan plastik transparan. “Gue buka sekarang, nih?” tanyanya, terdengar polos.

“Iya. Buka aja,” jawab Sabian santai, matanya tetap fokus ke bahu jalan yang kini mulai ramai. Ketiga anak di belakang sontak mencondongkan badan mereka ke depan, kepala-kepala kecil itu hampir menyentuh bahu Bianca. “Apa itu, Masabi? Kasih apa buat Mbak Bi?” tanya Alin penasaran, tangannya meraih bahu kakaknya.

Bianca hanya terkekeh, membuka kotak itu perlahan-lahan. Di dalamnya, casing ponsel berwarna pastel pink dengan pola yang sama persis seperti milik Sabian dan Zaid, digambar dengan presisi seperti karya seni. “Wah... keren banget, Mas. Makasih ya.” Ia memegangnya, merasakan tekstur benda tersebut yang terasa nyaman di jari.

Lantas, ketiga anak di belakangnya langsung bersorak riuh. “Mau pegang!” seru Cica, matanya melebar. Acat, yang biasanya pendiam, ikut mengangguk. “Dipinjem sebentar, boleh nggak?”

Bianca, yang menyadari antusiasme mereka, langsung menyerahkan casing itu ke belakang supaya anak-anak dapat melihat lebih jelas. “Nih, hati-hati ya, mahal tuh–-pakai uangnya Masabi,” cicit Bianca, sengaja menekankan kalimat terakhirnya.

Lalu, tangan-tangan kecil milik Alin, Cica, dan Acat praktis berebut memegang, memuji betapa artistiknya benda itu. “Masabi, ini harganya berapa? Alin boleh nggak dibeliin juga?” kata Alin, sementara Acat menambahkan, “Acat juga mau.”

Sabian tertawa, tangannya menepuk setir pelan. “Bukan buat anak kecil,” kata Sabian, membuat kedua adiknya itu terdiam seketika.

Tak lama kemudian, mobil tiba di sebuah restoran cepat saji yang cukup terkenal dengan ayam tepung renyah dan saus kejunya. Lokasinya strategis, tepat di pinggir jalan raya, dengan parkiran luas yang dipenuhi mobil-mobil pengunjung lainnya.

Tanpa menunggu aba-aba dari Sabian, ketiga kurcaci itu langsung turun begitu mobil berhenti. Mereka berlarian ke dalam restoran, tawa mereka bergema di udara panas. “Duduk di mana!?” teriak Alin, memimpin rombongan. Kemudian, mereka memutuskan untuk memilih sebuah meja persegi panjang yang berada di sudut ruangan, yang menurut anak-anak itu paling nyaman karena dekat jendela dan punya pemandangan taman kecil di luar.

Sabian menyusul dengan langkah santai, tas kecilnya digantung di bahu. Sementara itu, Bianca memilih untuk langsung menuju counter pesanan. Ia tak pernah bertanya sebelumnya pada Sabian atau anak-anak, tapi seakan sudah mengetahui menu apa yang harus ia pesan untuk mereka.

Meski total pesanan itu cukup banyak, Bianca sendiri masih mampu mengatasinya. Akan tetapi, saat pembayaran hampir berlangsung, Sabian tiba-tiba muncul di sampingnya seperti hantu baik hati. Ia menyerahkan dompet kulit hitamnya begitu saja, tanpa sepatah kata pun.

“Mas...?” Bianca melongo, matanya melebar melihat dompet itu di tangannya. Sabian hanya mengedipkan mata, lalu berbalik pergi, meninggalkan Bianca sendirian di depan kasir yang praktis ikut mesam-mesem usai melihat adegan itu.

Bianca cepat-cepat tersadar, pipinya memanas karena malu. “M-maaf, bisa cash ya?” tanyanya pada penjaga kasir, dan orang itu mengangguk sembari tersenyum dengan ramah.

Usai membuat pesanan, dan melakukan pembayaran, Bianca akhirnya bisa ikut duduk bersama yang lain di sebuah meja yang terpilih. Ketiga anak kecil di hadapannya sudah tampak gelisah. Kaki mereka bergoyang-goyang di bawah meja. “Semuanya sabar ya…,” kata Bianca mencoba memberi pengertian.

“Iyaaaa!” pekik ketiga kurcaci itu.

Bianca mengembalikan dompet Sabian di hadapan adik-adik mereka, meletakkannya perlahan di depan pemiliknya. “Ini, Mas. Makasih ya.”

Kemudian, sang empunya langsung mengambil dompet itu, tapi matanya penuh penasaran. “Bisa kan pakai cash?” tanyanya memastikan, dengan nada bicara yang terdengar sedikit khawatir..

Bianca mengangguk, tersenyum tipis. “Bisa.”

Menjadi saksi momen itu, kontan saja membuat Alin, Acat, dan juga Cica cengangas-cengenges di hadapan Sabian dan Bianca. Mereka ikut salah tingkah, meski tak mengatakan apa-apa.

Cukup lama kelimanya menunggu—mungkin 10 menit yang terasa seperti satu jam bagi orang-orang yang tengah kelaparan. Suasana restoran ramai dengan keluarga lain, aroma ayam goreng yang gurih memenuhi udara, dicampur tawa dan obrolan. Sabian bercerita pada anak-anak tentang bagaimana ia dan Bianca saling mengenal pada awalnya. Dan, cerita itu, sedikit banyak sukses membuat mereka menahan rasa lapar mereka.

“Jadi, karena benda seremeh sepatu?” tanya Acat.

Sabian dan Bianca praktis manggut-manggut.

Alin dan Cica yang sejak awal mendengarkan dengan mata berbinar, tak dapat mengatupkan bibir mereka.

“Kayak di film-film ya, Lin?”

“Iya, Ca!”

Lalu, di tengah-tengah keasyikan bercerita itu, akhirnya nomor pesanan mereka dipanggil melalui speaker. Sebagai laki-laki dewasa, Sabian langsung bangkit, bersiap untuk pergi dan menjemput semua pesanan mereka sendirian. “Kalian semua tunggu sini, ya,” pamitnya.

Namun, Bianca tahu bahwa pesanan sebanyak itu tak mungkin mampu Sabian atasi sendirian. Lantas, ia ikut beranjak dari tempat duduknya. “Sama gue, Mas. Banyak banget, kalau sendiri nanti jatuh.”

Merasa bahwa apa yang Bianca katakan ada benarnya, Sabian hanya dapata mengangguk setuju sebagai jawabannya.

Mereka menuju counter pemesanan bersama-sama. Berjalan beriringan sambil sesekali tersenyum malu tatkala menatap satu sama lain. Di counter pemesanan, Bianca langsung memeriksa jumlah pesanan mereka, dan memastikan bahwa tiap-tiap menu yang disajikan sudah sesuai dengan apa yang tertera pada struk pembelian.

“Handal banget, udah biasa ya?”

Bianca tertawa pelan, mendengar pertanyaan Sabian. “Lumayan.”

Usai memastikan bahwa tak ada satu pun yang kurang dari pesanan mereka, Bianca dan Sabian langsung membawa makanan-makanan itu menuju meja mereka. Meletakkannya di atas meja, dan membiarkan aroma yang menggoda langsung membuat anak-anak bertepuk tangan.

kendati begitu, Bianca tak sekonyong-konyong membiarkan mereka untuk langsung menyantap makanan. Ia dengan tegas meminta ketiga anak di hadapannya itu untuk mencuci tangan terlebih dahulu. “Semuanya cuci tangan dulu! Kalu enggak, nanti sakit perut,” katanya, menginterupsi. Kebetulan, ia sudah melakukannya lebih dulu di wastafel dekat counter.

Sementara menunggu, Bianca mulai memisahkan daging ayam dari tulangnya, dan aksi itu ia mulai dari piring Cica terlebih dahulu. Ia melakukannya dengan telaten, jarinya lincah memotong bagian lunak agar mudah dimakan. Lalu giliran ayam milik Alin, kemudian milik Acat.

Sabian, yang sedang menyeka tangannya dengan tisu, menatap penasaran. “Kenapa lo pisahin dagingnya gitu, Bi?”

Bianca tersenyum, tak berhenti bekerja. “Selama ini gue emang selalu gini buat Cica. Supaya dia nggak kesusahan, nggak belepotan, dan makannya nggak lama-lama.”

Mendengar pengakuan itu, sontak membuat Sabian terkekeh, suaranya hangat. Lalu, dengan cepat, ia mendorong piring makannya ke arah Bianca. “Gue juga mau.”

“Hah?” Wajah Bianca memerah. “Sab... lo FOMO banget.” Meski berkata demikian, tapi ia tetap melakukannya, jarinya gemetar sedikit saat memotong ayam Sabian.

Namun, tak disangka-sangka, Sabian juga melakukan hal yang sama untuknya—memisahkan daging dari tulang di piring Bianca dengan gerakan cepat tapi hati-hati. “Gue akan pastiin lo dapet perhatian yang sama, Bi,” katanya pelan, matanya bertemu dengan mata Bianca sejenak, penuh makna. Bianca belum sempat salah tingkah sepenuhnya, ketiga kurcaci yang baru saja usai mencuci tangan kembali ke meja mereka. Alin dan Acat langsung saling tatap begitu melihat keadaan makanan milik mereka—daging sudah rapi dipisah, disusun cantik di tepian piring.

“Siapa yang pisahin daging dari tulangnya?” tanya Acat dengan nada datar, tapi matanya tampak hangat.

Takut kalau-kalau Acat kurang senang, Bianca langsung mengangkat tangan dengan gerakan yang sedikit canggung. “Aku. Acat gak suka ya??? Mau pesen yang baru?”

Alih-alih setuju akan tawaran itu, Acat justru langsung menggeleng dengan semangat, senyum tipisnya melebar. “Makasih ya, udah perhatian sama Acat juga....”

Dan, detik itu juga, Bianca dibuat tertegun dengan perasaan yang menghangat.

Bianca duduk dengan gelisah di sofa ruang tengah rumahnya. Televisi di dinding ruangan itu menyiarkan sebuah berita terkini, yang hanya menjadi latar belakang samar bagi Bianca. Pikirannya sibuk, memikirkan bagaimana cara terbaik untuk menyampaikan rencananya kepada Sang Bunda. Minggu depan, ia harus kembali ke Surabaya untuk melanjutkan studinya di universitas, tapi kali ini ia tidak akan naik kereta api seperti biasanya. Ia ingin menumpang mobil Sabian.

Meski Bianca sendiri yakin bahwa rencana tersebut sangat praktis, ia tahu bundanya mungkin saja akan ragu-ragu, terutama karena ini tentang perjalanan bersama dua laki-laki yang, belum pernah Bunda kenal sebelumnya.

Tak jauh dari Bianca, Bunda duduk di sofa sebelahnya, sembari memegang remote control televisi. “Hah, semakin banyak ya, korban keracunan MBG ini…,” gumam Bunda, menggelengkan kepala kemudian berdecih.

Bianca menoleh ke arah Bunda, mencuri-curi pandang untuk mencari waktu yang tepat. Wajah Bunda terlihat rileks, tapi Bianca tahu ibunya itu punya insting tajam untuk menangkap nada cemas atau ragu dari anak-anaknya. Lantas, ia merasa harus berhati-hati dalam memulai percakapan ini.

“Bun, boleh ngobrol sebentar nggak?” tanya Bianca, suaranya lembut namun cukup jelas untuk mengalahkan suara televisi. Ia memainkan ujung kaosnya, sebuah kebiasaan kecil yang selalu muncul saat ia merasa sedikit gugup.

Bunda menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Ngobrol apa, Bi? Kok cemas gitu mukanya,” candanya sambil menurunkan volume televisi. Ia memindahkan posisi duduknya agar menghadap Bianca, tanda bahwa ia siap mendengarkan dengan penuh perhatian.

Bianca menghela napas pelan, mencoba merangkai kata-kata yang tepat. “Jadi gini, Bun, minggu depan kan aku harus balik ke Surabaya buat kuliah. Tapi, aku nggak mau naik kereta kali ini,” ujarnya, berhenti sejenak untuk melihat reaksi Bunda.

Bunda mengerutkan kening, akan tetapi ekspresinya masih tampak netral. “Lho, kalau nggak naik kereta, terus naik apa? Pesawat?” tanya Bunda, nada suaranya penuh keingintahuan.

“Bukan pesawat, Bun,” jawab Bianca cepat, lalu menarik napas dalam-dalam. “Aku mau numpang mobilnya Sabian. Dia kan juga mau balik ke Surabaya minggu depan, kebetulan banget. Jadi aku pikir, daripada naik kereta, mending numpang sama dia. Lebih hemat juga,” jelasnya, berusaha terdengar santai meski jantung di dadanya berdebar lebih cepat.

Bunda memandang Bianca dengan tatapan yang penuh pertanyaan. “Sabian? Itu siapa?” tanyanya, suaranya kini sedikit lebih tajam, seperti seorang ibu yang sedang mencium potensi masalah. “Bukan cowok yang nggak jelas, kan? Bunda nggak mau kamu pergi sama orang yang nggak kita kenal, Bi.”

Bianca buru-buru menggelengkan kepala, tahu bahwa ia harus menjelaskan dengan jelas untuk menghindari kesalahpahaman. “Bukan, Bun, bukan orang asing! Sabian itu kakaknya Alin, temennya Cica. Harusnya sih Bunda udah tau orangnya. Bunda kan akrab sama mamanya Sabian,” papar Bianca, berusaha meyakinkan.

Bunda diam sejenak, mencoba mengingat. Wajahnya perlahan mencerah, tanda bahwa ia mulai mengenali nama yang disebutkan Bianca. “Ooh, anak sulungnya Tante Ratu??” tanya Bunda, nadanya mulai melunak.

“Nah, iya, Bun! Tau, kan? Kenal, kan?” cecar Bianca tanpa jeda sedikitpun.

Bunda mengangguk pelan, tapi matanya masih menyelidik. “Ya, nggak bisa dibilang kenal juga sih…. Terus, kenapa tiba-tiba mau numpang sama dia? Apa nggak ngerepotin? Lagian, cuma kalian berdua di mobil? Bunda khawatir, Bi,” ujar Bunda, suaranya penuh perhatian namun tegas.

Bianca sudah menduga pertanyaan ini akan muncul. Ia buru-buru kembali memberi penjelasan, “Nggak cuma berdua, Bun. Ada temennya Sabian juga, cowok, namanya Zaid. Bunda inget nggak, cowok yang Bunda jodohin ke aku kapan hari itu?? Kita bertiga satu kampus!”

Mendengar satu lagi fakta menarik yang baru saja lolos dari bibir Bianca, praktis membuat Bunda mendelik. “Dunia sempit banget?”

Bianca mengangguk antusias. “Jadi kita bertiga, Bun…. Aku janji nggak bakal ngerepotin, kok. Dan, aku pastijaga diri baik-baik,” jelas Bianca panjang lebar, berharap penjelasannya cukup meyakinkan.

Bunda masih tampak ragu. Ia menyandarkan tubuhnya ke sofa, memandang Bianca dengan tatapan yang penuh pertimbangan. “Hmm… Bunda sih tahu keluarga Alin orang baik-baik. Tante Ratu sama Bunda juga sering ngobrol pas jemput anak. Tapi, Bi, kamu tahu kan, perjalanan jauh gitu—berjam-jam di dalam mobil, apalagi sama laki-laki, Bunda tetap khawatir. Sabian mungkin orang baik, tapi Bunda nggak kenal deket sama dia. Terus, temennya yang satu lagi, Zaid itu, kalian nggak canggung emangnya?” ujar Bunda, suaranya lembut tapi penuh kekhawatiran khas seorang ibu.

Bianca mengangguk, memahami kekhawatiran bundanya. Ia tahu bahwa Bunda selalu ekstra hati-hati soal anak-anaknya. “Aku ngerti, Bun. Makanya aku ceritain dulu ke Bunda sebelum mutusin apa-apa. Aku janji bakal jaga diri, kok. Nggak bakal ngapa-ngapain yang bikin Bunda khawatir,” kata Bianca dengan nada serius, matanya menatap Bunda penuh keyakinan.

Kemudian hanya menghela napas panjang yang dapat Bunda lakukan. Ia menatap Bianca dengan ekspresi yang mulai melunak sepenuhnya. “Ya udah, kalau itu emang kemauan kamu, Bunda izinin—Bunda bantu bilang ke Ayah juga. Tapi, Bi, kamu harus janji sama Bunda. Jaga diri baik-baik, jangan sampai ngerepotin Sabian atau temennya. Kalau ada apa-apa, langsung telepon Bunda, kapan pun itu. Bunda nggak peduli jam berapa, pokoknya kabarin kalau ada masalah,” pesan Bunda, suaranya penuh penekanan.

“Iya, Bun, janji! Nanti, selama di perjalanannya, aku bakal kabarin terus. Makasih, ya, Bun, udah kasih izin,” jawab Bianca, wajahnya langsung seumringah.

Namun, tiba-tiba saja, Bunda kembali membuka mulutnya, lalu menambahkan, “Satu lagi, Bi. Meskipun Sabian sama Zaid itu orang baik, dan Bunda kenal keluarganya, kamu tetap harus jaga batasan. Jangan terlalu dekat, apalagi sama laki-laki. Bunda percaya sama kamu, tapi Bunda juga tahu dunia ini nggak selalu baik. Jadi, pokoknya, pesen Bunda, hati-hati!.”

Seketika saja Bianca merasa hangat pada sekujur tubuhnya, berkat perhatian Bunda. “Iya, Bun. Aku nggak bakal lupa pesan Bunda. Aku cuma numpang, kok, nggak lebih. Lagian, aku yakin, Sabian sama Zaid juga bukan tipe orang yang aneh-aneh. Mereka cuma mau bantu aja,” ujarnya, berusaha meyakinkan sekali lagi.

Lagi-lagi Bunda mengangguk, namun kali ini dengan senyum yang lebih lebar. “Ya udah kalau gitu, Bunda tenang.”

Bianca manggut-manggut. Ia tahu betul bahwa pesan-pesan Bunda tadi bukan sekadar omong kosong, melainkan bentuk cinta yang selalu membuatnya merasa aman, meski ia akan bepergian jauh.

Televisi masih menyala. Kini menyiarkan iklan minuman teh dengan musik yang ceria. Bunda kembali menyandarkan tubuhnya ke sofa, meski matanya masih sesekali melirik ke arah Bianca, seolah ingin memastikan bahwa anaknya benar-benar siap untuk perjalanan ini. Di sisi lain, Bianca merasa lega. Izin dari orang tua sudah ia kantongi untuk minggu depan.

Sabian duduk di balik kemudi mobil sedan barunya yang dibelikan oleh sang papa. Kilauan dari kaca dan logamnya memantulkan cahaya matahari sore yang mulai merona jingga. Dalam keheningan, tangannya menari-nari memutar setir ke kanan dan ke kiri, mengikuti arah yang ditunjukan oleh peta digital yang tampil di layar dashboard, yang menuntunnya menuju rumah Zaid. Aroma khas kulit jok mobil yang masih baru, memenuhi dadanya, bercampur dengan perasaan hangat yang membara—kegembiraan yang tak dapat ia sembunyikan.

Sejak meninggalkan halaman rumah, senyum Sabian tak pernah pudar. Apa yang ia inginkan—memiliki mobil ini—menjadi kenyataan. Setiap kali menginjak pedal gas, ia merasakan getaran mesin yang halus, seolah mobil ini hidup dan turut berbagi kebanggaan dengannya.

Sesekali, mata Sabian melirik ke kaca spion belakang, memastikan rambutnya yang ditata dengan hati-hati masih rapi dan on point. Kaos hitam polos yang ia kenakan sengaja dipilih sebab, warna gelap itu membuat kulitnya tampak lebih cerah, sekaligus serasi dengan mobil barunya yang berkilau. Dalam hati, Sabian asyik bergumam, bahwa dirinya terlalu keren. Dan, rasa percaya diri itu seperti aliran listrik yang mengalir di nadinya, membawa serta semangat yang membara.

Di jok penumpang depan, sebuah bantal kecil berwarna merah pekat menarik perhatiannya. Bantal itu, yang dibelinya secara impulsif di sebuah toko, kemarin, terasa seperti keputusan kecil yang sempurna. Ia membayangkan Mama atau Alin bersandar nyaman di sana, tapi pikirannya segera melayang ke Bianca. Bantal itu sengaja ia siapkan untuk para perempuan yang sangat, dan mulai penting bagi dirinya—sebuah sentuhan kecil untuk membuatnya merasa istimewa. Setiap kali melirik bantal itu, Sabian tak bisa menahan senyum—ada kehangatan di dadanya, campuran antara antisipasi dan harapan yang sulit dijelaskan.

Saat rumah Zaid muncul di ujung jalan, siluetnya diterangi cahaya senja yang lembut, Sabian merasakan gelitik kegembiraan nakal di hatinya. Ia melihat Zaid berdiri di depan gerbang, tubuhnya tinggi ramping dengan kaos hitam yang serasi dengan gaya Sabian, dipadukan dengan celana jeans robek di kedua lututnya yang memberi kesan santai namun penuh karakter.

Dari kejauhan, Zaid tampak asyik menggulir ponselnya, alisnya sedikit berkerut, dan wajahnya serius seolah tenggelam dalam dunia digital.

Sabian yang melihat itu, tak mampu menahan dorongan untuk menggoda sahabatnya. Lantas, dengan senyum culas yang merekah di wajahnya, ia menekan klakson—TINN! TINN!—dan suara nyaring itu memecah keheningan sore seperti petir kecil.

Zaid melonjak kaget, ponselnya hampir terlepas dari tangan, dan wajahnya memerah karena campuran kaget dan kesal. “COK! BAJHINGAN!” pekiknya, matanya menyipit menatap Sabian yang sudah menyeringai lebar di balik kaca mobil.

Angin sore yang kini bertiup lebih kencang membawa aroma tanah dan debu halus, menyapu wajah Sabian tatkala ia menurunkan kaca jendela di sisi pengemudi. “Hai, miskin!” sapa Sabian pada Zaid. Nada suaranya penuh canda, melanjutkan ritual persahabatan mereka yang penuh ejekan ringan namun sarat keakraban.

Namun, alih-alih membalas sapaan Sabian, Zaid justru memutar matanya dengan dramatis, mendecih pelan sambil mendekati mobil dengan langkah santai. Tangannya tampak menyentuh kap mesin yang masih hangat, jari-jarinya mengelus permukaan mengilap itu dengan ekspresi pura-pura jijik.

“Najis,” cetusnya, sembari meneliti velg yang memantulkan cahaya senja seperti cermin.

“Buruan naik! Bianca udah nungguin,” timpal Sabian, nyaris hilang kesabaran.

Sabian dan Zaid sudah berteman sejak kecil, sebuah ikatan yang terasa lebih dalam dari sekadar persahabatan. Bagi Sabian, Zaid adalah keluarga, sekaligus seseorang yang tahu setiap celah dan rahasia Sabian, termasuk perasaannya untuk Bianca. Memperkenalkan Bianca kepada Zaid adalah momen yang sudah lama ia nantikan, seperti membuka babak baru dalam hidupnya. Ada kegembiraan yang bercampur dengan sedikit kecemasan di hati Sabian—ia ingin sekali Zaid dan Bianca dapat saling akrab satu sama lain, sebab ia benar-benar berniat membawa Bianca masuk ke dalam hidupnya.

Zaid segera membuka pintu depan, seakan berniat duduk di samping Sabian. Akan tetapi, baru saja pintu terbuka, Sabian kembali membunyikan klakson—TINN!—membuat Zaid memekik dan menghentikan gerakannya seketika. “Apaan sih!? Belagu banget, anjing… ngomong pake mulut, bukan pake klakson!” protesnya, wajahnya memerah karena kesal, tapi ada tawa kecil di sudut bibirnya.

“Tempat duduk lo di belakang.”

Detik itu juga Zaid membelalakkan mata, seakan tak percaya. “Belakang!?” nadanya penuh penolakan.

“Iya, depan buat Bianca…,” jawab Sabian dengan senyum lebar.

Lantas, Zaid hanya dapat mendengkus kesal, gerakannya berlebihan saat ia kembali menutup pintu depan dan berpindah ke belakang. “Oke, Pir… Supir, bawa mobilnya pelan-pelan!” katanya sambil melemparkan tubuhnya ke kursi belakang dengan gerakan serampangan, seolah ia adalah penumpang VIP yang sedang kesal. Namun, di balik sikapnya yang pura-pura merajuk, ada kilau keakraban di matanya.

Sabian tertawa, suaranya menggema di kabin mobil. Tawa itu bukan hanya karena tingkah Zaid, tapi juga karena kelegaan yang ia rasakan—persahabatan mereka adalah zona nyaman yang tak akan pernah pudar.

“Bisa-bisanya lo begitu? Tapi, tenang aja, nanti lo dapet jatah duduk di depan—pas Bianca pulang,” kata Sabian, nada suaranya penuh ejekan namun hangat. Zaid hanya mendengkus, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

Tak lama kemudian, perjalanan menuju rumah Bianca diiringi suara mesin mobil yang halus, seperti dengungan lembut yang menenangkan. Aroma biji kopi Bali dari pengharum mobil ini mengisi kabin, bercampur dengan udara sejuk yang berasal dari mesin pendingin udara. Cahaya senja yang kini mulai memudar meninggalkan semburat oranye di ufuk Barat, menciptakan suasana yang hangat namun sedikit melankolis.

Zaid, dari kursi belakang, sesekali melontarkan komentar tentang mobil Sabian. “Mobil lo bagus, tapi baunya kayak mobil orang tua,” katanya sambil mengendus udara, wajahnya dibuat-buat jijik, tapi ada tawa kecil di ujung kalimat itu, seakan-akan tengah mengkhianati niatnya untuk serius.

Sabian hanya mengangguk remeh, senyumnya tetap terukir. “Iri bilang, Bos!” timpalnya, suaranya penuh percaya diri.

“Dih?” Zaid mendecih, namun detik kemudian ia menggenggam erat bahu Sabian. “Iri bangettttt!” timpalnya.

“Gue tuh, sebenernya belum sempet milih pengharum mobil. Jadi, yang dari mobil Bokap, gue pindahin ke sini,” jelas Sabian, nada suaranya santai.

“Astaga… yaudah nanti gue beliin, yang baunya jeruk,” kata Zaid.

“Nggak usah, Id. Kalo bau jeruk, mah, lo pake aja sendiri. Gantung di idung lo!”

“Sialan!” Tepat usai Zaid memekik kesal, tawa mereka berdua meledak, mengisi kabin dengan kehangatan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Langit sudah sepenuhnya gelap, saat mobil Sabian berhenti di depan rumah Bianca. Sabian memarkir mobilnya dengan hati-hati, gerakan setirnya presisi, seolah ingin menunjukkan bahwa ia menguasai kendaraan barunya. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma tanah dari halaman kecil di depan bangunan rumah Bianca.

Dalam keheningan, tiba-tiba saja, Sabian menoleh ke arah Zaid, “Eh, jangan bikin gue malu, Id. Jangan terlalu banyak ngomong kasar nanti,” katanya dengan nada santai, meski di dalam hatinya, Sabian sungguh berharap Zaid dapat menahan lidahnya yang kadang tak terkontrol, karena malam ini terlalu penting untuk dirusak oleh tingkah sahabatnya itu.

“Ya, tenang aja. Demi lo, gue bakal banyak diem hari ini,” jawab Zaid, tapi Sabian hanya mendecih, tahu betul bahwa ‘diam’ bukanlah kosa kata yang ada dalam kamus Zaid, kecuali saat ia tertidur.

Sebelum Sabian sempat membalas, pintu gerbang rumah Bianca terbuka pelan, dan dunia seolah berhenti berputar. Perempuan itu muncul, sembari diterangi lampu taman yang baru menyala, menciptakan siluet lembut di sekelilingnya. Atasan putih polos yang Bianca kenakan memantulkan cahaya, kontras dengan celana kulot bercorak batik yang bergerak anggun tatkala ia melangkah. Rambut panjangnya tergerai, bergoyang lembut diterpa angin malam, dan senyumnya—sederhana namun memikat—membuat jantung Sabian berdetak lebih kencang. Ini adalah kali pertama ia menjemput seorang perempuan tepat di depan rumahnya, jadi maklum jika di dalam dadanya seperti ada badai kecil yang bergemuruh.

Tanpa perlu diberi isyarat, Bianca langsung menghampiri mobil Sabian, langkahnya ringan namun penuh percaya diri. Ia membuka pintu belakang—mungkin mengira Zaid sudah duduk di depan. Akan tetapi, ia justru mendapati Zaid yang tengah bersandar santai di kursi belakang, menyambutnya dengan senyum lebar penuh godaan.

“Hai? Mau duduk sama gue di belakang?” tanya Zaid, nada bercandanya seperti embusan angin yang mengundang tawa.

Bianca tersentak, matanya membelalak sesaat sebelum terkekeh, wajahnya memerah tipis karena kaget. “Kirain gue yang di belakang,” katanya, pura-pura santai sambil kembali menutup pintu belakang dan beralih ke pintu depan.

“Hai!” sapa Sabian, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

“Halo! Keren banget mobil lo,” balas Bianca, suaranya lembut, membawa aroma vanila dan bunga yang ringan dari parfumnya.

Ia duduk di kursi depan dengan anggun, gerakannya alami namun memikat, dan saat ia memasang sabuk pengaman, Sabian mencuri pandang, berharap ia tak terlihat terlalu jelas dalam usahanya membuat Bianca nyaman.

“Nyaman, nggak?” tanya Sabian, seraya melirik bantal merah yang kini menopang leher Bianca, jantungnya berdetak lebih kencang menanti jawaban dari perempuan itu.

“Banget, apalagi ada bantalnya,” jawab Bianca, senyumnya melebar.

“Padahal itu gue pilih random di e-commerce,” kata Sabian, berusaha terdengar santai meski pipinya terasa hangat.

“Seriously?” tanya Bianca, memastikan.

Sebelum Sabian bisa menjawab, Zaid menyela dari belakang, “Boong, itu bantal dia pilih dengan cermat, cuma buat penumpang VIP. Buktinya, itu cuman ada satu di dalem mobil ini.”

Mendengar itu, Bianca lantas saja menoleh, matanya berbinar nakal. “Oh iya, di tempat lo nggak ada.”

“Boro-boro dikasih bantal, gue ada di sini aja cuma sebagai topping kalian!” keluh Zaid, suaranya penuh drama, tapi tawa kecil di ujung kalimatnya menunjukkan bahwa ia menikmati peran sebagai ‘Korban Sabian’.

“Ngoceh aja lo, kayak beo!” Sabian terkekeh. Diam-diam ia merasakan kelegaan yang hangat—Zaid, dengan caranya yang khas, telah mencairkan suasana yang tadinya ia pikir akan sedikit kaku karena kehadiran Bianca.

“Eh, boleh play musik dari gue, nggak?” tanya Bianca tiba-tiba, saat mobil itu mulai melaju meninggalkan rumahnya.

Sabian langsung mengangguk, sebelum akhirnya berdeham untuk menutupi kegugupan yang tengah ia rasakan. Setiap hari, semakin dekat dengan Bianca—Sabian hanya tak merasa jatuh cinta semudah ini sebelumnya.

“Bi, speaker mobil lo mau diperawanin sama playlistnya Bianca, dan lo pasrah?!” pekik Zaid, tiba-tiba. Suaranya penuh semangat, seolah ingin memecah ketenangan yang baru saja tercipta.

Mendengar langsung pertanyaan Zaid pada Sabian, sontak membuat Bianca menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak dramatis. “Eh?? Emangnya gue orang pertama?” tanyanya, nadanya penuh kecemasan yang sengaja dibuat-buat.

Zaid mengangguk antusias, sementara Sabian praktis memutar bola matanya dengan malas, meski sudut bibirnya naik, menahan tawa.

“Wah?? Nggak apa-apa nih, Masabi?”

“Nggak apa-apa, Bi.” Sabian menatap, seraya tersenyum hangat ke arah Bianca.

“Serius, ini jadi pencapaian terbesar gue di awal tahun,” cetus Bianca, sembari melirik ke belakang dengan senyum nakal yang membuat Zaid mengacungkan jempol penuh kekaguman tanpa sepengetahuan Sabian yang kini hanya terkekeh di balik kemudi.

Tanpa bersuara, Sabian menunjukkan tombol untuk menghubungkan perangkat. Dan, dalam hitungan detik, lagu dengan ritme ringan mengalir dari speaker mobil, membawa suasana malam yang semakin gelap menjadi lebih hangat dan akrab. Melodi lembut dengan denting piano dan alunan vokal yang manis seolah memeluk kabin mobil, menciptakan gelembung kecil kehangatan di tengah gemerlap lampu kota yang mulai menyala di luar.

Sabian dapat merasakan detak jantungnya sedikit melambat, lega bahwa Bianca tampak nyaman, sementara Zaid di belakang sesekali bersenandung pelan, seolah tak ingin kalah menikmati momen.

Di luar, lampu-lampu kota mulai berkilau, menciptakan refleksi warna-warni di kaca mobil yang melaju pelan di jalanan yang sedikit ramai. Sabian diam-diam mencuri pandang ke arah Bianca, yang tengah memilih lagu berikutnya. Cahaya dari layar ponsel menyinari wajahnya, menonjolkan lekuk lembut pipinya dan kilau di matanya. Ada perasaan hangat yang menggelitik di dada Sabian—campuran antara kekaguman dan kegugupan yang membuatnya ingin terus berada di momen itu.

Perjalanan mereka memang sedikit memakan waktu, sebab tempat yang dituju sama sekali belum ditentukan. Sabian sempat mengusulkan sebuah kafe yang pernah ia kunjungi bersama Bianca, tempat di mana mereka menjadi semakin dekat dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbincang dan semakin mengenal satu sama lain. Ingatan itu secara teknis membawa senyum kecil ke wajah Sabian tatkala mengatakannya, namun Zaid dengan cepat menolak. Maklum, sudah terlalu sering bagi dirinya duduk di sebuah kafe, dan kebetulan nama kafe yang Sabian sebutkan cukup familier untuknya.

Mendapat penolakan demikian, terang saja membuat Sabian mendengkus, dan tak lama kemudian mobil itu dipenuhi dengan perdebatan sengit antara keduanya, suara mereka saling tumpang tindih, membuat riuh suasana.

Untung saja, Bianca ada di sana untuk menengahi. Dengan gerakan cepat, ia memutar tubuhnya hingga hampir menghadap belakang, matanya berbinar penuh semangat. “Sushi aja, yuk!” serunya. Suara nyaringnya lantas memecah ketegangan. Ia menatap Sabian dan Zaid secara bergantian, sebelum akhirnya menularkan senyuman lebar dari bibirnya. “Kalian berdua pasti suka sushi, kan?” tanyanya memastikan, nada suaranya penuh keyakinan, seolah ia sudah membaca pikiran mereka.

Kemudian, Zaid mengangguk antusias, matanya menyala. “Tau dari mana?” tanyanya, setengah bercanda.

“Feeling aja, sih. Sabian suka, jadi mungkin lo juga suka—karena kalian selalu bareng,” jawab Bianca, penuh perhatian.

Mendengar itu, Sabian tersenyum dalam hati, tersentuh oleh kepekaan Bianca terhadap ikatan persahabatannya dengan Zaid.

“Kita ini bukan selalu bareng, tapi dia selalu ngikutin gue…,” timpal Zaid, raut wajahnya seakan tak terima.

“Loh…,” alis Bianca sedikit terangkat. “Bukannya lo yang selalu ngikutin Sabian? Buktinya hari ini lo ada di mobil dia.”

Mendengar bagaimana Bianca membalas perkataan Zaid, terang saja Sabian tak bisa menahan tawa, suaranya meledak di kabin mobil, menggema bersama denting lagu yang masih mengudara pelan. Zaid terdiam sejenak, wajahnya memerah karena kalah adu argumen, dan untuk pertama kalinya, ia kehabisan kata. Sementara Bianca, dengan senyum nakalnya, baru saja membuktikan bahwa ia bukan hanya cocok menjadi teman, tapi juga lawan yang sepadan untuk Zaid.

Meski baru saja mendengkus, dan pura-pura kesal, sudut bibir Zaid tetap naik ke atas, menunjukkan bahwa ia menikmati kekalahan itu. “Gue ini disamper! Gue diajakin!” pekiknya.

“Iya… iya…,” kata Bianca, mengalah dengan tawa kecil, lalu kembali menatap ke depan.

Dalam keheningan yang mulai melanda, mata Bianca tertuju pada lampu-lampu kota yang berkilau di balik kaca mobil. “Biasanya gue cuma bisa fokus ke jalan karena nyupirin Bunda atau Cica. Di circle pertemanan gue pun, gue selalu jadi supir karena kata mereka, gue yang paling cepet kalo bawa mobil. Jarang-jarang bisa duduk di bangku penumpang kayak gini sambil liatin objek selain aspal sama kendaraan di depan, kecuali perginya sama Ayah,” katanya, suaranya lembut, membawa sedikit kesedihan tanpa ia sadari.

“Ehm, kebalikannya Bian, tuh!” sela Zaid, nadanya penuh ejekan. “Dia selalu jadi penumpang, kecuali di motor. Iya, kan, Bi?”

Alih-alih menjawab, Sabian justru mendengkus, tapi di dalam hati, ia mengakui kebenaran dari perkataan Zaid. Biasanya, ia memang sering menjadi penumpang, tapi mendengar pengakuan Bianca membuatnya merasa tersengat—seakan ada bara kecil yang menyala dalam dadanya. Bara yang lebih mirip dengan sebuah tekad. “Mulai hari ini, kapanpun lo ngerasa pengen jadi penumpang—just let me know, Bi,” katanya, suaranya penuh keyakinan. Ia menoleh sekilas ke Bianca, matanya bertemu dengan mata perempuan itu, meski hanya sepersekian detik, namun itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Kontan saja pernyataan itu membuat Bianca tertegun, pipinya tampak memerah tipis, lalu ia seperti pura-pura berdeham untuk menutupi kegugupannya. “Ehm, oke, setelah bilang, terus apa?”

“Terus ya bakal dijemput sama dia lah!” Di belakang, Zaid memicingkan mata, berbanding terbalik dengan Bianca yang tengah tersenyum—sudut bibirnya turun, membentuk ekspresi jengah yang tampak sengaja ia buat-buat. “Engap banget ni mobil, bikin dada gue sesek!”


Tak butuh waktu lama bagi Sabian untuk membawa mobilnya ke sebuah mal besar di pusat kota. Lampu-lampu neon di gedung-gedung tinggi mengantar mereka, sampai memasuki area parkir mal.

Sabian memarkirkan mobilnya dengan penuh percaya diri, memutar setir dengan gerakan yang sedikit dibesar-besarkan, seolah ingin memamerkan keahliannya.

Kemudian, saat mobil itu akhirnya terparkir sempurna, Zaid dan Bianca kompak berseru, “Wooo!” seperti penonton di acara balapan mobil.

“Sat set banget parkirnya…,” puji Bianca, terdengar spontan.

“Iya, kayak yang udah lama punya mobil,” timpal Zaid, kali ini nadanya setengah bercanda.

“Biasa aja, lah, kalian jangan norak,” kata Sabian. Kendati begitu, sudut bibirnya naik, menunjukkan bahwa pujian yang sempat Zaid dan Bianca lontarkan itu sukses membuatnya senang bukan main. “Ayo turun!” ajaknya, seraya membuka pintu mobil dengan semangat.

Udara yang sedikit pengap di area parkir menyambut mereka, bercampur dengan aroma kue yang menggoda dari arah pintu masuk mal yang membuat perut Sabian tiba-tiba keroncongan—seolah setuju dengan saran Bianca untuk sekalian makan malam saja.

Di dalam mal, suasana ramai namun tetap nyaman mengelilingi ketiganya. Langkah orang-orang bercampur dengan tawa anak-anak yang bersemangat. Ada musik latar yang mengalun lembut dari speaker yang tak terlihat, menciptakan suasana yang hidup namun tidak bising.

Sabian berjalan di samping Bianca, langkah mereka selaras, seolah tak ingin ada jarak di antaranya. Cukup intens bagi mereka berbincang tentang hal-hal ringan, seperti; menu sushi favorit, film yang baru tayang—dan setiap kali Bianca tertawa, Sabian merasakan getaran kecil di hatinya. Bianca sesekali menutup mulutnya saat tertawa, ia jelas mencoba menyembunyikan kegugupannya, tapi matanya yang berbinar tak dapat berbohong—ia juga menikmati momen ini.

Sementara itu, Zaid, dengan semangat empat limanya, memimpin jalan dengan langkah lebar-lebar, seolah ia adalah seorang pemandu tur yang sedang memamerkan wilayahnya.

“Maaf ya, kalo lo liat Zaid agak overactive, dan bikin risih,” bisik Sabian ke Bianca, nadanya penuh perhatian.

Lantas, Bianca menggeleng cepat, seraya tersenyum lebar. “Gue sering ketemu sama orang yang tingkahnya jauh lebih banyak dari temen lo itu,” jawabnya, jari telunjuknya menunjuk Zaid yang kini berhenti di depan eskalator—sibuk mengamati papan iklan dengan wajah serius.

“Sering?” tanya Sabian, alisnya terangkat, nadanya penuh rasa ingin tahu yang dibumbui sedikit cemburu.

“Kok gitu ekspresinya?”

“Cowok kenalan lo ada banyak, ya?”

“Kenalan gue banyak, tapi yang confess langsung mau deketin gue cuman satu,” jawab Bianca, suaranya ringan tapi penuh makna.

Dan, detik itu juga, kaki Sabian hampir tersandung saat mereka melangkah keluar dari eskalator. “Gue, ya?” tanyanya memastikan. Suaranya sedikit bergetar karena campuran harapan dan kegugupan.

“Iya,” jawab Bianca cepat.

“Nggak ada lagi?” tanya Sabian lagi, namun kali ini nadanya penuh godaan.

“Eng—ada, tapi, nggak masuk itungan,” kata Bianca, matanya berbinar nakal.

“Kenapa?” tanya Sabian, kini benar-benar penasaran.

“Cica bilang, dia cuman ngerasa cocok dan suka sama lo,” jawab Bianca, dan tawa kecil Sabian langsung mengudara, bercampur dengan hiruk-pikuk pengunjung mal.

“Alin juga sama. Cuman cocok sama mbaknya Cica, katanya.”

“Serius?!” tanya Bianca, memastikan.

“Iya,” jawab Sabian.

“Kalo Acat?”

“Acat masih fifty-fifty.”

“Kalo Zaid?” tanya Bianca, nadanya penuh ejekan ringan.

“Bi, nggak semua orang yang suka ngikutin gue itu adik gue!” protes Sabian, tapi tawanya pecah, membuat Bianca ikut tertawa.

Bianca lantas melirik Zaid, yang kini tengah mematung di depan pintu masuk sebuah restoran sushi dengan wajah sumringah, seperti anak kecil yang tengah melihat tempat bermain, di hadapannya. “Gue bahkan liat dia sekarang kayak adik lo yang paling bungsu…,” kata Bianca, nadanya sedikit lebih serius.

Mendengar perkataan Bianca, dan melihat bagaimana gestur Zaid, Sabian terang saja langsung menyentuh kepalanya dengan frustrasi, tapi di dalam hati, ia sedikit setuju dengan pernyataan perempuan di sisinya itu. Zaid memang kadang seperti adik kecil yang cerewet, tapi juga beban yang ia pikul dengan senang hati.

“Bukannya menurut lo juga gitu?” tanya Bianca, matanya menyipit, seolah menekan Sabian untuk mengakuinya.

Sabian berdecak. “Kenapa, ya, rasanya lo kayak udah sekenal itu sama Zaid?” tanyanya, nada suaranya penuh kekaguman.

“Berarti bagus apa enggak?” tanya Bianca, tersenyum lebar.

“Bagus…,” jawab Sabian, dan di dalam hatinya, ia merasa lega—Bianca dan Zaid tampaknya akan sangat cocok, dan itu adalah kemenangan kecil baginya.

“Eh, gue bilangin ya, pacarannya nanti lagi aja! Perut gue udah tung tung sahur!” teriak Zaid dari depan restoran, suaranya lantang memecah momen manis mereka. Sabian dan Bianca saling pandang, lalu terkekeh bersamaan, langkah mereka semakin cepat menuju pintu restoran.


Tatkala ketiganya melangkah masuk ke restoran sushi tersebut—aroma nasi hangat, shoyu, dan ikan segar langsung menyapa indera penciuman Sabian—membuat perutnya semakin riuh.

Lampu gantung dengan cahaya kuning lembut tampak eksis di atas kepala mereka, menciptakan suasana intim yang kontras dengan hiruk-pikuk mal, di luar restoran tersebut.

Sabian memilih meja di sudut ruangan, mengikuti sorot mata Bianca yang menginginkan hal itu. Dan, tatkala mereka mendaratkan diri pada tiap-tiap kursinya, Sabian kontan merasakan ketenangan yang aneh—seperti berada di sebuah pulau kecil di tengah lautan manusia, berkat eksistensi Bianca serta Zaid kali ini.

Tak lama kemudian, pelayan datang menghampiri, pertanda tiba waktunya bagi mereka untuk memesan.

Sabian dengan penuh perhatian dan rasa percaya diri, bergerak menunjukkan daftar menu yang ada di layar ponselnya kepada Bianca lebih dulu. Maklum, ia tengah berusaha menjadi laki-laki yang peka bagi perempuan itu.

Akan tetapi, niat baik Sabian begitu cepat digagalkan oleh Bianca dengan cara mengoper ponsel Sabian kepada Zaid. “Oi, lo duluan deh, kayaknya lo laper banget,” kata Bianca, senyumnya lebar dan tulus, serta matanya berbinar hangat kala menatap Zaid

Zaid yang tampaknya terkejut akan aksi spontan Bianca barusan, praktis terkekeh, “Anjing??! Bi? Nggak apa-apa ini, Bi!?” serunya pada Sabian, meski matanya penuh rasa terima kasih.

Walau sempat dibuat sedikit bingung, Sabian hanya menaikkan kedua alisnya. Pada kenyataannya, dalam hati, kini ia merasa hangat—lega bahwa Bianca begitu cepat akrab dengan Zaid, seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

“Buruan!” cetus Bianca, nadanya menginterupsi tanpa segan.

“Yaudah, kalo lo berdua maksa,” balas Zaid yang kemudian mulai menggulir daftar menu pada layar ponsel Sabian dengan wajah serius.

Satu per satu dari mereka, usai membuat pesanan. Lalu, sembari menunggu pesanan datang, perbincangan ringan mulai mengalir, seperti air di sungai kecil—humor alami, dan penuh keakraban. Sabian merasakan kehangatan yang semakin nyata di antara mereka, seolah mereka sudah berteman selama bertahun-tahun.

Di tengah percakapan santai itu, Sabian tiba-tiba mengeluarkan sebuah casing ponsel dari saku jaketnya dan menyerahkan benda itu kembali, kepada pemiliknya—Bianca.

“Bi, ini…,” kata Sabian, suaranya sedikit ragu, jantungnya berdetak kencang menanti reaksi sang empunya.

Tak lama kemudian Bianca meraih casing itu, matanya berbinar, dan ia tersenyum lebar, lalu melirik ke Zaid secepat kilat tanpa sepengetahuan Sabian.

“Nah! Berhubung HP lo udah telanjang lagi, nih, pake!” seru Zaid, seraya menyerahkan casing yang baru saja ia keluarkan dari tas selempangnya pada Sabian. “Yang waktu itu, nggak gue cancel pesenannya,” sambung Zaid, nadanya penuh kebanggaan.

“Itu Zaid yang beli?” tanya Bianca, dengan wajahnya polos.

Sabian mengangguk, mengambil casing itu dengan senyum kecil.

“Bagus, nggak?” tanya Zaid ke Bianca.

“Bagus,” jawab Bianca singkat, tapi di dalam hatinya, ia merasa tersentuh melihat ikatan mereka. Ia tahu Sabian dan Zaid seperti dua sisi koin—tak terpisahkan, dan ia ingin menjadi bagian dari dunia mereka tanpa mengganggu keseimbangan itu.

Dalam diam, Bianca bertekad untuk menjadi teman yang baik bagi Zaid, seperti Sabian. Ia tahu persahabatan laki-laki kadang rumit, dan ia tak ingin kehadirannya menjadi penghalang.

Akan tetapi, Sabian sudah lebih dulu memikirkan hal serupa. Sembari tersenyum hangat hingga kedua matanya menyipit, Sabian berkata, “Id, pesen satu lagi, bisa? Bianca kayaknya mau diajak.”

Zaid praktis mengernyit, “Bisa aja. Berarti yang versi cewek, ya?” tanyanya, memastikan.

Mendengar itu, Bianca kontan menggeleng cepat, pipinya memerah. “Eh, gue nggak usah, biar kalian aja. Selain sayang duitnya, gue kan… orang baru di antara kalian. Bukan siapa-siapa di persahabatan kentel kalian,” katanya lirih, nadanya penuh kerendahan hati.

“Ngapain sayang sama duit?” sahut Zaid spontan, dan Sabian mengangguk setuju.

“Iya. Dan, Zaid kayaknya nggak setuju sama pernyataan lo tentang bukan siapa-siapa. Ya, kan, Id?” sambung Sabian, didukung ekspresi dramatis Zaid yang seolah berkata, ‘Lo itu udah jadi bagian dari kita.’

Dengan begitu dramatis, Bianca menutup bibirnya dengan tangan, matanya membulat dan seakan berkaca-kaca karena terharu. “Aaaa… so sweet!” serunya, suaranya gemetar.

“Najis!” balas Zaid, bergidik ngeri sambil terkekeh, mencairkan momen emosional itu dengan caranya yang khas.

Satu per satu hidangan mulai berdatangan. Gelas-gelas minuman dingin berkilau dengan embun, dan piring-piring sushi yang penuh warna kini tersusun rapi di atas meja, menggoda selera. Aroma shoyu dan wasabi semakin menguar di udara, bercampur dengan denting lembut sumpit yang menyentuh piring—berasal dari aktivitas Zaid yang tengah melarutkan bubuk cabai dengan shoyu.

Begitu alami, Sabian dan Bianca tanpa sadar saling menawarkan potongan sushi, dengan gestur penuh perhatian.

“Bi, coba ini, tuna-nya enak banget,” kata Sabian, menyodorkan sepotong ikan tuna menggunakan sumpit di tangannya. Mata Sabian penuh harap, jantungnya berdegup kencang.

“Kita nggak pesen ini ya waktu itu?” tanya Bianca, matanya menyusuri ingatan.

“Enggak, waktu itu pesen yang lain,” jawab Sabian.

“Kacau banget. Besok-besok kalo ke sini lagi, harus pesen menu ini!” kata Bianca, nadanya penuh semangat.

“Ke sini terus, emangnya nggak bosen?” tanya Sabian, menggoda.

“Enggak.”

“Menu yang sama, bareng orang yang sama—nggak bosen?” tanya Sabian lagi, nadanya penuh harapan. Sementara, Bianca yang mendapat pertanyaan itu hanya tersenyum, pipinya memerah—membuat Sabian merasakan dadanya dipenuhi kupu-kupu.

Zaid, yang semula tengah fokus menyantap sushi, tiba-tiba saja mendecih pelan. “Teruss, terussss! Gue obrak-abrik juga nih meja sushi!” katanya, nadanya dramatis, tapi senyum kecil di wajahnya menunjukkan bahwa ia menikmati momen ini.

Mengerti, dan tak ingin Zaid merasa tersisih, refleks membuat Sabian menyodorkan sepotong sushi ke arahnya. “Nggak usah iri. Nih, gue kasih juga,” katanya.

Detik kemudian, Bianca ikut melakukan hal yang sama. “Lo harus cobain yang ini, nggak kalah enak!” katanya, matanya berbinar serta tulus tatkala menatap Zaid.

“Sial…,” gumam Zaid, wajahnya memerah.

“Why?” tanya Bianca, alisnya terangkat.

“Gue udah kayak anak kalian berdua,” keluh Zaid, nadanya penuh kekesalan dan drama.

Lantas tawa mereka bertiga pecah, menggema di restoran, menarik perhatian beberapa pengunjung, tapi mereka tak peduli—malam ini adalah milik mereka, penuh kehangatan, canda, dan ikatan yang semakin erat.

Sabian duduk di balik kemudi mobil sedan barunya yang dibelikan oleh sang papa. Kilauan dari kaca dan logamnya memantulkan cahaya matahari sore yang mulai merona jingga. Dalam keheningan, tangannya menari-nari memutar setir ke kanan dan ke kiri, mengikuti arah yang ditunjukan oleh peta digital yang tampil di layar dashboard, yang menuntunnya menuju rumah Zaid. Aroma khas kulit jok mobil yang masih baru, memenuhi dadanya, bercampur dengan perasaan hangat yang membara—kegembiraan yang tak dapat ia sembunyikan.

Sejak meninggalkan halaman rumah, senyum Sabian tak pernah pudar. Apa yang ia inginkan—memiliki mobil ini—menjadi kenyataan. Setiap kali menginjak pedal gas, ia merasakan getaran mesin yang halus, seolah mobil ini hidup dan turut berbagi kebanggaan dengannya.

Sesekali, mata Sabian melirik ke kaca spion belakang, memastikan rambutnya yang ditata dengan hati-hati masih rapi dan on point. Kaos hitam polos yang ia kenakan sengaja dipilih sebab, warna gelap itu membuat kulitnya tampak lebih cerah, sekaligus serasi dengan mobil barunya yang berkilau. Dalam hati, Sabian asyik bergumam, bahwa dirinya terlalu keren. Dan, rasa percaya diri itu seperti aliran listrik yang mengalir di nadinya, membawa serta semangat yang membara.

Di jok penumpang depan, sebuah bantal kecil berwarna merah pekat menarik perhatiannya. Bantal itu, yang dibelinya secara impulsif di sebuah toko, kemarin, terasa seperti keputusan kecil yang sempurna. Ia membayangkan Mama atau Alin bersandar nyaman di sana, tapi pikirannya segera melayang ke Bianca. Bantal itu sengaja ia siapkan untuk para perempuan yang sangat, dan mulai penting bagi dirinya—sebuah sentuhan kecil untuk membuatnya merasa istimewa. Setiap kali melirik bantal itu, Sabian tak bisa menahan senyum—ada kehangatan di dadanya, campuran antara antisipasi dan harapan yang sulit dijelaskan.

Saat rumah Zaid muncul di ujung jalan, siluetnya diterangi cahaya senja yang lembut, Sabian merasakan gelitik kegembiraan nakal di hatinya. Ia melihat Zaid berdiri di depan gerbang, tubuhnya tinggi ramping dengan kaos hitam yang serasi dengan gaya Sabian, dipadukan dengan celana jeans robek di kedua lututnya yang memberi kesan santai namun penuh karakter.

Dari kejauhan, Zaid tampak asyik menggulir ponselnya, alisnya sedikit berkerut, dan wajahnya serius seolah tenggelam dalam dunia digital.

Sabian yang melihat itu, tak mampu menahan dorongan untuk menggoda sahabatnya. Lantas, dengan senyum culas yang merekah di wajahnya, ia menekan klakson—TINN! TINN!—dan suara nyaring itu memecah keheningan sore seperti petir kecil.

Zaid melonjak kaget, ponselnya hampir terlepas dari tangan, dan wajahnya memerah karena campuran kaget dan kesal. “COK! BAJHINGAN!” pekiknya, matanya menyipit menatap Sabian yang sudah menyeringai lebar di balik kaca mobil.

Angin sore yang kini bertiup lebih kencang membawa aroma tanah dan debu halus, menyapu wajah Sabian tatkala ia menurunkan kaca jendela di sisi pengemudi. “Hai, miskin!” sapa Sabian pada Zaid. Nada suaranya penuh canda, melanjutkan ritual persahabatan mereka yang penuh ejekan ringan namun sarat keakraban.

Namun, alih-alih membalas sapaan Sabian, Zaid justru memutar matanya dengan dramatis, mendecih pelan sambil mendekati mobil dengan langkah santai. Tangannya tampak menyentuh kap mesin yang masih hangat, jari-jarinya mengelus permukaan mengilap itu dengan ekspresi pura-pura jijik.

“Najis,” cetusnya, sembari meneliti velg yang memantulkan cahaya senja seperti cermin.

“Buruan naik! Bianca udah nungguin,” timpal Sabian, nyaris hilang kesabaran.

Sabian dan Zaid sudah berteman sejak kecil, sebuah ikatan yang terasa lebih dalam dari sekadar persahabatan. Bagi Sabian, Zaid adalah keluarga, sekaligus seseorang yang tahu setiap celah dan rahasia Sabian, termasuk perasaannya untuk Bianca. Memperkenalkan Bianca kepada Zaid adalah momen yang sudah lama ia nantikan, seperti membuka babak baru dalam hidupnya. Ada kegembiraan yang bercampur dengan sedikit kecemasan di hati Sabian—ia ingin sekali Zaid dan Bianca dapat saling akrab satu sama lain, sebab ia benar-benar berniat membawa Bianca masuk ke dalam hidupnya.

Zaid segera membuka pintu depan, seakan berniat duduk di samping Sabian. Akan tetapi, baru saja pintu terbuka, Sabian kembali membunyikan klakson—TINN!—membuat Zaid memekik dan menghentikan gerakannya seketika. “Apaan sih!? Belagu banget, anjing… ngomong pake mulut, bukan pake klakson!” protesnya, wajahnya memerah karena kesal, tapi ada tawa kecil di sudut bibirnya.

“Tempat duduk lo di belakang.”

Detik itu juga Zaid membelalakkan mata, seakan tak percaya. “Belakang!?” nadanya penuh penolakan.

“Iya, depan buat Bianca…,” jawab Sabian dengan senyum lebar.

Lantas, Zaid hanya dapat mendengkus kesal, gerakannya berlebihan saat ia kembali menutup pintu depan dan berpindah ke belakang. “Oke, Pir… Supir, bawa mobilnya pelan-pelan!” katanya sambil melemparkan tubuhnya ke kursi belakang dengan gerakan serampangan, seolah ia adalah penumpang VIP yang sedang kesal. Namun, di balik sikapnya yang pura-pura merajuk, ada kilau keakraban di matanya.

Sabian tertawa, suaranya menggema di kabin mobil. Tawa itu bukan hanya karena tingkah Zaid, tapi juga karena kelegaan yang ia rasakan—persahabatan mereka adalah zona nyaman yang tak akan pernah pudar.

“Bisa-bisanya lo begitu? Tapi, tenang aja, nanti lo dapet jatah duduk di depan—pas Bianca pulang,” kata Sabian, nada suaranya penuh ejekan namun hangat. Zaid hanya mendengkus, menyembunyikan senyum kecil di wajahnya.

Tak lama kemudian, perjalanan menuju rumah Bianca diiringi suara mesin mobil yang halus, seperti dengungan lembut yang menenangkan. Aroma biji kopi Bali dari pengharum mobil ini mengisi kabin, bercampur dengan udara sejuk yang berasal dari mesin pendingin udara. Cahaya senja yang kini mulai memudar meninggalkan semburat oranye di ufuk Barat, menciptakan suasana yang hangat namun sedikit melankolis.

Zaid, dari kursi belakang, sesekali melontarkan komentar tentang mobil Sabian. “Mobil lo bagus, tapi baunya kayak mobil orang tua,” katanya sambil mengendus udara, wajahnya dibuat-buat jijik, tapi ada tawa kecil di ujung kalimat itu, seakan-akan tengah mengkhianati niatnya untuk serius.

Sabian hanya mengangguk remeh, senyumnya tetap terukir. “Iri bilang, Bos!” timpalnya, suaranya penuh percaya diri.

“Dih?” Zaid mendecih, namun detik kemudian ia menggenggam erat bahu Sabian. “Iri bangettttt!” timpalnya.

“Gue tuh, sebenernya belum sempet milih pengharum mobil. Jadi, yang dari mobil Bokap, gue pindahin ke sini,” jelas Sabian, nada suaranya santai.

“Astaga… yaudah nanti gue beliin, yang baunya jeruk,” kata Zaid.

“Nggak usah, Id. Kalo bau jeruk, mah, lo pake aja sendiri. Gantung di idung lo!”

“Sialan!” Tepat usai Zaid memekik kesal, tawa mereka berdua meledak, mengisi kabin dengan kehangatan yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Langit sudah sepenuhnya gelap, saat mobil Sabian berhenti di depan rumah Bianca. Sabian memarkir mobilnya dengan hati-hati, gerakan setirnya presisi, seolah ingin menunjukkan bahwa ia menguasai kendaraan barunya. Udara malam terasa sejuk, membawa aroma tanah dari halaman kecil di depan bangunan rumah Bianca.

Dalam keheningan, tiba-tiba saja, Sabian menoleh ke arah Zaid, “Eh, jangan bikin gue malu, Id. Jangan terlalu banyak ngomong kasar nanti,” katanya dengan nada santai, meski di dalam hatinya, Sabian sungguh berharap Zaid dapat menahan lidahnya yang kadang tak terkontrol, karena malam ini terlalu penting untuk dirusak oleh tingkah sahabatnya itu.

“Ya, tenang aja. Demi lo, gue bakal banyak diem hari ini,” jawab Zaid, tapi Sabian hanya mendecih, tahu betul bahwa ‘diam’ bukanlah kosa kata yang ada dalam kamus Zaid, kecuali saat ia tertidur.

Sebelum Sabian sempat membalas, pintu gerbang rumah Bianca terbuka pelan, dan dunia seolah berhenti berputar. Perempuan itu muncul, sembari diterangi lampu taman yang baru menyala, menciptakan siluet lembut di sekelilingnya. Atasan putih polos yang Bianca kenakan memantulkan cahaya, kontras dengan celana kulot bercorak batik yang bergerak anggun tatkala ia melangkah. Rambut panjangnya tergerai, bergoyang lembut diterpa angin malam, dan senyumnya—sederhana namun memikat—membuat jantung Sabian berdetak lebih kencang. Ini adalah kali pertama ia menjemput seorang perempuan tepat di depan rumahnya, jadi maklum jika di dalam dadanya seperti ada badai kecil yang bergemuruh.

Tanpa perlu diberi isyarat, Bianca langsung menghampiri mobil Sabian, langkahnya ringan namun penuh percaya diri. Ia membuka pintu belakang—mungkin mengira Zaid sudah duduk di depan. Akan tetapi, ia justru mendapati Zaid yang tengah bersandar santai di kursi belakang, menyambutnya dengan senyum lebar penuh godaan.

“Hai? Mau duduk sama gue di belakang?” tanya Zaid, nada bercandanya seperti embusan angin yang mengundang tawa.

Bianca tersentak, matanya membelalak sesaat sebelum terkekeh, wajahnya memerah tipis karena kaget. “Kirain gue yang di belakang,” katanya, pura-pura santai sambil kembali menutup pintu belakang dan beralih ke pintu depan.

“Hai!” sapa Sabian, suaranya sedikit lebih tinggi dari biasanya, mencoba menyembunyikan kegugupannya.

“Halo! Keren banget mobil lo,” balas Bianca, suaranya lembut, membawa aroma vanila dan bunga yang ringan dari parfumnya.

Ia duduk di kursi depan dengan anggun, gerakannya alami namun memikat, dan saat ia memasang sabuk pengaman, Sabian mencuri pandang, berharap ia tak terlihat terlalu jelas dalam usahanya membuat Bianca nyaman.

“Nyaman, nggak?” tanya Sabian, seraya melirik bantal merah yang kini menopang leher Bianca, jantungnya berdetak lebih kencang menanti jawaban dari perempuan itu.

“Banget, apalagi ada bantalnya,” jawab Bianca, senyumnya melebar.

“Padahal itu gue pilih random di e-commerce,” kata Sabian, berusaha terdengar santai meski pipinya terasa hangat.

“Seriously?” tanya Bianca, memastikan.

Sebelum Sabian bisa menjawab, Zaid menyela dari belakang, “Boong, itu bantal dia pilih dengan cermat, cuma buat penumpang VIP. Buktinya, itu cuman ada satu di dalem mobil ini.”

Mendengar itu, Bianca lantas saja menoleh, matanya berbinar nakal. “Oh iya, di tempat lo nggak ada.”

“Boro-boro dikasih bantal, gue ada di sini aja cuma sebagai topping kalian!” keluh Zaid, suaranya penuh drama, tapi tawa kecil di ujung kalimatnya menunjukkan bahwa ia menikmati peran sebagai ‘Korban Sabian’.

“Ngoceh aja lo, kayak beo!” Sabian terkekeh. Diam-diam ia merasakan kelegaan yang hangat—Zaid, dengan caranya yang khas, telah mencairkan suasana yang tadinya ia pikir akan sedikit kaku karena kehadiran Bianca.

“Eh, boleh play musik dari gue, nggak?” tanya Bianca tiba-tiba, saat mobil itu mulai melaju meninggalkan rumahnya.

Sabian langsung mengangguk, sebelum akhirnya berdeham untuk menutupi kegugupan yang tengah ia rasakan. Setiap hari, semakin dekat dengan Bianca—Sabian hanya tak merasa jatuh cinta semudah ini sebelumnya.

“Bi, speaker mobil lo mau diperawanin sama playlistnya Bianca, dan lo pasrah?!” pekik Zaid, tiba-tiba. Suaranya penuh semangat, seolah ingin memecah ketenangan yang baru saja tercipta.

Mendengar langsung pertanyaan Zaid pada Sabian, sontak membuat Bianca menutup mulutnya dengan tangan, matanya membelalak dramatis. “Eh?? Emangnya gue orang pertama?” tanyanya, nadanya penuh kecemasan yang sengaja dibuat-buat.

Zaid mengangguk antusias, sementara Sabian praktis memutar bola matanya dengan malas, meski sudut bibirnya naik, menahan tawa.

“Wah?? Nggak apa-apa nih, Masabi?”

“Nggak apa-apa, Bi.” Sabian menatap, seraya tersenyum hangat ke arah Bianca.

“Serius, ini jadi pencapaian terbesar gue di awal tahun,” cetus Bianca, sembari melirik ke belakang dengan senyum nakal yang membuat Zaid mengacungkan jempol penuh kekaguman tanpa sepengetahuan Sabian yang kini hanya terkekeh di balik kemudi.

Tanpa bersuara, Sabian menunjukkan tombol untuk menghubungkan perangkat. Dan, dalam hitungan detik, lagu dengan ritme ringan mengalir dari speaker mobil, membawa suasana malam yang semakin gelap menjadi lebih hangat dan akrab. Melodi lembut dengan denting piano dan alunan vokal yang manis seolah memeluk kabin mobil, menciptakan gelembung kecil kehangatan di tengah gemerlap lampu kota yang mulai menyala di luar.

Sabian dapat merasakan detak jantungnya sedikit melambat, lega bahwa Bianca tampak nyaman, sementara Zaid di belakang sesekali bersenandung pelan, seolah tak ingin kalah menikmati momen.

Di luar, lampu-lampu kota mulai berkilau, menciptakan refleksi warna-warni di kaca mobil yang melaju pelan di jalanan yang sedikit ramai. Sabian diam-diam mencuri pandang ke arah Bianca, yang tengah memilih lagu berikutnya. Cahaya dari layar ponsel menyinari wajahnya, menonjolkan lekuk lembut pipinya dan kilau di matanya. Ada perasaan hangat yang menggelitik di dada Sabian—campuran antara kekaguman dan kegugupan yang membuatnya ingin terus berada di momen itu.

Perjalanan mereka memang sedikit memakan waktu, sebab tempat yang dituju sama sekali belum ditentukan. Sabian sempat mengusulkan sebuah kafe yang pernah ia kunjungi bersama Bianca, tempat di mana mereka menjadi semakin dekat dan menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbincang dan semakin mengenal satu sama lain. Ingatan itu secara teknis membawa senyum kecil ke wajah Sabian tatkala mengatakannya, namun Zaid dengan cepat menolak. Maklum, sudah terlalu sering bagi dirinya duduk di sebuah kafe, dan kebetulan nama kafe yang Sabian sebutkan cukup familier untuknya.

Mendapat penolakan demikian, terang saja membuat Sabian mendengkus, dan tak lama kemudian mobil itu dipenuhi dengan perdebatan sengit antara keduanya, suara mereka saling tumpang tindih, membuat riuh suasana.

Untung saja, Bianca ada di sana untuk menengahi. Dengan gerakan cepat, ia memutar tubuhnya hingga hampir menghadap belakang, matanya berbinar penuh semangat. “Sushi aja, yuk!” serunya. Suara nyaringnya lantas memecah ketegangan. Ia menatap Sabian dan Zaid secara bergantian, sebelum akhirnya menularkan senyuman lebar dari bibirnya. “Kalian berdua pasti suka sushi, kan?” tanyanya memastikan, nada suaranya penuh keyakinan, seolah ia sudah membaca pikiran mereka.

Kemudian, Zaid mengangguk antusias, matanya menyala. “Tau dari mana?” tanyanya, setengah bercanda.

“Feeling aja, sih. Sabian suka, jadi mungkin lo juga suka—karena kalian selalu bareng,” jawab Bianca, penuh perhatian.

Mendengar itu, Sabian tersenyum dalam hati, tersentuh oleh kepekaan Bianca terhadap ikatan persahabatannya dengan Zaid.

“Kita ini bukan selalu bareng, tapi dia selalu ngikutin gue…,” timpal Zaid, raut wajahnya seakan tak terima.

“Loh…,” alis Bianca sedikit terangkat. “Bukannya lo yang selalu ngikutin Sabian? Buktinya hari ini lo ada di mobil dia.”

Mendengar bagaimana Bianca membalas perkataan Zaid, terang saja Sabian tak bisa menahan tawa, suaranya meledak di kabin mobil, menggema bersama denting lagu yang masih mengudara pelan. Zaid terdiam sejenak, wajahnya memerah karena kalah adu argumen, dan untuk pertama kalinya, ia kehabisan kata. Sementara Bianca, dengan senyum nakalnya, baru saja membuktikan bahwa ia bukan hanya cocok menjadi teman, tapi juga lawan yang sepadan untuk Zaid.

Meski baru saja mendengkus, dan pura-pura kesal, sudut bibir Zaid tetap naik ke atas, menunjukkan bahwa ia menikmati kekalahan itu. “Gue ini disamper! Gue diajakin!” pekiknya.

“Iya… iya…,” kata Bianca, mengalah dengan tawa kecil, lalu kembali menatap ke depan.

Dalam keheningan yang mulai melanda, mata Bianca tertuju pada lampu-lampu kota yang berkilau di balik kaca mobil. “Biasanya gue cuma bisa fokus ke jalan karena nyupirin Bunda atau Cica. Di circle pertemanan gue pun, gue selalu jadi supir karena kata mereka, gue yang paling cepet kalo bawa mobil. Jarang-jarang bisa duduk di bangku penumpang kayak gini sambil liatin objek selain aspal sama kendaraan di depan, kecuali perginya sama Ayah,” katanya, suaranya lembut, membawa sedikit kesedihan tanpa ia sadari.

“Ehm, kebalikannya Bian, tuh!” sela Zaid, nadanya penuh ejekan. “Dia selalu jadi penumpang, kecuali di motor. Iya, kan, Bi?”

Alih-alih menjawab, Sabian justru mendengkus, tapi di dalam hati, ia mengakui kebenaran dari perkataan Zaid. Biasanya, ia memang sering menjadi penumpang, tapi mendengar pengakuan Bianca membuatnya merasa tersengat—seakan ada bara kecil yang menyala dalam dadanya. Bara yang lebih mirip dengan sebuah tekad. “Mulai hari ini, kapanpun lo ngerasa pengen jadi penumpang—just let me know, Bi,” katanya, suaranya penuh keyakinan. Ia menoleh sekilas ke Bianca, matanya bertemu dengan mata perempuan itu, meski hanya sepersekian detik, namun itu membuat jantungnya berdegup lebih kencang.

Kontan saja pernyataan itu membuat Bianca tertegun, pipinya tampak memerah tipis, lalu ia seperti pura-pura berdeham untuk menutupi kegugupannya. “Ehm, oke, setelah bilang, terus apa?”

“Terus ya bakal dijemput sama dia lah!” Di belakang, Zaid memicingkan mata, berbanding terbalik dengan Bianca yang tengah tersenyum—sudut bibirnya turun, membentuk ekspresi jengah yang tampak sengaja ia buat-buat. “Engap banget ni mobil, bikin dada gue sesek!”


Tak butuh waktu lama bagi Sabian untuk membawa mobilnya ke sebuah mal besar di pusat kota. Lampu-lampu neon di gedung-gedung tinggi mengantar mereka, sampai memasuki area parkir mal.

Sabian memarkirkan mobilnya dengan penuh percaya diri, memutar setir dengan gerakan yang sedikit dibesar-besarkan, seolah ingin memamerkan keahliannya.

Kemudian, saat mobil itu akhirnya terparkir sempurna, Zaid dan Bianca kompak berseru, “Wooo!” seperti penonton di acara balapan mobil.

“Sat set banget parkirnya…,” puji Bianca, terdengar spontan.

“Iya, kayak yang udah lama punya mobil,” timpal Zaid, kali ini nadanya setengah bercanda.

“Biasa aja, lah, kalian jangan norak,” kata Sabian. Kendati begitu, sudut bibirnya naik, menunjukkan bahwa pujian yang sempat Zaid dan Bianca lontarkan itu sukses membuatnya senang bukan main. “Ayo turun!” ajaknya, seraya membuka pintu mobil dengan semangat.

Udara yang sedikit pengap di area parkir menyambut mereka, bercampur dengan aroma kue yang menggoda dari arah pintu masuk mal yang membuat perut Sabian tiba-tiba keroncongan—seolah setuju dengan saran Bianca untuk sekalian makan malam saja.

Di dalam mal, suasana ramai namun tetap nyaman mengelilingi ketiganya. Langkah orang-orang bercampur dengan tawa anak-anak yang bersemangat. Ada musik latar yang mengalun lembut dari speaker yang tak terlihat, menciptakan suasana yang hidup namun tidak bising.

Sabian berjalan di samping Bianca, langkah mereka selaras, seolah tak ingin ada jarak di antaranya. Cukup intens bagi mereka berbincang tentang hal-hal ringan, seperti; menu sushi favorit, film yang baru tayang—dan setiap kali Bianca tertawa, Sabian merasakan getaran kecil di hatinya. Bianca sesekali menutup mulutnya saat tertawa, ia jelas mencoba menyembunyikan kegugupannya, tapi matanya yang berbinar tak dapat berbohong—ia juga menikmati momen ini.

Sementara itu, Zaid, dengan semangat empat limanya, memimpin jalan dengan langkah lebar-lebar, seolah ia adalah seorang pemandu tur yang sedang memamerkan wilayahnya.

“Maaf ya, kalo lo liat Zaid agak overactive, dan bikin risih,” bisik Sabian ke Bianca, nadanya penuh perhatian.

Lantas, Bianca menggeleng cepat, seraya tersenyum lebar. “Gue sering ketemu sama orang yang tingkahnya jauh lebih banyak dari temen lo itu,” jawabnya, jari telunjuknya menunjuk Zaid yang kini berhenti di depan eskalator—sibuk mengamati papan iklan dengan wajah serius.

“Sering?” tanya Sabian, alisnya terangkat, nadanya penuh rasa ingin tahu yang dibumbui sedikit cemburu.

“Kok gitu ekspresinya?”

“Cowok kenalan lo ada banyak, ya?”

“Kenalan gue banyak, tapi yang confess langsung mau deketin gue cuman satu,” jawab Bianca, suaranya ringan tapi penuh makna.

Dan, detik itu juga, kaki Sabian hampir tersandung saat mereka melangkah keluar dari eskalator. “Gue, ya?” tanyanya memastikan. Suaranya sedikit bergetar karena campuran harapan dan kegugupan.

“Iya,” jawab Bianca cepat.

“Nggak ada lagi?” tanya Sabian lagi, namun kali ini nadanya penuh godaan.

“Eng—ada, tapi, nggak masuk itungan,” kata Bianca, matanya berbinar nakal.

“Kenapa?” tanya Sabian, kini benar-benar penasaran.

“Cica bilang, dia cuman ngerasa cocok dan suka sama lo,” jawab Bianca, dan tawa kecil Sabian langsung mengudara, bercampur dengan hiruk-pikuk pengunjung mal.

“Alin juga sama. Cuman cocok sama mbaknya Cica, katanya.”

“Serius?!” tanya Bianca, memastikan.

“Iya,” jawab Sabian.

“Kalo Acat?”

“Acat masih fifty-fifty.”

“Kalo Zaid?” tanya Bianca, nadanya penuh ejekan ringan.

“Bi, nggak semua orang yang suka ngikutin gue itu adik gue!” protes Sabian, tapi tawanya pecah, membuat Bianca ikut tertawa.

Bianca lantas melirik Zaid, yang kini tengah mematung di depan pintu masuk sebuah restoran sushi dengan wajah sumringah, seperti anak kecil yang tengah melihat tempat bermain, di hadapannya. “Gue bahkan liat dia sekarang kayak adik lo yang paling bungsu…,” kata Bianca, nadanya sedikit lebih serius.

Mendengar perkataan Bianca, dan melihat bagaimana gestur Zaid, Sabian terang saja langsung menyentuh kepalanya dengan frustrasi, tapi di dalam hati, ia sedikit setuju dengan pernyataan perempuan di sisinya itu. Zaid memang kadang seperti adik kecil yang cerewet, tapi juga beban yang ia pikul dengan senang hati.

“Bukannya menurut lo juga gitu?” tanya Bianca, matanya menyipit, seolah menekan Sabian untuk mengakuinya.

Sabian berdecak. “Kenapa, ya, rasanya lo kayak udah sekenal itu sama Zaid?” tanyanya, nada suaranya penuh kekaguman.

“Berarti bagus apa enggak?” tanya Bianca, tersenyum lebar.

“Bagus…,” jawab Sabian, dan di dalam hatinya, ia merasa lega—Bianca dan Zaid tampaknya akan sangat cocok, dan itu adalah kemenangan kecil baginya.

“Eh, gue bilangin ya, pacarannya nanti lagi aja! Perut gue udah tung tung sahur!” teriak Zaid dari depan restoran, suaranya lantang memecah momen manis mereka. Sabian dan Bianca saling pandang, lalu terkekeh bersamaan, langkah mereka semakin cepat menuju pintu restoran.


Tatkala ketiganya melangkah masuk ke restoran sushi tersebut—aroma nasi hangat, shoyu, dan ikan segar langsung menyapa indera penciuman Sabian—membuat perutnya semakin riuh.

Lampu gantung dengan cahaya kuning lembut tampak eksis di atas kepala mereka, menciptakan suasana intim yang kontras dengan hiruk-pikuk mal, di luar restoran tersebut.

Sabian memilih meja di sudut ruangan, mengikuti sorot mata Bianca yang menginginkan hal itu. Dan, tatkala mereka mendaratkan diri pada tiap-tiap kursinya, Sabian kontan merasakan ketenangan yang aneh—seperti berada di sebuah pulau kecil di tengah lautan manusia, berkat eksistensi Bianca serta Zaid kali ini.

Tak lama kemudian, pelayan datang menghampiri, pertanda tiba waktunya bagi mereka untuk memesan.

Sabian dengan penuh perhatian dan rasa percaya diri, bergerak menunjukkan daftar menu yang ada di layar ponselnya kepada Bianca lebih dulu. Maklum, ia tengah berusaha menjadi laki-laki yang peka bagi perempuan itu.

Akan tetapi, niat baik Sabian begitu cepat digagalkan oleh Bianca dengan cara mengoper ponsel Sabian kepada Zaid. “Oi, lo duluan deh, kayaknya lo laper banget,” kata Bianca, senyumnya lebar dan tulus, serta matanya berbinar hangat kala menatap Zaid

Zaid yang tampaknya terkejut akan aksi spontan Bianca barusan, praktis terkekeh, “Anjing??! Bi? Nggak apa-apa ini, Bi!?” serunya pada Sabian, meski matanya penuh rasa terima kasih.

Walau sempat dibuat sedikit bingung, Sabian hanya menaikkan kedua alisnya. Pada kenyataannya, dalam hati, kini ia merasa hangat—lega bahwa Bianca begitu cepat akrab dengan Zaid, seperti potongan puzzle yang akhirnya menemukan tempatnya.

“Buruan!” cetus Bianca, nadanya menginterupsi tanpa segan.

“Yaudah, kalo lo berdua maksa,” balas Zaid yang kemudian mulai menggulir daftar menu pada layar ponsel Sabian dengan wajah serius.

Satu per satu dari mereka, usai membuat pesanan. Lalu, sembari menunggu pesanan datang, perbincangan ringan mulai mengalir, seperti air di sungai kecil—humor alami, dan penuh keakraban. Sabian merasakan kehangatan yang semakin nyata di antara mereka, seolah mereka sudah berteman selama bertahun-tahun.

Di tengah percakapan santai itu, Sabian tiba-tiba mengeluarkan sebuah casing ponsel dari saku jaketnya dan menyerahkan benda itu kembali, kepada pemiliknya—Bianca.

“Bi, ini…,” kata Sabian, suaranya sedikit ragu, jantungnya berdetak kencang menanti reaksi sang empunya.

Tak lama kemudian Bianca meraih casing itu, matanya berbinar, dan ia tersenyum lebar, lalu melirik ke Zaid secepat kilat tanpa sepengetahuan Sabian.

“Nah! Berhubung HP lo udah telanjang lagi, nih, pake!” seru Zaid, seraya menyerahkan casing yang baru saja ia keluarkan dari tas selempangnya pada Sabian. “Yang waktu itu, nggak gue cancel pesenannya,” sambung Zaid, nadanya penuh kebanggaan.

“Itu Zaid yang beli?” tanya Bianca, dengan wajahnya polos.

Sabian mengangguk, mengambil casing itu dengan senyum kecil.

“Bagus, nggak?” tanya Zaid ke Bianca.

“Bagus,” jawab Bianca singkat, tapi di dalam hatinya, ia merasa tersentuh melihat ikatan mereka. Ia tahu Sabian dan Zaid seperti dua sisi koin—tak terpisahkan, dan ia ingin menjadi bagian dari dunia mereka tanpa mengganggu keseimbangan itu.

Dalam diam, Bianca bertekad untuk menjadi teman yang baik bagi Zaid, seperti Sabian. Ia tahu persahabatan laki-laki kadang rumit, dan ia tak ingin kehadirannya menjadi penghalang.

Akan tetapi, Sabian sudah lebih dulu memikirkan hal serupa. Sembari tersenyum hangat hingga kedua matanya menyipit, Sabian berkata, “Id, pesen satu lagi, bisa? Bianca kayaknya mau diajak.”

Zaid praktis mengernyit, “Bisa aja. Berarti yang versi cewek, ya?” tanyanya, memastikan.

Mendengar itu, Bianca kontan menggeleng cepat, pipinya memerah. “Eh, gue nggak usah, biar kalian aja. Selain sayang duitnya, gue kan… orang baru di antara kalian. Bukan siapa-siapa di persahabatan kentel kalian,” katanya lirih, nadanya penuh kerendahan hati.

“Ngapain sayang sama duit?” sahut Zaid spontan, dan Sabian mengangguk setuju.

“Iya. Dan, Zaid kayaknya nggak setuju sama pernyataan lo tentang bukan siapa-siapa. Ya, kan, Id?” sambung Sabian, didukung ekspresi dramatis Zaid yang seolah berkata, ‘Lo itu udah jadi bagian dari kita.’

Dengan begitu dramatis, Bianca menutup bibirnya dengan tangan, matanya membulat dan seakan berkaca-kaca karena terharu. “Aaaa… so sweet!” serunya, suaranya gemetar.

“Najis!” balas Zaid, bergidik ngeri sambil terkekeh, mencairkan momen emosional itu dengan caranya yang khas.

Satu per satu hidangan mulai berdatangan. Gelas-gelas minuman dingin berkilau dengan embun, dan piring-piring sushi yang penuh warna kini tersusun rapi di atas meja, menggoda selera. Aroma shoyu dan wasabi semakin menguar di udara, bercampur dengan denting lembut sumpit yang menyentuh piring—berasal dari aktivitas Zaid yang tengah melarutkan bubuk cabai dengan shoyu.

Begitu alami, Sabian dan Bianca tanpa sadar saling menawarkan potongan sushi, dengan gestur penuh perhatian.

“Bi, coba ini, tuna-nya enak banget,” kata Sabian, menyodorkan sepotong ikan tuna menggunakan sumpit di tangannya. Mata Sabian penuh harap, jantungnya berdegup kencang.

“Kita nggak pesen ini ya waktu itu?” tanya Bianca, matanya menyusuri ingatan.

“Enggak, waktu itu pesen yang lain,” jawab Sabian.

“Kacau banget. Besok-besok kalo ke sini lagi, harus pesen menu ini!” kata Bianca, nadanya penuh semangat.

“Ke sini terus, emangnya nggak bosen?” tanya Sabian, menggoda.

“Enggak.”

“Menu yang sama, bareng orang yang sama—nggak bosen?” tanya Sabian lagi, nadanya penuh harapan. Sementara, Bianca yang mendapat pertanyaan itu hanya tersenyum, pipinya memerah—membuat Sabian merasakan dadanya dipenuhi kupu-kupu.

Zaid, yang semula tengah fokus menyantap sushi, tiba-tiba saja mendecih pelan. “Teruss, terussss! Gue obrak-abrik juga nih meja sushi!” katanya, nadanya dramatis, tapi senyum kecil di wajahnya menunjukkan bahwa ia menikmati momen ini.

Mengerti, dan tak ingin Zaid merasa tersisih, refleks membuat Sabian menyodorkan sepotong sushi ke arahnya. “Nggak usah iri. Nih, gue kasih juga,” katanya.

Detik kemudian, Bianca ikut melakukan hal yang sama. “Lo harus cobain yang ini, nggak kalah enak!” katanya, matanya berbinar serta tulus tatkala menatap Zaid.

“Sial…,” gumam Zaid, wajahnya memerah.

“Why?” tanya Bianca, alisnya terangkat.

“Gue udah kayak anak kalian berdua,” keluh Zaid, nadanya penuh kekesalan dan drama.

Lantas tawa mereka bertiga pecah, menggema di restoran, menarik perhatian beberapa pengunjung, tapi mereka tak peduli—malam ini adalah milik mereka, penuh kehangatan, canda, dan ikatan yang semakin erat.